Tampilkan postingan dengan label single life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label single life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Tentang Mencari-Menunggu Pasangan Hidup (yang dari Tuhan)


----Postingan yang panjang----
Obrolan pertama,
Beberapa bulan lalu sepasang suami istri yang konon katanya masih ada ikatan saudara jauh bersilaturahmi ke rumah,
Si istri : “Mbaknya seumuran anak saya ya?udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum.”
Si istri : “Kok belum, ya udah cepetan nyari pacar kan udah umur 26 lebih. Mau punya anak umur berapa?”
Aku : “Karena saya nunggu yang terbaik dari Tuhan.”
Si istri : “Anak saya aja kelamaan nunggu pacarnya langsung saya suruh putus, dan nyari lagi yang bisa cepetan nikahin dia karena udah umur 25 tahun, biar segera punya anak sebelum umur 30an. Jangan milih-milih lho mbak.”
Aku : (dalam hati ngomong: gubrak )
Obrolan kedua,
Di ruangan kerja, temannya temanku datang numpang duduk. Cerita ini itu, dan menyodorkan pertanyaan serupa.
Dia : “Mbak, anaknya udah berapa?”
Aku : “Saya belum menikah mbak.”
Dia : “Ooohhh, terus rencananya kapan mbak nikahnya?”
Aku : “Kapan-kapan.Ntar juga akan datang waktunya.” (jawab sekenanya sambil cengengesan)
Dia : “Wah kok kapan-kapan, sudah menutup hati rapat-rapat mbak ini.” (sambil memandangku dengan tatapan gimana gitu)
Obrolan ketiga,
Seseorang yang dituakan : “Udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum. ”
Seseorang itu : “Lha kamu diem aja, kapan mau dapat pacar. Kalo kamu suka sama seseorang kan nggak apa nelpon dia, sms dia, ngomong kalo kamu suka dia biar dia tau.”
Aku :  “haa?”

Terlalu sering terlibat obrolan dan mendengar komentar seperti yang diatas tadi, dari masa aku stress disodori pertanyaan macam itu hingga nyantai aja seperti sekarang. Ada beberapa kesan yang aku tangkap dari obrolan-obrolan semacam itu.
Buat sebagian orang punya pacar dan menikah itu adalah suatu tuntutan, tuntutan umur dan sistem reproduksi. Jika usiamu sudah menginjak kepala dua, selesai/sedang kuliah atau malah sudah memiliki pekerjaan berarti sudah saatnya punya pacar dan menikah.
Sebagian lagi memandang perempuan yang usianya udah di atas 25 tahun dan masih single itu perlu dikasihani. Kasihan karena nggak ada yang ngelirik dan mereka menangkap kesannya ada rasa frustasi, kasihan karena terlambat menikah dan udah keluar dari standard waktu ideal buat menikah.
Lainnya beranggapan kamu nggak punya pacar karena kamu terlalu pilih-pilih, diem aja nggak mau mencari dengan agresif, jual mahal nggak mau ngejar lelaki yang disukai. *plis deh*
Umumnya orang tidak dapat menerima jika aku berkata kepada mereka, “Saya sedang menunggu yang terbaik yang Tuhan berikan untuk saya.”. Mereka kurang setuju dengan kata “menunggu” sebab banyak orang memang tidak menyukai menunggu sesuatu tanpa kepastian, malah biasanya dikomen balik  : bagaimana jika sudah menunggu tapi malah dapat yang jelek? (istilahnya, pilih-pilih tebu oleh bongkeng ^^). Wajar sih, aku sendiri juga diproses Tuhan di bagian ini sampai hari ini. Buat aku pribadi, selama aku melekat erat padaTUhan aku tidak sedang asal-asalan menunggu gitu loh jadi mengapa aku harus kuatir jangan-jangan dapat/dikasih yang jelek ama Tuhan? kekuatiran seperti itu membuktikan kalo kita nggak sepenuh hati mempercayai Tuhan, padahal DIA adalah Bapa kita yang tahu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya.
“ Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga!Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.” (Matius 7:11)
 Bisa jadi kita mendapatkan yang jelek, seperti yang kita kuatirkan justru karena pikiran kita sendiri. Setiap kata yang keluar dari mulut kita punya kuasa untuk mendatangkan berkat dan kutuk. Ayub pernah berkata juga,
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan , itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3 : 25)
Tuh kan?heheee…
Apa yang sebenernya dicari dan ditunggu? Mencari dan menunggu pasangan hidup agak beda dengan Mencari dan menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan. Kalo sekedar mencari dan menunggu nggak perlu susah payah doain+konsul dengan Tuhan, asal seiman aja cukup, asal dia baik, pengertian,betanggung jawab .. yang seperti itu mungkin lebih mudah dicari. Sementara kalo menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan itu kita sedang meminta yang spesifik kepada Tuhan, perlu didoain serius, dan yang pasti memenuhi standard yang Tuhan harapkan supaya ketika kita sudah masuk dalam pernikahan kita bisa memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup masing-masing, kesalahan dalam memilih bisa jadi merusak tujuan dan rencana Tuhan tersebut. Pernikahan itu dirancangkan Tuhan dengan sebuah tujuan besar bukan sekedar memenuhi siklus kehidupan manusia selama hidup didunia. Pernikahan adalah sesuatu yang harus dihormati, bernilai dan hanya sekali seumur hidup sehingga sudah seharusnya-kan kita memilih yang terbaik dan nggak berusaha menurunkan standard yang sudah Tuhan tetapkan. Standard yang dimaksud bukan soal fisik yang mutlak, misalnya tingginya harus berapa cm nggak kurang atau lebih, harus punya pekerjaan tertentu nggak mau dengan profesi lain…tapi soal standard rohani yang mutlak harus ada, misalnya harus mencintai dan takut akan Tuhan (karena seiman aja itu nggak cukup) dan lain-lain, tiap orang punya kriteria sendiri-sendiri’lah ya yang disodorkan ke Tuhan cuman yang mencintai Tuhan dan takut akan Tuhan itu mutlak harus ada. Sebagai seseorang yang pernah menurunkan standard rohani soal pasangan hidup, aku tahu bagaimana jadinya, ketika dulu merasa sudah nggak punya cukup kesabaran menunggu akhirnya aku berkompromi untuk menurunkan standard rohaninya, nggak apa-apa dia nggak mau ke gereja, nggak berdoa yang penting dia kan masih seiman,ntar pas udah menikah pasti mau diajak ke greja pemikiran yang salah, terlalu banyak kompromi ini itu akhirnya justru semua berantakan dan waktu yang terbuang dalam masa penantian itu jadi lebih banyak. Mengutip kata Mr. Joshua Harris (lagi), bahwa ketika anda mencari pasangan, carilah seseorang yang mau mendengarkan dan bertindak tidak terburu-buru terhadap apa yang Allah katakan padanya.
Aku nulis ini tidak semata-mata aku sudah sempurna dan mencari orang yang sempurna..sama sekali tidak..kehidupan yang kujalani adalah serangkaian proses dimana setiap harinya adalah pembelajaran jatuh bangun, berhasil-gagal untuk menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki.
Yang terakhir, (udah berapa lembar yah tulisanku?!?) hihiii…
Berapa banyak yang menganggap bahwa seorang perempuan bersikap agresif (baca : mengejar laki-laki) itu perlu dan wajar? kayaknya banyak..heheee…dulu aku juga salah satunya alasannya jaman modern-emansipasi wanita *pengakuan* . Apa yang salah dengan mengambil inisiatif duluan?apa yang salah dengan menelpon dan sms untuk menunjukkan perhatian?kalo perempuan nggak melakukan itu gimana si lelaki tahu kalo perempuan tadi tertarik. Semua terdengar normal dan benar kan?.
Mrs. Elisabeth Elliot menasehatkan bahwa, TIDAK ADA hal yang harus dilakukan seorang perempuan agar diperhatikan oleh seorang laki-laki. Jangan menelepon, menulis surat pesan pendek (jaman sekarang jangan sms), apalagi menyatakan perasaan jika kita menyukainya. Yang bisa dilakukan seorang perempuan adalah : menyerahkan semua urusan pada Allah, jika dia adalah pria yang Tuhan sediakan bagimu maka Tuhan tidak akan menahan kebaikanNya, hanya saja Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan. Perempuan itu berharga lebih dari permata so nggak mungkin juga Tuhan dengan sembarangan memberikan kita kepada seorang lelaki.
Trus berarti harus diem aja jadi seperti kepompong gitu? ya nggak juga sih. Bagian kita adalah memberi respon, mempersiapkan diri supaya kelak jadi istri yang cakap sesuai Firman Tuhan, periksalah juga motivasimu ketika kamu menghubungi seseorang apakah hanya untuk mencari perhatian dari seorang lelaki atau tidak, yah kalo emang ada hal yang penting masak akan trus diem. Lagipula dari kisah cinta pertama antara Adam dan hawa jelas bahwa maksud dan tujuan Tuhan menciptakan laki-laki adalah sebagai inisiator, dan perempuan sebagai penolong. Jika kita membalik fungsi itu, yang terjadi adalah kekacauan..jika seorang laki-laki benar-benar mengasihimu dia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu :P. Pasti ada yang mikir, yang ngomong sih gampang tapi prakteknya?Yup aku juga ngalamin kok masa-masa penundukan diri ke Tuhan soal ini dan susaaah, pinginnya melakukan ini itu  seiring waktu aku mulai paham walaupun penundukan diri itu susah namun hasilnya luar biasa, seenggaknya dengan menahan diri nggak ambil inisiatif duluan kita udah menjaga hati kita sendiri dari sakit hati yang nggak perlu. Percaya deh^^.
Ya sudahlah, sekian dulu tulisan kali ini,..
 “Anda tidak pernah menjadi atau menemukan seorang pasangan yang sempurna—kita semua adalah orang-orang berdosa—tetapi hanya orang-orang yang memiliki sikap mau taat terhadap Firman Tuhan lah yang akan terus bertumbuh dalam kedewasaan dan kesalehan di sepanjang kehidupan mereka.”
(dikutip dari I Kissed dating Goodbye)
#apa yang aku tulis disini adalah bagian dari proses pembelajaran pribadi dengan Tuhan yang tidak terjadi dengan instan, semoga bisa menjadi berkat agar kita bisa sama-sama belajar semakin melekat dengan Tuhan.

GBU all ^^

Selasa, 02 April 2013

Kalo Pacaran Ngapain Sih?


Nampaknya musim penghujan belum berakhir, diluar hujan turun dengan intesitas lumayan deras…dan cara terbaik untuk menikmati hujan sore ini adalah dengan menghabiskan waktu untuk menulis (^.^)v
Sebagai seseorang yang tinggal dan besar di sebuah kampung, aku terbiasa mendengar berbagai macam kabar sedap dan tidak sedap tersebar cepat. Seperti hari minggu kemarin, kabar kalau seorang anak perempuan dari RT seberang akan menikah tersebar luas sementara tidak ada undangan yang tersebar. Niat pernikahan diam-diam tak urung hanyalah sebuah niat tak kesampaian, toh orang lebih cepat tahu hal yang demikian. Si perempuan belia yang belum genap 17 tahun itu terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya karena terlanjur hamil . Dan setelah diruntut, 1 atau 2 tahun lalu teman sepermainan atau mungkin sahabat si perempuan tadi juga mengalami hal yang sama. Fenomena seperti ini sudah bukan hal yang baru, namun tetap saja membuatku spontan berkomentar, “Kok bisa? emang dia ngapain aja?” (nanya’nya dengan ekspresi lugu,padahal jelas-jelas tahu jawabannya).
Ada juga cerita seorang perempuan yang lain, sebut aja X. X ini hamil beberapa bulan sementara pacarnya tidak bersedia bertanggung jawab, dan membuatku miris mendengar ceritanya.
Semua yang mendengar kejadian ini akan berkata, “Salah mereka sendiri..bla..bla..blaa…”
Memang si perempuan belia tadi, juga sahabatnya, dan si X telah melakukan kesalahan yang membuat mereka harus menanggung sebuah konsekuensi yang rumit atas perbuatannya tetapi pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa apa yang terjadi atas diri mereka adalah karena mereka tidak mengerti konsep sebuah hubungan yang benar?sedangkan ditengah ketidaktahuannya mereka tidak memiliki tempat untuk bertanya dan mendapat jawaban yang benar sehingga mereka cenderung mencari kebenaran itu dari lingkungan pertemanan mereka dan media-media lain.
Semasa pacaran, si X tadi banyak curhat dengan rekan kerjanya yang dianggap lebih berpengalaman makan asam garam kehidupan..sayangnya nasehat yang didapat si X berbunyi seperti ini, “jaman sekarang kalo pacaran itu nggak sama dengan jaman dulu, jamanku dulu gandengan tangan aja nggak boleh tapi sekarang  nggak masalah kalo kamu mau “ngapa-ngapain”  itu baru gaul.”
Aku pribadi pernah sharing dengan teman beberapa tahun lalu, lantas dia bilang seperti ini, “Prinsipnya selama pacaran kamu bolehlah memberikan lebih asal nggak semuanya ( artinya asal kamu tetap menjaga keperawanan).” dan waktu itu jujur aku percaya dan setuju-setuju aja, apalagi yang ngomong ini saudara seiman *garuk kepala*. Untung cuma sebatas setuju lewat omongan aja, nggak dalam sikap.
Kitapun nggak bisa menolak visualisasi yang ditawarkan media hiburan, setiap film yang diputar selalu membubuhkan adegan romantis mulai dari bergandengan tangan, meningkat ke pelukan, cium pipi, cium kening dan seterusnya.  Jalan cerita sinetron juga dibumbui dengan kisah jatuh cinta ala ABG, anak-anak berseragam putih biru yang lebih sibuk mengejar-ngejar lawan jenisnya menggunakan berbagai cara, malah nggak fokus dengan pendidikan.
Kesimpulan yang muncul di benak mereka jadinya :  pacaran itu hubungan  antara perempuan dan laki-laki, yang didalamnya termasuk melakukan hal-hal yang sifatnya mengandung sentuhan fisik asal nggak kebablasan. Fufufu…>.< 
Benarkah demikian?
Sewaktu aku belum mengerti kebenaran Firman Tuhan aku menerima kesimpulan itu sebagai hal yang paling benar, namun sekarang lain lagi ceritanya. Pas jaman pelajaran agama di sekolah sih udah diajarin bahwa pacaran itu adalah satu fase sebelum memasuki jenjang pernikahan. Teorinya gitu dan murid sekelas tahu cuman dalam prakteknya jauuh dari teori, mikirnya malah kalo nggak punya pacar berarti nggak laku, kesepian, nggak seruàujung-ujungnya berlomba mencari pacar hanya untuk memenuhi tuntutan bukan untuk tujuan yang benar di hadapan Tuhan. Lantas kebanyakan cewek, punya pemikiran jika dia memberikan apa yang diinginkan pria dalam hal kepuasan fisik,pasti dia akan mendapatkan kasihnya selamanya (ini ada dibuku Lady in Waiting). Nggak apa-apa berpelukan, nggak apa-apa berciuman daripada ntar nggak mau malah diputus dan ditinggalkan, padahal udah cinta banget. Setelah berkompromi dengan kata nggak apa-apa malah jadi penasaran, ingin tahu dan mencoba lebih dalam lagi, begitu sadar terlambat sudah.
Satu tindakan fisik berdasarkan rasa suka bukannya melekatkan kasih mereka, tetapi justru menghancurkannya (Lady in Waiting, hal 90). Tuhan mau anak-anakNya menjaga kekudusan dirinya karena tubuh kita adalah bait Allah, dan kekudusan itu lebih dari sekedar keperawanan/ keperjakaan loh. Kekudusan itu berbicara soal bagaimana hidup kita di mata Tuhan. Nah, seandainya kita berkompromi dengan hal  yang tidak kudus lantas menutupinya dengan dalih kan yang penting  nggak kebablasan?tetap aja itu tidak benar di mata Tuhan.
So, berhati-hatilah dalam memilih pergaulan karena dengan siapa kita bergaul itu menentukan perilaku kita. Bertanyalah pada orang-orang yang memiliki otoritas yang benar, bukan yang asal cukup usia untuk memberi nasehat, ibarat bertanya arah ke orang yang salah akhirnya malah kesasar :p. Setiap nasehat yang kita dapatkan juga harus diuji nggak asal diterima dan dilakukan, pertimbangkan dengan baik nilai kebenarannya.
Amsal 18 : 24
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”
1 Korintus 15 : 33
“ Janganlah kamu sesat; Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
Kedua, Sebagai seorang cewek (cowok juga) adalah penting buat kita menjaga diri kita dengan baik. Ada konsekuensi yang lebih rumit yang mesti dibayar dan itu nggak sebanding dengan kenikmatan sesaat yang didapatkan. Jika akhirnya seperti perempuan belia tadi, pikirkanlah betapa banyak yang harus dia tanggung?pernikahan mungkin menyelesaikan sedikit masalah, tetapi siapkah dia menanggung beban rumah tangga pada usia belia tanpa bekal ijasah yang memadai dan pekerjaan?Ada banyak masalah lain menanti didepan, sudah siapkah kamu?. Belum tentu pula seseorang yang menerima segala-galanya darimu akan menjadi suami/istri di masa depan, seperti yang dialami si X.
Perasaan kasih itu tidak hanya diungkapkan lewat kedekatan fisik yang sembrono sebelum dua orang menikah, perasaan itu bisa diungkapkan dalam pengendalian diri, kesabaran.

Lalu, pacaran itu ngapain sih?
Hubungan lawan jenis tidak lagi merupakan “menikmati saat-saat indah” atau mempelajari apa yang aku inginkan dalam sebuah hubungan. Hubungan itu bukan lagi tentang mendapatkan, tetapi memberi. Setiap hubungan (terutama untuk anak Tuhan) merupakan sebuah kesempatan untuk mengasihi orang lain seperti Allah mengasihi kita. Mengesampingkan keinginan-keinginan kita dan melakukan apa yang diinginkan oleh pasangan kita. Mengasihi dia bahkan walaupun tidak ada yang dia berikan untuk kita. Menginginkan kesucian dan kemurnian dari pasangan kita karena hal itu menyenangkan Allah dan melindungi pasangan kita. (kata Mr. Joshua Harris dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, hal. 9).

Yuk, kita sama-sama belajar menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita masing-masing dari sekarang, pas masih single ataupun sudah diijinkan Tuhan melangkah ke fase berikutnya. Hihiii.

GBU ^^




Kamis, 21 Maret 2013

Remember When : Lagu Raisa dan Kisah Masa Lalu


(alasanku ngasih judul remember when karena aku suka banget dengan novel Winna Efendi,yang judulnya itu. Udah baca sampai lima kali dan tetap masuk dalam daftar salah satu novel favoritku—hehee cuma itu sih alasannya)
Mau cerita tentang lagu Raisa-Melangkah
Pertama tahu lagunya dari adhekku yang hobi download memanfaatkan koneksi WIFI kampusnya yang super cepat koneksinya. Dia bilang kalo video klipnya simple tetapi unik, diantara suasana pantai yang sepi dan perpaduan warnanyayang eksotik, plus pernak-pernik yang sengaja dimunculkan disitu..otomatis karena mengamati video klipnya udah tentu mulai menyimak lirik lagunya juga. Makin didengerin makin membawaku terhanyut ke kisah cinta di masa lalu..Hahay..
Waktu masih menjalin hubungan dengan seseorang aku pernah berharap sekaligus mengira dia adalah orang terakhir yang akan menjadi bagian hidupku selamanya (namanya juga sedang jatuh cinta) tapi ternyata nggak kejadian. Pertemuan dengan seseorang (salah satu teman baikku semasa sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama) secara nggak sengaja di jejaring social facebook membuat aku dan dia kembali menjadi dekat sampai memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Kesalahan aku waktu itu adalah aku nggak konsul ke Tuhan, nggak nunggu konfirmasi Tuhan bilang iya atau nggak, pikirku asal bersama seorang yang seiman pasti Tuhan setuju *tepok jidat* . Terjadilah kemudian setelah berjalan setengah tahun lebih, hubungan yang mulanya baik-baik saja tiba-tiba bermasalah sampai  akhirnya aku dan dia mengambil keputusan untuk berpisah. Aku sempat agak ngeyel ke Tuhan (bukan agak sih malah ngeyel banget kayaknya..hahaa) pengen banget balik dengan dia. Pokoknya Tuhan harus membuat kita berdua balikan gitu karena aku cintanya Cuma sama dia, nggak mau orang lain dan nggak bisa kalo harus mencintai orang lain. Titik. Serius aku ngomong gitu ke Tuhan, dengan ekspresi orang depresi gak ketulungan. Wkwkwkw. Dampak dari perpisahan itu aku mulai merasakan kesepian, merasa diriku nggak berharga, nggak dicintai oleh siapapun dan untuk melarikan diri dari kesepian itu aku mulai mengejar-ngejar kesenangan (dalam arti yang masih positif sih). Tiap pulang kerja aku mampir ke rumah untuk makan, ganti baju lalu pergi lagi keluyuran ke mall, ke rumah teman. Nggak sampai pulang larut malam sih, paling jam 8 malam udah dirumah lagi trus langsung masuk kamar, tidur. Gitu trus sampai berapa minggu, puncaknya ada dua kejadian yang membuatku tersadar bahwa aku nggak semestinya bertingkah seperti itu.
Pertama, aku pergi ke mall dengan seorang teman. Aku inget banget sedang menelusuri rak-rak besar di pusat perbelanjaan, di situ rame banget. Temanku sibuk memilih barang belanjaan ini itu, aku terus mengekorinya ditengah keramaian tetapi aku merasa sepertinya tempat itu sepi banget. Semua orang dan barang di sekitarku seperti bergerak dengan cepat kayak di film-film sedangkan aku ada diantaranya tanpa dipedulikan keberadaanku, hatiku berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengarkan. Aku mengira pulang dari sana aku akan mendapati perasaanku lebih baik, namun aku salah. Sampai di kamar aku nangis karena nggak tahan menghadapi semua, aku masih kesepian.
Kedua, di mall yang sama beberapa minggu kemudian. Bersama seorang teman yang lain, sedang hunting buku dan perasaan yang sebelumnya terulang lagi.
Pulang dari sana ku mulai mikir, sepertinya ada yang salah. Aku tetap merasa kosong, nggak berharga, bahkan tempat paling aku sukai sekalipun (toko buku) nggak bisa mengisi kekosongan yang terjadi. Nggak bisa mengatasi kesepianku. Di saat seperti itulah aku mulai mencari Tuhan lagi, Tuhan yang selama beberapa waktu aku jauhin karena aku marah DIA membuatku berpisah dengan seseorang. Aku mulai datang kepadaNya, mulai menceritakan keadaanku sejujur-jujurnya. Emang bukan sekejap mata merasa tidak kesepian lagi, masih tetap ada bagian proses yang harus ku lewati bedanya setelah aku mulai cerita dengan jujur sama Tuhan hatiku mulai merasa lebih tenang. Kesepian itu lambat laun bisa diatasi, Thanks God. Aku mulai jarang keluyuran, blusukan ke mall sampai menurut teman-teman diriku berubah jadi aneh. Setiap kali aku mulai merasa dihantui perasaan kesepian itu, ku memilih untuk duduk diam sendirian di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu rohani, sambil curhat ke Tuhan, dan doa. Bukan sebuah cara yang bisa dipahami oleh kebanyakan orang kedengaran terlalu rohani mungkin :p,tapi yah lain orang lain pula caranya. Faktanya, aku justru mulai dipulihkan Tuhan lewat cara itu. Aku dibuat Tuhan menyadari satu hal penting bahwa tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang bisa membuatmu menjadi utuh kecuali Tuhan sendiri.
Now, dua tahun berlalu sejak peristiwa perpisahan dengan seseorang yang tragis wkwkwkw. Aku mendapati diriku masih bisa berdiri tegak, tersenyum lebar menghadapi hari demi hari meskipun sejak saat itu sampai hari ini masih diijinkan Tuhan menjadi seorang perempuan single :p.-aku tetap bersyukur untuk masa ini. Tuhan Yesus yang begitu mencintaiku mengubah masa laluku untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan di masa depanku, dan aku mengecap itu sekarang. Seseorang yang dulunya ngeyel itu sekarang berbalik mensyukuri keputusan Tuhan yang telah membuatnya harus berpisah dengan seseorang. Proses pemulihan itu menyakitkan, merasa kesepian itu aku tahu sekali rasanya tidak mengenakkan namun aku bersyukur karena Tuhan mendampingiku melewati masa itu . Selalu ada yang bisa dipelajari dari kesalahan masa lalu. Sekarang sih Puji Tuhan udah melewati masa menyakitkan itu, sudah dipulihkan dari luka hati dan kepahitan terhadap seseorang yang terpenting tidak lagi merasakan kesepian dan kekosongan hidup seperti dulu karena Tuhan telah menjadi bagian hidupku ^^

Oh ku tak sendiri, pancaran sinar mentari menemani tiada henti.
Oh dan tak kusesali Tlah kulupakan dirimu. tak mengapa, aku melangkah sendiri dapat ku jalani
#(yang nggak mungkin sendiri tanpa Tuhan) Heheee…


“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Roma 8 :28)

Jumat, 22 Februari 2013

Diingatkan Lewat Hal Kecil


Baru malam ini (tulisan ini dibuat kemaren malam tapi baru sempat diposting hari ini) bisa duduk tenang di dalam kamar dan menyalakan laptop. Ada beberapa hal yang pengen ditulis sejak berhari-hari lalu tapi terus menerus ditunda karena sibuk :p..sementara ini dulu deh yang ditulis, yang paling baru.  Jadi ceritanya, sejak hari Sabtu yang lalu tiap menjelang sore ikutan bantu-bantu saudara jualan di area NBL seri tiga yang kebetulan berlangsung di GOR BIMASAKTI Malang. Begitu pulang kerja langsung makan, mandi, nyiapain beberapa barang terus berangkat ke sana dan walaupun gak jaga full sampai malam karena gantian sama adhek tetep terasa juga capeknya :p. Yah selama aku masih single aku mau memanfaatkan setiap waktu yang aku  miliki semaksimal mungkin, karena ntar suatu waktu hal-hal seperti ini nggak bisa dilakukan lagi. Lumayan’lah ikutan kegiatan seperti ini bisa nambah pengalaman dan teman baru, bisa sharing-sharing juga, belajar mengerti kemauan konsumen itu seperti apa. Belajar menghargai pekerjaan pula, karena kegiatan seperti ini bertolak belakang dengan pekerjaan yang selama ini aku jalani. Kalau ditempat kerjaku yang resmi aku lebih berharap banyak orang itu sehat sehingga nggak perlu datang ke pusat pelayanan kesehatan, istilahnya memperingan pekerjaanku sehari-hari namun di kegiatan seperti ini justru sebaliknya, aku berharap banyak orang datang untuk membeli supaya daganganku laku :p :p. Nah, hari ini karena merasa ada tanda-tanda hujan akan turun aku memutuskan untuk bergegas pulang padahal jam enam sore belum genap. Aku agak-agak tidak berani membawa motor di malam hari, apalagi jika sampai hujan turun di malam hari T_T. Keluar dari area parkir hujan sudah turun, sampai di jalan raya intensitasnya bertambah. Aku berdoa, “Tuhan, tolong kalau bisa jangan hujan dulu ya paling nggak sampai aku dirumah.” . Butir-butir air tetap turun. Aku doa lagi, “Tuhan, kalo harus hujan ya udah nggak apa-apa aku percaya Tuhan pasti menjagaku sampai dirumah. Amin.” . Lirik kanan kiri beberapa orang sudah menepi dan menggunakan jas hujannya, tapi aku memutuskan jalan terus..baru nanti jika hujan benar-benar deras aku akan memakai  jas hujan. Eeehhh ternyata beberapa meter berikutnya butir-butir air tidak lagi berjatuhan. Yeay tidak jadi hujan. Thanks Lord.
Lantas aku teringat ke 5 hari sebelumnya,.
Hari pertama berangkat pas cuaca sedang panas-panasnya tapi hujan begitu nyampai tempat tujuan. Hujan yang cukup deras, namun pas jam tujuh malam pulang ternyata reda.
Hari kedua, pas waktunya berangkat pas waktunya hujan reda (lagi)
Hari ketiga, berangkat dibonceng dan pulang naek angkutan umum karena saudaraku ada kuliah sore.Tidak hujan.
Hari keempat, di kantor hujan tapi ajaibnya begitu nyampek Malang hanya ada sisa-sisa hujan, dan sukses pulang pergi ke stan tanpa kehujanan.
Hari kelima, berangkat dari rumah gerimis tapi lagi-lagi tidak berubah menjadi deras, malahan langit berubah cerah.
Sepertinya hujan atau tidak hujan adalah persoalan remeh temeh, bukankah hanya sebuah kebetulan belaka jika kemudian hujan tidak jadi turun? tapi apakah bisa disebut sebagai sebuah kebetulan jika itu terjadi sampai enam kali?. Aku rasa tidak. Aku tahu dan percaya hanya TUHAN yang mampu melakukan ini semua. WOW…aku sempat berkaca-kaca selama beberapa detik. Terharu karena beneran merasa diperlakukan spesial oleh Tuhan, lewat hal sesederhana ini Tuhan menunjukkan kasih setiaNya yang begitu besar. Tuhan tahu ketakutanku bawa motor di malam hari, Tuhan tahu hujan membuat jarak pandang berkurang apalagi di malam hari sementara aku berkacamata, jika hujan harus menutup kaca helm agar air tidak mengenai kacamataku. Tuhan tahu dan peduli akan itu semua sehingga DIA melakukan semua ini untukku. Tuhan begitu mengasihiku sehingga DIA  mengingatkanku lewat momen-momen berharga ini untuk tetap memandang padaNya dan bergantung sepenuh hati alias nggak setengah-setengah.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!" (Mazmur 34 : 9)


Minggu, 10 Februari 2013

Eco Green Park

Yeay...9 Februari tiba juga...

Waktunya meluncur ke Eco Green Park.
Ini jalan-jalan season ke 2 di tahun 2013 ini barengan adhek dan temen-temen. Season yang pertama kita cuma jalan-jalan Ke Taman Rekreasi dan Budaya Senaputra, ke wisma Tumapel, dan ke Tarekot (Taman Rekreasi Kota) itupun terjadi tanpa planning, hanya sekedar iseng karena penasaran dengan taman rekreasi sekelas senaputra yang di masa kecil dulu begitu familiar dan terkenal sekarang seperti apa..alasan lebih tepatnya adalah memuaskan hasrat  berfoto-foto ria heheehee..
Berangkat dari malang jam 9 pagi, tiba di Eco Green Park sekitar pukuk 10.30 ...emang lebih lama karena kami naik angkutan umum yang sering berhenti. Eco Green Park sendiri masih berada satu kompleks dengan Jatim Park 2 (ada tuh jembatan penghubung antara kedua tempat ini). So ada apa sajakah di Eco Green park ini?
Insectarium, ini tempat berkumpulnya para serangga seperti kupu-kupu yang sudah di awetkan (kupu-kupunya keren terutama yang warna biru ^^), belalang, semut, dan aneka serangga lainnya. Wow..nggak habis pikir betapa hebatnya Tuhan yang sudah menciptakan semua makhluk dengan keunikannya masing-masing.
Jungle adventure, disini bisa naik mobil jip sambil nembakin pemburu dan penebang hutan. sayangnya pistolnya kurang berfungsi dengan baik jadi bingung pas maennya.
Rumah strawberry, jamur, dan canivora garden (Pas lewat ke bagian ini akhirnya tahu nggak cuma ngelihat di gambar bentuk buah ara dan pohon ara yang sesungguhnya seperti apa Hahaaa selama ini pas baca di Alkitab kan cuma mbayangin aja), burung dari berbagai spesies dan dari beberapa negara yang unik, lucu, dan menggemaskan,
Wahana lainnya yang ada di Eco Green Park ini adalah Rumah Terbalik, Dome Multimedia yang menyajikan kisah Hanoman, monumental candi-candi di Indonesia, Geology science center yang di dalamnya kita bisa ngrasain gimana itu gempa (tapi pas nyobain ini karena tahu cuma sekedar simulasi malah nyantai aja gitu. Paraaah >.<), simulasi angin,simulasi cuaca dll sayangnya beberapa objek masih dalam taraf awal pemasangan belum bisa di coba juga.
rasanya muterin Eco Green Park dari jam 10.30 sampai jam 16.30 masih kurang, karena beberapa wahana nggak sempat di coba,Satwa-satwa yang didominasi dengan jenis burung-burung cuman dilihat asal-asalan, dilewatin tanpa sempat membaca detail keterangan yang ada di masing-masing kandang. Terjebak hujan juga sih. udah muter-muter tapi nggak tahu tempat Fish Therapy dimana ya?!? Ada kah yang tahu. hahaa..nggak nonton Bird Show juga karena gak pas jamnya, Tempat pengolahan limbah dan pengolahan susu juga terlewatkan. Oh ya di sono disewakan E-bike loh buat yang ogah jalan kaki muterin Eco Green Park, cuman tetep bagiku lebih seru jalan kaki sih bisa interaksi dengan hewan-hewannya plus lebih sehat kali yah?!?!?
Kesimpulan dari acara jalan-jalan kemaren sepenuhnya menyenangkan, malah kurang lamaaaaa waktunya. Kapan-kapan pengen ke Eco Green Park lagi aaaahhhh. 
Ini beberapa foto yang dijepret di sono..