Tampilkan postingan dengan label love story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Tentang Mencari-Menunggu Pasangan Hidup (yang dari Tuhan)


----Postingan yang panjang----
Obrolan pertama,
Beberapa bulan lalu sepasang suami istri yang konon katanya masih ada ikatan saudara jauh bersilaturahmi ke rumah,
Si istri : “Mbaknya seumuran anak saya ya?udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum.”
Si istri : “Kok belum, ya udah cepetan nyari pacar kan udah umur 26 lebih. Mau punya anak umur berapa?”
Aku : “Karena saya nunggu yang terbaik dari Tuhan.”
Si istri : “Anak saya aja kelamaan nunggu pacarnya langsung saya suruh putus, dan nyari lagi yang bisa cepetan nikahin dia karena udah umur 25 tahun, biar segera punya anak sebelum umur 30an. Jangan milih-milih lho mbak.”
Aku : (dalam hati ngomong: gubrak )
Obrolan kedua,
Di ruangan kerja, temannya temanku datang numpang duduk. Cerita ini itu, dan menyodorkan pertanyaan serupa.
Dia : “Mbak, anaknya udah berapa?”
Aku : “Saya belum menikah mbak.”
Dia : “Ooohhh, terus rencananya kapan mbak nikahnya?”
Aku : “Kapan-kapan.Ntar juga akan datang waktunya.” (jawab sekenanya sambil cengengesan)
Dia : “Wah kok kapan-kapan, sudah menutup hati rapat-rapat mbak ini.” (sambil memandangku dengan tatapan gimana gitu)
Obrolan ketiga,
Seseorang yang dituakan : “Udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum. ”
Seseorang itu : “Lha kamu diem aja, kapan mau dapat pacar. Kalo kamu suka sama seseorang kan nggak apa nelpon dia, sms dia, ngomong kalo kamu suka dia biar dia tau.”
Aku :  “haa?”

Terlalu sering terlibat obrolan dan mendengar komentar seperti yang diatas tadi, dari masa aku stress disodori pertanyaan macam itu hingga nyantai aja seperti sekarang. Ada beberapa kesan yang aku tangkap dari obrolan-obrolan semacam itu.
Buat sebagian orang punya pacar dan menikah itu adalah suatu tuntutan, tuntutan umur dan sistem reproduksi. Jika usiamu sudah menginjak kepala dua, selesai/sedang kuliah atau malah sudah memiliki pekerjaan berarti sudah saatnya punya pacar dan menikah.
Sebagian lagi memandang perempuan yang usianya udah di atas 25 tahun dan masih single itu perlu dikasihani. Kasihan karena nggak ada yang ngelirik dan mereka menangkap kesannya ada rasa frustasi, kasihan karena terlambat menikah dan udah keluar dari standard waktu ideal buat menikah.
Lainnya beranggapan kamu nggak punya pacar karena kamu terlalu pilih-pilih, diem aja nggak mau mencari dengan agresif, jual mahal nggak mau ngejar lelaki yang disukai. *plis deh*
Umumnya orang tidak dapat menerima jika aku berkata kepada mereka, “Saya sedang menunggu yang terbaik yang Tuhan berikan untuk saya.”. Mereka kurang setuju dengan kata “menunggu” sebab banyak orang memang tidak menyukai menunggu sesuatu tanpa kepastian, malah biasanya dikomen balik  : bagaimana jika sudah menunggu tapi malah dapat yang jelek? (istilahnya, pilih-pilih tebu oleh bongkeng ^^). Wajar sih, aku sendiri juga diproses Tuhan di bagian ini sampai hari ini. Buat aku pribadi, selama aku melekat erat padaTUhan aku tidak sedang asal-asalan menunggu gitu loh jadi mengapa aku harus kuatir jangan-jangan dapat/dikasih yang jelek ama Tuhan? kekuatiran seperti itu membuktikan kalo kita nggak sepenuh hati mempercayai Tuhan, padahal DIA adalah Bapa kita yang tahu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya.
“ Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga!Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.” (Matius 7:11)
 Bisa jadi kita mendapatkan yang jelek, seperti yang kita kuatirkan justru karena pikiran kita sendiri. Setiap kata yang keluar dari mulut kita punya kuasa untuk mendatangkan berkat dan kutuk. Ayub pernah berkata juga,
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan , itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3 : 25)
Tuh kan?heheee…
Apa yang sebenernya dicari dan ditunggu? Mencari dan menunggu pasangan hidup agak beda dengan Mencari dan menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan. Kalo sekedar mencari dan menunggu nggak perlu susah payah doain+konsul dengan Tuhan, asal seiman aja cukup, asal dia baik, pengertian,betanggung jawab .. yang seperti itu mungkin lebih mudah dicari. Sementara kalo menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan itu kita sedang meminta yang spesifik kepada Tuhan, perlu didoain serius, dan yang pasti memenuhi standard yang Tuhan harapkan supaya ketika kita sudah masuk dalam pernikahan kita bisa memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup masing-masing, kesalahan dalam memilih bisa jadi merusak tujuan dan rencana Tuhan tersebut. Pernikahan itu dirancangkan Tuhan dengan sebuah tujuan besar bukan sekedar memenuhi siklus kehidupan manusia selama hidup didunia. Pernikahan adalah sesuatu yang harus dihormati, bernilai dan hanya sekali seumur hidup sehingga sudah seharusnya-kan kita memilih yang terbaik dan nggak berusaha menurunkan standard yang sudah Tuhan tetapkan. Standard yang dimaksud bukan soal fisik yang mutlak, misalnya tingginya harus berapa cm nggak kurang atau lebih, harus punya pekerjaan tertentu nggak mau dengan profesi lain…tapi soal standard rohani yang mutlak harus ada, misalnya harus mencintai dan takut akan Tuhan (karena seiman aja itu nggak cukup) dan lain-lain, tiap orang punya kriteria sendiri-sendiri’lah ya yang disodorkan ke Tuhan cuman yang mencintai Tuhan dan takut akan Tuhan itu mutlak harus ada. Sebagai seseorang yang pernah menurunkan standard rohani soal pasangan hidup, aku tahu bagaimana jadinya, ketika dulu merasa sudah nggak punya cukup kesabaran menunggu akhirnya aku berkompromi untuk menurunkan standard rohaninya, nggak apa-apa dia nggak mau ke gereja, nggak berdoa yang penting dia kan masih seiman,ntar pas udah menikah pasti mau diajak ke greja pemikiran yang salah, terlalu banyak kompromi ini itu akhirnya justru semua berantakan dan waktu yang terbuang dalam masa penantian itu jadi lebih banyak. Mengutip kata Mr. Joshua Harris (lagi), bahwa ketika anda mencari pasangan, carilah seseorang yang mau mendengarkan dan bertindak tidak terburu-buru terhadap apa yang Allah katakan padanya.
Aku nulis ini tidak semata-mata aku sudah sempurna dan mencari orang yang sempurna..sama sekali tidak..kehidupan yang kujalani adalah serangkaian proses dimana setiap harinya adalah pembelajaran jatuh bangun, berhasil-gagal untuk menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki.
Yang terakhir, (udah berapa lembar yah tulisanku?!?) hihiii…
Berapa banyak yang menganggap bahwa seorang perempuan bersikap agresif (baca : mengejar laki-laki) itu perlu dan wajar? kayaknya banyak..heheee…dulu aku juga salah satunya alasannya jaman modern-emansipasi wanita *pengakuan* . Apa yang salah dengan mengambil inisiatif duluan?apa yang salah dengan menelpon dan sms untuk menunjukkan perhatian?kalo perempuan nggak melakukan itu gimana si lelaki tahu kalo perempuan tadi tertarik. Semua terdengar normal dan benar kan?.
Mrs. Elisabeth Elliot menasehatkan bahwa, TIDAK ADA hal yang harus dilakukan seorang perempuan agar diperhatikan oleh seorang laki-laki. Jangan menelepon, menulis surat pesan pendek (jaman sekarang jangan sms), apalagi menyatakan perasaan jika kita menyukainya. Yang bisa dilakukan seorang perempuan adalah : menyerahkan semua urusan pada Allah, jika dia adalah pria yang Tuhan sediakan bagimu maka Tuhan tidak akan menahan kebaikanNya, hanya saja Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan. Perempuan itu berharga lebih dari permata so nggak mungkin juga Tuhan dengan sembarangan memberikan kita kepada seorang lelaki.
Trus berarti harus diem aja jadi seperti kepompong gitu? ya nggak juga sih. Bagian kita adalah memberi respon, mempersiapkan diri supaya kelak jadi istri yang cakap sesuai Firman Tuhan, periksalah juga motivasimu ketika kamu menghubungi seseorang apakah hanya untuk mencari perhatian dari seorang lelaki atau tidak, yah kalo emang ada hal yang penting masak akan trus diem. Lagipula dari kisah cinta pertama antara Adam dan hawa jelas bahwa maksud dan tujuan Tuhan menciptakan laki-laki adalah sebagai inisiator, dan perempuan sebagai penolong. Jika kita membalik fungsi itu, yang terjadi adalah kekacauan..jika seorang laki-laki benar-benar mengasihimu dia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu :P. Pasti ada yang mikir, yang ngomong sih gampang tapi prakteknya?Yup aku juga ngalamin kok masa-masa penundukan diri ke Tuhan soal ini dan susaaah, pinginnya melakukan ini itu  seiring waktu aku mulai paham walaupun penundukan diri itu susah namun hasilnya luar biasa, seenggaknya dengan menahan diri nggak ambil inisiatif duluan kita udah menjaga hati kita sendiri dari sakit hati yang nggak perlu. Percaya deh^^.
Ya sudahlah, sekian dulu tulisan kali ini,..
 “Anda tidak pernah menjadi atau menemukan seorang pasangan yang sempurna—kita semua adalah orang-orang berdosa—tetapi hanya orang-orang yang memiliki sikap mau taat terhadap Firman Tuhan lah yang akan terus bertumbuh dalam kedewasaan dan kesalehan di sepanjang kehidupan mereka.”
(dikutip dari I Kissed dating Goodbye)
#apa yang aku tulis disini adalah bagian dari proses pembelajaran pribadi dengan Tuhan yang tidak terjadi dengan instan, semoga bisa menjadi berkat agar kita bisa sama-sama belajar semakin melekat dengan Tuhan.

GBU all ^^

Kamis, 21 Maret 2013

Remember When : Lagu Raisa dan Kisah Masa Lalu


(alasanku ngasih judul remember when karena aku suka banget dengan novel Winna Efendi,yang judulnya itu. Udah baca sampai lima kali dan tetap masuk dalam daftar salah satu novel favoritku—hehee cuma itu sih alasannya)
Mau cerita tentang lagu Raisa-Melangkah
Pertama tahu lagunya dari adhekku yang hobi download memanfaatkan koneksi WIFI kampusnya yang super cepat koneksinya. Dia bilang kalo video klipnya simple tetapi unik, diantara suasana pantai yang sepi dan perpaduan warnanyayang eksotik, plus pernak-pernik yang sengaja dimunculkan disitu..otomatis karena mengamati video klipnya udah tentu mulai menyimak lirik lagunya juga. Makin didengerin makin membawaku terhanyut ke kisah cinta di masa lalu..Hahay..
Waktu masih menjalin hubungan dengan seseorang aku pernah berharap sekaligus mengira dia adalah orang terakhir yang akan menjadi bagian hidupku selamanya (namanya juga sedang jatuh cinta) tapi ternyata nggak kejadian. Pertemuan dengan seseorang (salah satu teman baikku semasa sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama) secara nggak sengaja di jejaring social facebook membuat aku dan dia kembali menjadi dekat sampai memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Kesalahan aku waktu itu adalah aku nggak konsul ke Tuhan, nggak nunggu konfirmasi Tuhan bilang iya atau nggak, pikirku asal bersama seorang yang seiman pasti Tuhan setuju *tepok jidat* . Terjadilah kemudian setelah berjalan setengah tahun lebih, hubungan yang mulanya baik-baik saja tiba-tiba bermasalah sampai  akhirnya aku dan dia mengambil keputusan untuk berpisah. Aku sempat agak ngeyel ke Tuhan (bukan agak sih malah ngeyel banget kayaknya..hahaa) pengen banget balik dengan dia. Pokoknya Tuhan harus membuat kita berdua balikan gitu karena aku cintanya Cuma sama dia, nggak mau orang lain dan nggak bisa kalo harus mencintai orang lain. Titik. Serius aku ngomong gitu ke Tuhan, dengan ekspresi orang depresi gak ketulungan. Wkwkwkw. Dampak dari perpisahan itu aku mulai merasakan kesepian, merasa diriku nggak berharga, nggak dicintai oleh siapapun dan untuk melarikan diri dari kesepian itu aku mulai mengejar-ngejar kesenangan (dalam arti yang masih positif sih). Tiap pulang kerja aku mampir ke rumah untuk makan, ganti baju lalu pergi lagi keluyuran ke mall, ke rumah teman. Nggak sampai pulang larut malam sih, paling jam 8 malam udah dirumah lagi trus langsung masuk kamar, tidur. Gitu trus sampai berapa minggu, puncaknya ada dua kejadian yang membuatku tersadar bahwa aku nggak semestinya bertingkah seperti itu.
Pertama, aku pergi ke mall dengan seorang teman. Aku inget banget sedang menelusuri rak-rak besar di pusat perbelanjaan, di situ rame banget. Temanku sibuk memilih barang belanjaan ini itu, aku terus mengekorinya ditengah keramaian tetapi aku merasa sepertinya tempat itu sepi banget. Semua orang dan barang di sekitarku seperti bergerak dengan cepat kayak di film-film sedangkan aku ada diantaranya tanpa dipedulikan keberadaanku, hatiku berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengarkan. Aku mengira pulang dari sana aku akan mendapati perasaanku lebih baik, namun aku salah. Sampai di kamar aku nangis karena nggak tahan menghadapi semua, aku masih kesepian.
Kedua, di mall yang sama beberapa minggu kemudian. Bersama seorang teman yang lain, sedang hunting buku dan perasaan yang sebelumnya terulang lagi.
Pulang dari sana ku mulai mikir, sepertinya ada yang salah. Aku tetap merasa kosong, nggak berharga, bahkan tempat paling aku sukai sekalipun (toko buku) nggak bisa mengisi kekosongan yang terjadi. Nggak bisa mengatasi kesepianku. Di saat seperti itulah aku mulai mencari Tuhan lagi, Tuhan yang selama beberapa waktu aku jauhin karena aku marah DIA membuatku berpisah dengan seseorang. Aku mulai datang kepadaNya, mulai menceritakan keadaanku sejujur-jujurnya. Emang bukan sekejap mata merasa tidak kesepian lagi, masih tetap ada bagian proses yang harus ku lewati bedanya setelah aku mulai cerita dengan jujur sama Tuhan hatiku mulai merasa lebih tenang. Kesepian itu lambat laun bisa diatasi, Thanks God. Aku mulai jarang keluyuran, blusukan ke mall sampai menurut teman-teman diriku berubah jadi aneh. Setiap kali aku mulai merasa dihantui perasaan kesepian itu, ku memilih untuk duduk diam sendirian di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu rohani, sambil curhat ke Tuhan, dan doa. Bukan sebuah cara yang bisa dipahami oleh kebanyakan orang kedengaran terlalu rohani mungkin :p,tapi yah lain orang lain pula caranya. Faktanya, aku justru mulai dipulihkan Tuhan lewat cara itu. Aku dibuat Tuhan menyadari satu hal penting bahwa tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang bisa membuatmu menjadi utuh kecuali Tuhan sendiri.
Now, dua tahun berlalu sejak peristiwa perpisahan dengan seseorang yang tragis wkwkwkw. Aku mendapati diriku masih bisa berdiri tegak, tersenyum lebar menghadapi hari demi hari meskipun sejak saat itu sampai hari ini masih diijinkan Tuhan menjadi seorang perempuan single :p.-aku tetap bersyukur untuk masa ini. Tuhan Yesus yang begitu mencintaiku mengubah masa laluku untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan di masa depanku, dan aku mengecap itu sekarang. Seseorang yang dulunya ngeyel itu sekarang berbalik mensyukuri keputusan Tuhan yang telah membuatnya harus berpisah dengan seseorang. Proses pemulihan itu menyakitkan, merasa kesepian itu aku tahu sekali rasanya tidak mengenakkan namun aku bersyukur karena Tuhan mendampingiku melewati masa itu . Selalu ada yang bisa dipelajari dari kesalahan masa lalu. Sekarang sih Puji Tuhan udah melewati masa menyakitkan itu, sudah dipulihkan dari luka hati dan kepahitan terhadap seseorang yang terpenting tidak lagi merasakan kesepian dan kekosongan hidup seperti dulu karena Tuhan telah menjadi bagian hidupku ^^

Oh ku tak sendiri, pancaran sinar mentari menemani tiada henti.
Oh dan tak kusesali Tlah kulupakan dirimu. tak mengapa, aku melangkah sendiri dapat ku jalani
#(yang nggak mungkin sendiri tanpa Tuhan) Heheee…


“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Roma 8 :28)