Tampilkan postingan dengan label a lesson to heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a lesson to heart. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Still Believe

Perjalanan sunyi...
Dalam penantian yang tak pasti..
Sebuah kisah yang (sepertinya) tidak akan pernah selesai, tidak pasti dimana ujungnya.
dan hanya oleh kasihMu aku mampu bertahan, bersabar untuk sebuah jawaban, menepis segala kuatir, mempertahankan pengharapan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagiMU.

"Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." Filipi 1:6


Suatu sore menjelang malam, ditemani lagu I Still Believe in Miracle (Sidney Mohede)

Jumat, 10 Mei 2013

Kesempatan Kedua


Hallo semua…
Nggak terasa sudah hari ke sepuluh di bulan Mei…waktu begitu  cepat berganti :P
Dan aku bersyukur karena aku masih ada sampai detik ini, disini-menikmati indahnya hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Bulan April adalah bulan yang amat sangat sibuk, ada dua hal lain yang harus dikerjakan sepulang dari kerja dan itu sempat membuatku kalang kabut karena susah ngatur waktunya. Sekarang sih udah jalan sebulan lebih mending, nggak seberat pas di awal. Bulan April kemaren aku sempat nulis di postingan yang  INI tentang mimpi lama yang sepertinya memang Tuhan mau agar aku mendoakannya lagi dari awal. Pas dapat penegasan seperti itu seneng banget sih, merasa seperti mendapat kesempatan yang kedua :p. Kala itu aku beneran dibuat Tuhan mengerti bahwa tidak ada satupun dari rencana Tuhan yang akan gagal, dan ketika sesuatu kita paksakan terjadi padahal bukan rencana Tuhan udah pasti Tuhan punya cara untuk menggagalkannya juga.
Lalu hari ini, sudah sebulan lebih beberapa hari…tetep nggak terjadi apapun walaupun udah didoakan. Heheee. Aku jadi merasa agak gimana gitu?semangatku mulai turun segaris demi segaris. Pengharapan dan iman juga mulai meredup, yang aku tahu dan aku rasain adalah perjalanan menuju mimpi itu masih sama gelapnya dengan sebelumnya. Dalam hati juga tergoda untuk melepaskannya (lagi), karena aku merasa nggak ada kemajuan sedikitpun. Nah, siang dua hari lalu iseng browsing ini itu dan buka situs INI dan baca artikel profetik yang  judulnya "A Season of Open Doors"
Sebagian aku copy paste,

And I just sense this morning the Lord was saying to us that this is not a time to try to close what I’m trying to open.  And God says this is a time you’re going to have to wait, because God said, I’m opening some doors for you and if you will be patient and if you will wait upon Me I’ll give you access through that door.  And God said this is not the time to try to close what I’m opening because you are in a new season and in the last season that that was closed and that was locked up to you God said you are not in that season be willing to let Me open those doors.  And no it won’t just be one door but this is a season of multiplication.  And I say I Am multiplying the doors that I’m going to open for you. 
God said do not get distracted and look in only one direction but I’m causing you to be so alert I’m causing those dreams and visions to arise within you.  And God said even those dreams and visions from the past where the doors were closed watch Me as I give you access and I give you multiple doors that you will walk through in this new season. 

pas dibagian yang aku garis bawahi merasa Tuhan lagi ngasih tahu sesuatu ke aku. Bahwa saat ini tuh bukan saatnya untuk berhenti dari mendoakan sesuatu, yang Tuhan mau adalah aku sabar dan mau menunggu Tuhan bekerja sampai selesai dalam perkara ini.
Keren kan Tuhan kita? Dia bisa memakai banyak cara untuk bicara sama anak-anakNya. Jadi, walaupun ini masa “kegelapan” aku harus tetap berjalan terus, maju sambil menelan segala bentuk keraguan yang muncul karena didepan sana hasil yang indah sudah Tuhan sediakan. Tidak mudah tetapi kasih karunia Tuhan yang akan memampukanku.

“Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.” 
(2 Samuel 22 :29)


Sabtu, 13 April 2013

Tentang Mencari-Menunggu Pasangan Hidup (yang dari Tuhan)


----Postingan yang panjang----
Obrolan pertama,
Beberapa bulan lalu sepasang suami istri yang konon katanya masih ada ikatan saudara jauh bersilaturahmi ke rumah,
Si istri : “Mbaknya seumuran anak saya ya?udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum.”
Si istri : “Kok belum, ya udah cepetan nyari pacar kan udah umur 26 lebih. Mau punya anak umur berapa?”
Aku : “Karena saya nunggu yang terbaik dari Tuhan.”
Si istri : “Anak saya aja kelamaan nunggu pacarnya langsung saya suruh putus, dan nyari lagi yang bisa cepetan nikahin dia karena udah umur 25 tahun, biar segera punya anak sebelum umur 30an. Jangan milih-milih lho mbak.”
Aku : (dalam hati ngomong: gubrak )
Obrolan kedua,
Di ruangan kerja, temannya temanku datang numpang duduk. Cerita ini itu, dan menyodorkan pertanyaan serupa.
Dia : “Mbak, anaknya udah berapa?”
Aku : “Saya belum menikah mbak.”
Dia : “Ooohhh, terus rencananya kapan mbak nikahnya?”
Aku : “Kapan-kapan.Ntar juga akan datang waktunya.” (jawab sekenanya sambil cengengesan)
Dia : “Wah kok kapan-kapan, sudah menutup hati rapat-rapat mbak ini.” (sambil memandangku dengan tatapan gimana gitu)
Obrolan ketiga,
Seseorang yang dituakan : “Udah punya pacar belum?”
Aku : “Belum. ”
Seseorang itu : “Lha kamu diem aja, kapan mau dapat pacar. Kalo kamu suka sama seseorang kan nggak apa nelpon dia, sms dia, ngomong kalo kamu suka dia biar dia tau.”
Aku :  “haa?”

Terlalu sering terlibat obrolan dan mendengar komentar seperti yang diatas tadi, dari masa aku stress disodori pertanyaan macam itu hingga nyantai aja seperti sekarang. Ada beberapa kesan yang aku tangkap dari obrolan-obrolan semacam itu.
Buat sebagian orang punya pacar dan menikah itu adalah suatu tuntutan, tuntutan umur dan sistem reproduksi. Jika usiamu sudah menginjak kepala dua, selesai/sedang kuliah atau malah sudah memiliki pekerjaan berarti sudah saatnya punya pacar dan menikah.
Sebagian lagi memandang perempuan yang usianya udah di atas 25 tahun dan masih single itu perlu dikasihani. Kasihan karena nggak ada yang ngelirik dan mereka menangkap kesannya ada rasa frustasi, kasihan karena terlambat menikah dan udah keluar dari standard waktu ideal buat menikah.
Lainnya beranggapan kamu nggak punya pacar karena kamu terlalu pilih-pilih, diem aja nggak mau mencari dengan agresif, jual mahal nggak mau ngejar lelaki yang disukai. *plis deh*
Umumnya orang tidak dapat menerima jika aku berkata kepada mereka, “Saya sedang menunggu yang terbaik yang Tuhan berikan untuk saya.”. Mereka kurang setuju dengan kata “menunggu” sebab banyak orang memang tidak menyukai menunggu sesuatu tanpa kepastian, malah biasanya dikomen balik  : bagaimana jika sudah menunggu tapi malah dapat yang jelek? (istilahnya, pilih-pilih tebu oleh bongkeng ^^). Wajar sih, aku sendiri juga diproses Tuhan di bagian ini sampai hari ini. Buat aku pribadi, selama aku melekat erat padaTUhan aku tidak sedang asal-asalan menunggu gitu loh jadi mengapa aku harus kuatir jangan-jangan dapat/dikasih yang jelek ama Tuhan? kekuatiran seperti itu membuktikan kalo kita nggak sepenuh hati mempercayai Tuhan, padahal DIA adalah Bapa kita yang tahu memberikan apa yang terbaik untuk anak-anakNya.
“ Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga!Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.” (Matius 7:11)
 Bisa jadi kita mendapatkan yang jelek, seperti yang kita kuatirkan justru karena pikiran kita sendiri. Setiap kata yang keluar dari mulut kita punya kuasa untuk mendatangkan berkat dan kutuk. Ayub pernah berkata juga,
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan , itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3 : 25)
Tuh kan?heheee…
Apa yang sebenernya dicari dan ditunggu? Mencari dan menunggu pasangan hidup agak beda dengan Mencari dan menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan. Kalo sekedar mencari dan menunggu nggak perlu susah payah doain+konsul dengan Tuhan, asal seiman aja cukup, asal dia baik, pengertian,betanggung jawab .. yang seperti itu mungkin lebih mudah dicari. Sementara kalo menunggu pasangan hidup yang dari Tuhan itu kita sedang meminta yang spesifik kepada Tuhan, perlu didoain serius, dan yang pasti memenuhi standard yang Tuhan harapkan supaya ketika kita sudah masuk dalam pernikahan kita bisa memenuhi tujuan Tuhan dalam hidup masing-masing, kesalahan dalam memilih bisa jadi merusak tujuan dan rencana Tuhan tersebut. Pernikahan itu dirancangkan Tuhan dengan sebuah tujuan besar bukan sekedar memenuhi siklus kehidupan manusia selama hidup didunia. Pernikahan adalah sesuatu yang harus dihormati, bernilai dan hanya sekali seumur hidup sehingga sudah seharusnya-kan kita memilih yang terbaik dan nggak berusaha menurunkan standard yang sudah Tuhan tetapkan. Standard yang dimaksud bukan soal fisik yang mutlak, misalnya tingginya harus berapa cm nggak kurang atau lebih, harus punya pekerjaan tertentu nggak mau dengan profesi lain…tapi soal standard rohani yang mutlak harus ada, misalnya harus mencintai dan takut akan Tuhan (karena seiman aja itu nggak cukup) dan lain-lain, tiap orang punya kriteria sendiri-sendiri’lah ya yang disodorkan ke Tuhan cuman yang mencintai Tuhan dan takut akan Tuhan itu mutlak harus ada. Sebagai seseorang yang pernah menurunkan standard rohani soal pasangan hidup, aku tahu bagaimana jadinya, ketika dulu merasa sudah nggak punya cukup kesabaran menunggu akhirnya aku berkompromi untuk menurunkan standard rohaninya, nggak apa-apa dia nggak mau ke gereja, nggak berdoa yang penting dia kan masih seiman,ntar pas udah menikah pasti mau diajak ke greja pemikiran yang salah, terlalu banyak kompromi ini itu akhirnya justru semua berantakan dan waktu yang terbuang dalam masa penantian itu jadi lebih banyak. Mengutip kata Mr. Joshua Harris (lagi), bahwa ketika anda mencari pasangan, carilah seseorang yang mau mendengarkan dan bertindak tidak terburu-buru terhadap apa yang Allah katakan padanya.
Aku nulis ini tidak semata-mata aku sudah sempurna dan mencari orang yang sempurna..sama sekali tidak..kehidupan yang kujalani adalah serangkaian proses dimana setiap harinya adalah pembelajaran jatuh bangun, berhasil-gagal untuk menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki.
Yang terakhir, (udah berapa lembar yah tulisanku?!?) hihiii…
Berapa banyak yang menganggap bahwa seorang perempuan bersikap agresif (baca : mengejar laki-laki) itu perlu dan wajar? kayaknya banyak..heheee…dulu aku juga salah satunya alasannya jaman modern-emansipasi wanita *pengakuan* . Apa yang salah dengan mengambil inisiatif duluan?apa yang salah dengan menelpon dan sms untuk menunjukkan perhatian?kalo perempuan nggak melakukan itu gimana si lelaki tahu kalo perempuan tadi tertarik. Semua terdengar normal dan benar kan?.
Mrs. Elisabeth Elliot menasehatkan bahwa, TIDAK ADA hal yang harus dilakukan seorang perempuan agar diperhatikan oleh seorang laki-laki. Jangan menelepon, menulis surat pesan pendek (jaman sekarang jangan sms), apalagi menyatakan perasaan jika kita menyukainya. Yang bisa dilakukan seorang perempuan adalah : menyerahkan semua urusan pada Allah, jika dia adalah pria yang Tuhan sediakan bagimu maka Tuhan tidak akan menahan kebaikanNya, hanya saja Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan. Perempuan itu berharga lebih dari permata so nggak mungkin juga Tuhan dengan sembarangan memberikan kita kepada seorang lelaki.
Trus berarti harus diem aja jadi seperti kepompong gitu? ya nggak juga sih. Bagian kita adalah memberi respon, mempersiapkan diri supaya kelak jadi istri yang cakap sesuai Firman Tuhan, periksalah juga motivasimu ketika kamu menghubungi seseorang apakah hanya untuk mencari perhatian dari seorang lelaki atau tidak, yah kalo emang ada hal yang penting masak akan trus diem. Lagipula dari kisah cinta pertama antara Adam dan hawa jelas bahwa maksud dan tujuan Tuhan menciptakan laki-laki adalah sebagai inisiator, dan perempuan sebagai penolong. Jika kita membalik fungsi itu, yang terjadi adalah kekacauan..jika seorang laki-laki benar-benar mengasihimu dia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu :P. Pasti ada yang mikir, yang ngomong sih gampang tapi prakteknya?Yup aku juga ngalamin kok masa-masa penundukan diri ke Tuhan soal ini dan susaaah, pinginnya melakukan ini itu  seiring waktu aku mulai paham walaupun penundukan diri itu susah namun hasilnya luar biasa, seenggaknya dengan menahan diri nggak ambil inisiatif duluan kita udah menjaga hati kita sendiri dari sakit hati yang nggak perlu. Percaya deh^^.
Ya sudahlah, sekian dulu tulisan kali ini,..
 “Anda tidak pernah menjadi atau menemukan seorang pasangan yang sempurna—kita semua adalah orang-orang berdosa—tetapi hanya orang-orang yang memiliki sikap mau taat terhadap Firman Tuhan lah yang akan terus bertumbuh dalam kedewasaan dan kesalehan di sepanjang kehidupan mereka.”
(dikutip dari I Kissed dating Goodbye)
#apa yang aku tulis disini adalah bagian dari proses pembelajaran pribadi dengan Tuhan yang tidak terjadi dengan instan, semoga bisa menjadi berkat agar kita bisa sama-sama belajar semakin melekat dengan Tuhan.

GBU all ^^

Selasa, 02 April 2013

Kalo Pacaran Ngapain Sih?


Nampaknya musim penghujan belum berakhir, diluar hujan turun dengan intesitas lumayan deras…dan cara terbaik untuk menikmati hujan sore ini adalah dengan menghabiskan waktu untuk menulis (^.^)v
Sebagai seseorang yang tinggal dan besar di sebuah kampung, aku terbiasa mendengar berbagai macam kabar sedap dan tidak sedap tersebar cepat. Seperti hari minggu kemarin, kabar kalau seorang anak perempuan dari RT seberang akan menikah tersebar luas sementara tidak ada undangan yang tersebar. Niat pernikahan diam-diam tak urung hanyalah sebuah niat tak kesampaian, toh orang lebih cepat tahu hal yang demikian. Si perempuan belia yang belum genap 17 tahun itu terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya karena terlanjur hamil . Dan setelah diruntut, 1 atau 2 tahun lalu teman sepermainan atau mungkin sahabat si perempuan tadi juga mengalami hal yang sama. Fenomena seperti ini sudah bukan hal yang baru, namun tetap saja membuatku spontan berkomentar, “Kok bisa? emang dia ngapain aja?” (nanya’nya dengan ekspresi lugu,padahal jelas-jelas tahu jawabannya).
Ada juga cerita seorang perempuan yang lain, sebut aja X. X ini hamil beberapa bulan sementara pacarnya tidak bersedia bertanggung jawab, dan membuatku miris mendengar ceritanya.
Semua yang mendengar kejadian ini akan berkata, “Salah mereka sendiri..bla..bla..blaa…”
Memang si perempuan belia tadi, juga sahabatnya, dan si X telah melakukan kesalahan yang membuat mereka harus menanggung sebuah konsekuensi yang rumit atas perbuatannya tetapi pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa apa yang terjadi atas diri mereka adalah karena mereka tidak mengerti konsep sebuah hubungan yang benar?sedangkan ditengah ketidaktahuannya mereka tidak memiliki tempat untuk bertanya dan mendapat jawaban yang benar sehingga mereka cenderung mencari kebenaran itu dari lingkungan pertemanan mereka dan media-media lain.
Semasa pacaran, si X tadi banyak curhat dengan rekan kerjanya yang dianggap lebih berpengalaman makan asam garam kehidupan..sayangnya nasehat yang didapat si X berbunyi seperti ini, “jaman sekarang kalo pacaran itu nggak sama dengan jaman dulu, jamanku dulu gandengan tangan aja nggak boleh tapi sekarang  nggak masalah kalo kamu mau “ngapa-ngapain”  itu baru gaul.”
Aku pribadi pernah sharing dengan teman beberapa tahun lalu, lantas dia bilang seperti ini, “Prinsipnya selama pacaran kamu bolehlah memberikan lebih asal nggak semuanya ( artinya asal kamu tetap menjaga keperawanan).” dan waktu itu jujur aku percaya dan setuju-setuju aja, apalagi yang ngomong ini saudara seiman *garuk kepala*. Untung cuma sebatas setuju lewat omongan aja, nggak dalam sikap.
Kitapun nggak bisa menolak visualisasi yang ditawarkan media hiburan, setiap film yang diputar selalu membubuhkan adegan romantis mulai dari bergandengan tangan, meningkat ke pelukan, cium pipi, cium kening dan seterusnya.  Jalan cerita sinetron juga dibumbui dengan kisah jatuh cinta ala ABG, anak-anak berseragam putih biru yang lebih sibuk mengejar-ngejar lawan jenisnya menggunakan berbagai cara, malah nggak fokus dengan pendidikan.
Kesimpulan yang muncul di benak mereka jadinya :  pacaran itu hubungan  antara perempuan dan laki-laki, yang didalamnya termasuk melakukan hal-hal yang sifatnya mengandung sentuhan fisik asal nggak kebablasan. Fufufu…>.< 
Benarkah demikian?
Sewaktu aku belum mengerti kebenaran Firman Tuhan aku menerima kesimpulan itu sebagai hal yang paling benar, namun sekarang lain lagi ceritanya. Pas jaman pelajaran agama di sekolah sih udah diajarin bahwa pacaran itu adalah satu fase sebelum memasuki jenjang pernikahan. Teorinya gitu dan murid sekelas tahu cuman dalam prakteknya jauuh dari teori, mikirnya malah kalo nggak punya pacar berarti nggak laku, kesepian, nggak seruàujung-ujungnya berlomba mencari pacar hanya untuk memenuhi tuntutan bukan untuk tujuan yang benar di hadapan Tuhan. Lantas kebanyakan cewek, punya pemikiran jika dia memberikan apa yang diinginkan pria dalam hal kepuasan fisik,pasti dia akan mendapatkan kasihnya selamanya (ini ada dibuku Lady in Waiting). Nggak apa-apa berpelukan, nggak apa-apa berciuman daripada ntar nggak mau malah diputus dan ditinggalkan, padahal udah cinta banget. Setelah berkompromi dengan kata nggak apa-apa malah jadi penasaran, ingin tahu dan mencoba lebih dalam lagi, begitu sadar terlambat sudah.
Satu tindakan fisik berdasarkan rasa suka bukannya melekatkan kasih mereka, tetapi justru menghancurkannya (Lady in Waiting, hal 90). Tuhan mau anak-anakNya menjaga kekudusan dirinya karena tubuh kita adalah bait Allah, dan kekudusan itu lebih dari sekedar keperawanan/ keperjakaan loh. Kekudusan itu berbicara soal bagaimana hidup kita di mata Tuhan. Nah, seandainya kita berkompromi dengan hal  yang tidak kudus lantas menutupinya dengan dalih kan yang penting  nggak kebablasan?tetap aja itu tidak benar di mata Tuhan.
So, berhati-hatilah dalam memilih pergaulan karena dengan siapa kita bergaul itu menentukan perilaku kita. Bertanyalah pada orang-orang yang memiliki otoritas yang benar, bukan yang asal cukup usia untuk memberi nasehat, ibarat bertanya arah ke orang yang salah akhirnya malah kesasar :p. Setiap nasehat yang kita dapatkan juga harus diuji nggak asal diterima dan dilakukan, pertimbangkan dengan baik nilai kebenarannya.
Amsal 18 : 24
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”
1 Korintus 15 : 33
“ Janganlah kamu sesat; Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
Kedua, Sebagai seorang cewek (cowok juga) adalah penting buat kita menjaga diri kita dengan baik. Ada konsekuensi yang lebih rumit yang mesti dibayar dan itu nggak sebanding dengan kenikmatan sesaat yang didapatkan. Jika akhirnya seperti perempuan belia tadi, pikirkanlah betapa banyak yang harus dia tanggung?pernikahan mungkin menyelesaikan sedikit masalah, tetapi siapkah dia menanggung beban rumah tangga pada usia belia tanpa bekal ijasah yang memadai dan pekerjaan?Ada banyak masalah lain menanti didepan, sudah siapkah kamu?. Belum tentu pula seseorang yang menerima segala-galanya darimu akan menjadi suami/istri di masa depan, seperti yang dialami si X.
Perasaan kasih itu tidak hanya diungkapkan lewat kedekatan fisik yang sembrono sebelum dua orang menikah, perasaan itu bisa diungkapkan dalam pengendalian diri, kesabaran.

Lalu, pacaran itu ngapain sih?
Hubungan lawan jenis tidak lagi merupakan “menikmati saat-saat indah” atau mempelajari apa yang aku inginkan dalam sebuah hubungan. Hubungan itu bukan lagi tentang mendapatkan, tetapi memberi. Setiap hubungan (terutama untuk anak Tuhan) merupakan sebuah kesempatan untuk mengasihi orang lain seperti Allah mengasihi kita. Mengesampingkan keinginan-keinginan kita dan melakukan apa yang diinginkan oleh pasangan kita. Mengasihi dia bahkan walaupun tidak ada yang dia berikan untuk kita. Menginginkan kesucian dan kemurnian dari pasangan kita karena hal itu menyenangkan Allah dan melindungi pasangan kita. (kata Mr. Joshua Harris dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, hal. 9).

Yuk, kita sama-sama belajar menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita masing-masing dari sekarang, pas masih single ataupun sudah diijinkan Tuhan melangkah ke fase berikutnya. Hihiii.

GBU ^^




Senin, 11 Maret 2013

Dia disembuhkan


Ketika dokter sudah mengangkat tangan dan berkata bahwa sisa umurnya tidak lebih dari 3 minggu saja,
Ketika satu persatu teman sekamarnya di rumah sakit akhirnya menghembuskan nafas terakhir,
Bahkan dia sendiri sudah tidak memiliki pengharapan sehingga memilih pulang ke Kota Malang setelah sekian lama tinggal di pulau seberang, Bali.
Tuhan memberi kesempatan kedua baginya untuk menjalani hidup, menganugerahkan kesembuhan.
Dia yang divonis dokter menderita infeksi paru-paru parah perlahan dipulihkan, dia yang dalam sakitnya tidak lagi mampu berjalan kini mulai bisa melangkah pelan.
Sungguh mujizat telah terjadi, dan hanya tangan Tuhan Yesus yang mampu melakukannya.
Dan aku semakin terpana, tidak percaya, sekaligus terharu...
Menyadari betapa luar biasa dan “gila” cinta Tuhan Yesus untuk kita,
Tuhan yang rela mati di kayu salib ganti dosa kita adalah Tuhan yang sama yang telah memberikan kesembuhan dengan alasan sama pula—cinta.
Sekalipun pernah ditinggalkan, pernah diingkari, Tuhan tetap mengasihi..dan itu terbukti dengan kesempatan sekali lagi  yang Tuhan berikan kepadanya untuk hidup.

(cerita kemarin siang- setelah sebuah pertemuan tidak terduga dengan seorang teman di acara bazar gereja. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dia lagi di dalam sebuah ibadah gereja, namun Tuhan membuat itu terjadi.)
# Tulisan ini untukmu, non ^^! Tetaplah berjuang, tetaplah berharap, datanglah dan jangan ragu untuk kembali pada kasihNya. Tuhan Yesus mengasihimu apa adanya. Tuhan sanggup memulihkan kehidupanmu.

Inget juga lirik lagu ini, non : 
Every sickness, every weakness, every fear and doubt and shame. Every burden, every hurt is overcome in Jesus Name -It is Done (Sidney Mohede feat darlene Zschech)
"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan  kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh"
(Yesaya 53: 4-5)



Jumat, 08 Maret 2013

Percayalah!!


Percayalah segalanya akan tetap baik-baik saja…
Percayalah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaNya yang gagal (Ayub 42 : 2)
Meskipun lagi-lagi engkau mendapati sebuah hasil yang semu—fatamorgana—dan itu menyakitkan. Sekali lagi kau mengira jalan menuju penggenapan telah terbuka  namun ternyata engkau mendapati perkiraanmu salah kaprah percayalah ini adalah bagian dari sebuah proses dimana Tuhan mempersiapkanmu sebelum engkau menerima apa yang telah DIA janjikan sejak dua tahun lalu. Setiap kerikil, dan bebatuan yang menyakitkan…setiap lorong gelap nan panjang pasti akan ada ujungnya.
Ingatlah pada Abraham yang menantikan janji Tuhan dengan sabar , yang imannya tidak menjadi lemah meskipun dia tidak memiliki dasar apapun untuk berharap sehingga dia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.
Belajarlah pada Yusuf yang meskipun dia harus menjadi budak, difitnah sehingga dimasukkan ke penjara dia tetap setia pada Tuhan sampai mimpi yang pernah Tuhan berikan kepadanya terwujud.
Tuhan akan bertindak…Tuhan PASTI bertindak dengan caraNya, bukan caramu.
Mungkin semua ini membuatmu menangis,hampir menyerah dalam kekalahan..aku mohon tetaplah bertahan meski dengan sisa kekuatanmu. Nantikanlah Tuhan, tetap ikutilah segala jalanNya apapun yang terjadi. Terus perkatakan janjiNya dan biarkan janji itu dihidupi dalam kehidupanmu.
Saat kemenangan PASTI tiba….
Suatu hari engkau pasti bisa berkata seperti yang Rasul Paulus katakan:
“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15 : 57)

(Tidak, aku tidak sedang menasehati seseorang…aku sedang berkata-kata kepada diriku sendiri)

Rabu, 06 Maret 2013

Selalu bersamaku


Sedang suka banget dengerin lagu ini karena kata-katanya yang pas banget dengan suasana hati,

Dan bukan kebetulan jika kemarin tiba-tiba dapat ayat ini dari renungan,
“Tuhan Allahmu ada diantaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dengan kasihNya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.” (Zefanya 3:17)


Banyak hal dalam hidup ini berubah seiring waktu,
Persahabatan yang dulunya hangat bisa berubah hambar.
Kenangan lama yang sudah terkubur dalam bisa muncul dalam sekejap mengacaukan hati
Jalan yang kukira semula mulai dibukakan Tuhan ternyata tertutup lagi, dan menjadi lebih gelap dibanding sebelumnya.
Pekerjaan pun diambang perubahan :D, 50 : 50 antara aku yang tetap disini dan harus menghandle semua sendirian lagi (seperti ketika aku pertama kali masuk di sini) atau aku yang dipindahkan ke puskesmas lain untuk mengisi kekosongan disana?
Aku lelah. Merasa kehilangan arah. Satu-satunya hal yang membuatku dapat terus bertahan adalah pilihan,.pilihan untuk terus melekat padaNya…
Di dalam kesesakan…di dalam kemenangan ku tahu ENGKAU selalu bersamaku…kasihMu tak jauh dari jiwaku….

Kamis, 28 Februari 2013

28 Hari di Februari


Ternyata bulan Februari sudah akan berakhir dalam beberapa jam ke depan. Waktu terasa semakin cepat berlalu. Februari yang penuh dengan kejutan, kesibukan, perjuangan.
1.     Aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan mencicipi  hal baru. Yup, di postingan sebelumnya aku ada menyinggung soal kegiatan berjualan kecil-kecilan di area NBL. Disanalah Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang baru yang menurutku kreatif dan positif, dan setelah ketemu terus menerus selama sepuluh hari  akupun tertular sikap positif dan kreatif mereka. Buktinya setelah  bertemu dengan mereka jugalah akhirnya kepikiran untuk berani melakukan sesuatu yang lebih agar mampu mencapai titik pencapaian yang lebih lagi, sekarang sih masih dalam taraf perencanaan dan didoakan.
2.       Bulan ini aku sedang berjuang keras untuk tetap fokus pada Tuhan terutama setelah Tuhan memberikan jawaban TIDAK untuk sesuatu yang aku doakan. Ku akui waktu Teduh ku berantakan, baca Alkitab jadi banyak bolongnya, doa juga sekenanya. Jauh dalam hatiku lega namun sekaligus blank karena nggak mengerti sama sekali apa yang sebenarnya mau Tuhan lakukan dalam hidupku. Merasa nggak disayang Tuhan merasa nggak berarti sama sekali, merasa diperlakukan nggak adil sama Tuhan but thanks to God yang udah mengingatkanku lewat FirmanNya di Roma 8 : 38-39
“ Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas , maupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Dan ayat ini membuatku jauh lebih tenang.
3.        Kejutan bulan ini adalah bisa beli buku baru, ada 7 buku baru 5 diantaranya beli setelah ada diskon besar dari penerbit HEhehee dan 1 yang minjem.. tapi faktanya baru  1 yang selesai di baca yaitu Chosen (Terpilih) karangan Ginger Garrett. Ini novel yang menceritakan tentang isi buku harian Ratu Ester yang dikisahkan dalam Alkitab. Pasti udah pada tahu yah cerita Ester yang akhirnya menggantikan Wasti menjadi ratu, dan bagaimana dia menyelamatkan bangsanya. Novel ini setidaknya bisa menjadi gambaran yang mendekati sebenarnya tentang kehidupan Ester pada masa itu (harusnya bikin postingan sendiri tentang novel ini). ^^
4.       Salah seorang teman baikku akan menikah dalam beberapa bulan ke depan, yang seorang lagi akhirnya dekat (atau mungkin sudah berpacaran) dengan seseorang—nggak tahu pasti karena sebatas dengar dari saudaranya yang tinggal dekat kantorku, yang satu lagi akhrinya hamil. Banyak kabar bahagia datang dan aku berbahagia untuk mereka semua. Ahh bukankah ini semua masalah waktu?pasangan hidup yang terbaik dari Tuhan tetap layak untuk dinantikan, dan aku sangat mempercayai itu. So, aku ingin menikmati setiap detik yang berharga ini dengan bersungguh-sungguh sebelum datang fase yang selanjutnya. Hahay.

So, kesimpulannya Februari terlewati dengan baik bersama Tuhan Yesus tentunya…dan Selamat Datang Maret..aku menyambutmu ^^. Hari yang baru, bulan baru, semoga aku bisa memperbaiki waktu pribadiku dengan Tuhan dan lebih konsisten menjalaninya. Semoga bisnis hasil kerja bareng beberapa orang ini akan terealisasi pada waktuNya Tuhan.  Aku mau terus berjalan bersama Tuhan.
Terima kasih untuk hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, its not about me but Jesus.
“Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Mazmur 16:2)

Jumat, 22 Februari 2013

Diingatkan Lewat Hal Kecil


Baru malam ini (tulisan ini dibuat kemaren malam tapi baru sempat diposting hari ini) bisa duduk tenang di dalam kamar dan menyalakan laptop. Ada beberapa hal yang pengen ditulis sejak berhari-hari lalu tapi terus menerus ditunda karena sibuk :p..sementara ini dulu deh yang ditulis, yang paling baru.  Jadi ceritanya, sejak hari Sabtu yang lalu tiap menjelang sore ikutan bantu-bantu saudara jualan di area NBL seri tiga yang kebetulan berlangsung di GOR BIMASAKTI Malang. Begitu pulang kerja langsung makan, mandi, nyiapain beberapa barang terus berangkat ke sana dan walaupun gak jaga full sampai malam karena gantian sama adhek tetep terasa juga capeknya :p. Yah selama aku masih single aku mau memanfaatkan setiap waktu yang aku  miliki semaksimal mungkin, karena ntar suatu waktu hal-hal seperti ini nggak bisa dilakukan lagi. Lumayan’lah ikutan kegiatan seperti ini bisa nambah pengalaman dan teman baru, bisa sharing-sharing juga, belajar mengerti kemauan konsumen itu seperti apa. Belajar menghargai pekerjaan pula, karena kegiatan seperti ini bertolak belakang dengan pekerjaan yang selama ini aku jalani. Kalau ditempat kerjaku yang resmi aku lebih berharap banyak orang itu sehat sehingga nggak perlu datang ke pusat pelayanan kesehatan, istilahnya memperingan pekerjaanku sehari-hari namun di kegiatan seperti ini justru sebaliknya, aku berharap banyak orang datang untuk membeli supaya daganganku laku :p :p. Nah, hari ini karena merasa ada tanda-tanda hujan akan turun aku memutuskan untuk bergegas pulang padahal jam enam sore belum genap. Aku agak-agak tidak berani membawa motor di malam hari, apalagi jika sampai hujan turun di malam hari T_T. Keluar dari area parkir hujan sudah turun, sampai di jalan raya intensitasnya bertambah. Aku berdoa, “Tuhan, tolong kalau bisa jangan hujan dulu ya paling nggak sampai aku dirumah.” . Butir-butir air tetap turun. Aku doa lagi, “Tuhan, kalo harus hujan ya udah nggak apa-apa aku percaya Tuhan pasti menjagaku sampai dirumah. Amin.” . Lirik kanan kiri beberapa orang sudah menepi dan menggunakan jas hujannya, tapi aku memutuskan jalan terus..baru nanti jika hujan benar-benar deras aku akan memakai  jas hujan. Eeehhh ternyata beberapa meter berikutnya butir-butir air tidak lagi berjatuhan. Yeay tidak jadi hujan. Thanks Lord.
Lantas aku teringat ke 5 hari sebelumnya,.
Hari pertama berangkat pas cuaca sedang panas-panasnya tapi hujan begitu nyampai tempat tujuan. Hujan yang cukup deras, namun pas jam tujuh malam pulang ternyata reda.
Hari kedua, pas waktunya berangkat pas waktunya hujan reda (lagi)
Hari ketiga, berangkat dibonceng dan pulang naek angkutan umum karena saudaraku ada kuliah sore.Tidak hujan.
Hari keempat, di kantor hujan tapi ajaibnya begitu nyampek Malang hanya ada sisa-sisa hujan, dan sukses pulang pergi ke stan tanpa kehujanan.
Hari kelima, berangkat dari rumah gerimis tapi lagi-lagi tidak berubah menjadi deras, malahan langit berubah cerah.
Sepertinya hujan atau tidak hujan adalah persoalan remeh temeh, bukankah hanya sebuah kebetulan belaka jika kemudian hujan tidak jadi turun? tapi apakah bisa disebut sebagai sebuah kebetulan jika itu terjadi sampai enam kali?. Aku rasa tidak. Aku tahu dan percaya hanya TUHAN yang mampu melakukan ini semua. WOW…aku sempat berkaca-kaca selama beberapa detik. Terharu karena beneran merasa diperlakukan spesial oleh Tuhan, lewat hal sesederhana ini Tuhan menunjukkan kasih setiaNya yang begitu besar. Tuhan tahu ketakutanku bawa motor di malam hari, Tuhan tahu hujan membuat jarak pandang berkurang apalagi di malam hari sementara aku berkacamata, jika hujan harus menutup kaca helm agar air tidak mengenai kacamataku. Tuhan tahu dan peduli akan itu semua sehingga DIA melakukan semua ini untukku. Tuhan begitu mengasihiku sehingga DIA  mengingatkanku lewat momen-momen berharga ini untuk tetap memandang padaNya dan bergantung sepenuh hati alias nggak setengah-setengah.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!" (Mazmur 34 : 9)


Jumat, 15 Februari 2013

Ini Ceritaku....


Happy Valentine Day.. (udah lewat sehari sih)
14 Februari….
Aku pulang dengan dua batang coklat di dalam tas, yang agak-agak melumer karena terkena terik matahari di sepanjang perjalanan pulang dari kantor. Dapat darimana?dari siapa?. Dapat dari seorang teman yang berjualan coklat dengan sejumlah uang alias beli dan bukan untuk acara tukar-tukaran coklat di hari valentine tapi untuk si adhek pemilik blog ini rosikangagelinaa yang baru saja merayakan ulang tahunnya.
Tahun kemaren di tanggal yang sama aku melihat banyak penjual bunga berjajar di sepanjang jalan terutama di dekat mall, tahun ini hanya melihat sekitar empat sampai lima penjual saja. Di salah satu penjual bunga itu ada yang membawa bunga mawar  orange dan membuatku agak-agak menginginkannya…tapi sudah pasti harganya meroket.
Malam sebelum 14 Februari ada sebuah sms yang masuk dan sekedar aku lihat lalu dibiarkan begitu saja tanpa niat membalasnya.
“Kenapa nggak dibalas?” tanya Tuhan
“ Males. Paling juga basa-basi supaya dia ada temen ngobrol dan nggak kesepian.”
“ Gimana kalau penting? ada yang harus diceritakan?”
“ Halah paling juga cerita itu-itu aja sama sekali nggak ada manfaatnya untuk aku. Yang kemaren dulu juga diheboh-hebohkan ujung-ujungnya sepele.”
Lalu aku pergi tidur dengan cueknya.
Pas bangun tadi pagi, Tuhan langsung nanya sekali lagi padaku…
“Jadi beneran nggak mau membalas smsnya?”
Aku menggeleng kepala dengan keyakinan teguh.
“Itukah caramu mengasihi, Nak?”
Aku terdiam. Seperti di”tampar” keras banget sama Tuhan di pagi buta.
Beberapa hal telah membuat kepekaanku terhadap seseorang berkurang sementara sikap acuh tak acuhku meningkat drastis..dan aku menjadikan faktor-faktor tersebut sebagai bentuk pembelaan diriku dihadapan Tuhan namun pertanyaan terakhir yang diajukan Tuhan benar-benar membuatku terdiam. Inikah caraku mengasihi sesamaku? sementara di atas sana Tuhan setiap hari rela mendengar setiap curahan hati anak-anakNya, menampung tangis, mendengar teriak kekecewaan, nada kemarahan tanpa memilih mana curhatan yang penting dan tidak bahkan sampai rela mati di atas kayu salib ganti dosa kita…aku-anakNya yang dipercayakan untuk mendengar satu atau dua orang bersikap seperti orang yang tidak mengenal kasih?. Sebuah tamparan keras di pagi buta, memberiku sebuah kesadaran yang seharusnya…bukankah aku ada untuk memancarkan kasihNya untuk sekitarku, untuk duniaku, untuk dunia mereka yang membutuhkan agar Kristus menjadi semakin nyata.

“ Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Korintus 13:2)
Selamat memberi,.selamat membagi sejuta kasih sayang yang ada.

Kamis, 31 Januari 2013

Akhirnya....Sebuah Jawaban Doa


Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa detik atau beberapa menit ke depan, sama halnya dengan ketidaktahuanku akan kapan waktunya Tuhan akan menjawab sebuah doa. Tiba-tiba saja, dan bener-bener tidak aku duga jawaban itu sampai dihadapanku...saat sedang sibuk mengambilkan obat untuk pasien pula….
Daaaannnn ternyata TUHAN berkata :

T.I.D.A.K.

Untuk sekarang aku belum bisa menuliskan apa yang sebenarnya sedang aku doakan selama kurang lebih empat atau lima bulan itu dan bagaimana detailnya aku bisa tahu jika Tuhan berkata TIDAK, mungkin nanti jika sudah saatnya dan keadaan sudah bener-bener memungkinkan untuk menceritakannya. Hehe..
So bagaimana perasaanku kemudian??beberapa menit pertama sempat merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hati “Iya gak sih ini jawaban dari Tuhan?” sambil tarik nafas panjang dan berusaha tenang.
"Jadi beneran nih Tuhan ini jawabannya?dan jawabannya adalah TIDAK?" aku konfirmasi lagi ke Tuhan di dalam hati.
dan ngerasa banget dalam hati mendengar Tuhan bilang, “Iya ini jawaban doamu!”
Hufph. Tarik nafas panjang lagi.
“ Okey Tuhan. Makasih udah memberi aku jawaban untuk sesuatu yang aku doakan belakangan ini.”
Lalu kembalilah aku melanjutkan pekerjaanku karena memang sedang tempat kerja dan sedang sibuk-sibuknya sambil sebisa mungkin bersikap tenang.
Sejujurnya saat itu selama beberapa menit  aku memang sedih dan pengen menangis. Bagaimana mungkin aku nggak sedih melihat satu hal yang ku bangun dengan hati-hati dan dengan doa plus konsul ke Tuhan dari awal banget eh ujung-ujungnya harus direlakan untuk berakhir dengan kata TIDAK. Bagaimana mungkin aku nggak pengen menangis karena sesuatu yang ku anggap sebagai yang terbaik untukku ternyata bukan yang terbaik di mata Tuhan. Tapi selebihnya aku merasa LEGA.
LEGA karena Tuhan akhirnya memberikan jawaban itu tepat pada waktuNya yaitu sekarang, bukan seminggu lagi , sebulan atau setahun lagi…aku nggak bisa membayangkan jika jawaban TIDAK itu baru aku terima sebulan atau setahun yang akan datang? Akan seperti apakah keadaannya?
LEGA karena selama proses mendoakan ini aku memutuskan untuk tidak mengikuti saran dan “nasehat” yang disampaikan beberapa orang untuk mencoba melakukan sesuatu agar ada jalan yang terbuka. Bukan karena aku nggak menurut kepada mereka yang lebih tua, namun karena aku tahu TUhan memang tidak menghendaki aku melakukan sesuatu yang seperti itu. Kalau aku mencoba-coba melakukan sesuatu dengan caraku sendiri itu berarti aku tidak mempercayai Tuhan bahwa DIA sanggup melakukan segala sesuatu? dan seandainya aku mencoba-coba membuka jalanku sendiri dan di depannya ternyata TUHAN berkata TIDAK, bukankah semua berubah menjadi lebih tidak mengenakkan
LEGA karena caraku meresponi Tuhan ternyata sudah lebih baik dibanding sebelumnya. Nggak lagi merengek-rengek plus ngeyel sesuka hati, sok tahu dan mengatur-atur Tuhan. Kali ini aku beneran nurut, menerima keputusanNya dengan tangan terbuka meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,kemana TUHAN akan membawaku kemudian. Aku memutuskan untuk tetap mengarahkan pandanganku hanya pada TUHAN saja dan terus mengikuti jalanNya. Aku tidak mau memberi tempat yang luas di dalam hatiku untuk meletakkan kekuatiran dan kekecewaan, aku tidak ingin mengasihani diriku sendiri sehingga semangatku patah.
Adapun yang terbaik sudah TUhan sediakan di depan sana, tersembunyi di ujung kabut yang pekat dan jutaan tanda tanya namun bersama Tuhan ada jaminan pasti bahwa semua akan indah pada waktuNYa.

“Karena AKU mengetahui segala rencanaKU bagimu. Demikianlah firman TUHAN. Rencana-rencana itu untuk kebaikan, bukan untuk keburukan, untuk memberi kamu masa depan yang penuh pengharapan.”
----Yeremia 29:11/FAYH------

"Sungguh Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-gambaNYa, para nabi."
---Amos 3 : 7---





Selasa, 08 Januari 2013

.........


Semua masih sama seperti ketika aku memulainya...masih berselimutkan tanda tanya.
Terkadang ingin berhenti disini, menyerah karena rasa lelah
Terkadang ingin membiarkan semua hilang begitu saja tanpa perlu dinantikan dan diperjuangkan dalam doa lagi.
 Terkadang berharap ada satu langkah yang membawa kemajuan, ada setitik cahaya terang yang memberi isyarat dan kepastian.
Entahlah...
Untuk saat ini Tuhan hanya diam..tidak memberi arahan...tidak memberi jawaban.
Hening.
Rupanya aku masih harus menunggu sekali lagi ^^


“ Tetapi hendaklah engkau berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Timotius 3 : 14)
“ Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3 : 11—BIS)

Jumat, 04 Januari 2013

Mengantri = Menunggu


Bulan kemaren di suatu pagi menjelang siang, bersama seorang teman aku sedang menunggu giliran untuk mengambil berkas. Kalau tidak salah aku ada di urutan kedua atau ketiga sehingga kira-kira harus menunggu selama 30 menit untuk sampai ke giliran kami. Selang berapa lama, seorang bapak keluar dari ruangan kantor lalu menghampiri si mas yang sedang sama mengantrinya denganku. Nah ternyata si mas tadi meminta tolong kepada si bapak yang memang berkantor disitu untuk mendahulukan berkas miliknya, jadilah dalam waktu tak lebih dari 30 menit berkas sudah ada di tangan sementara aku yang mengantri lebih dulu harus lebih lama duduk di ruang tunggu.
Kejadian seperti itu sudah terlalu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, kadang aku berada dalam posisi menjadi orang yang merasa diperlakukan tidak adil karena orang-orang lain yang memanfaatkan koneksi atau pertemanan mereka untuk memuluskan kepentingan mereka sendiri dan mengabaikan orang lain yang memiliki kepentingan sama. Kadang juga berada di posisi menjadi orang yang “dimintai” tolong, ingin menolak namun tidak mampu.
Di sisa waktu menunggu mengambil berkas, meskipun kemudian menjadi agak dongkol karena kejadian si mas yang faktanya bisa mendapatkan berkasnya tanpa mengantri lama aku mulai memikirkan kegiatan antri mengantri itu. Seandainya saja orang pertama dalam antrian membutuhkan waktu 10 menit untuk mendapatkan berkasnya, maka aku sebagai orang kedua akan membutuhkan waktu lagi 10 menit lebih lama dari orang pertama atau kira-kira totalnya 20 menit. Nah berhubung si mas yang ada di antrian keempat atau kelima tadi memanfaatkan koneksinya maka dia sudah membuat orang pertama menunggu bukan hanya menunggu 10 menit saja, bisa jadi 10 menit + 10 menit lagi, demikian seterusnya.  Nah, pernahkan terpikirkan terkadang cara seperti itu merugikan orang lain? bagaimana seadainya karena seseorang yang memotong antrian seorang yang lain harus menunggu 10 menit lebih lama lalu orang tersebut terhambat perjalanannya dan ketinggalan kereta atau pesawat. Bukankah itu merugikan?
Kejadian antri mengantri itu hampir mirip dengan apa yang terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak Tuhan, termasuk aku ^^. Ada beberapa hal yang mengharuskan kita ada dalam status menunggu. Sepertinya Tuhan menjanjikan sesuatu dan kita begitu bersemangat di awal tetapi semakin ditunggu semakin tidak ada yang terjadi, semakin membosankan dan lama. Dalam hati kita mulai memikir-mikirkan cara bagaimana agar apa yang Tuhan janjikan segera terjadi (bukan terjadi pada waktunya Tuhan melainkan dalam waktu yang kita inginkan). Kita mulai mencoba melakukan A, melakukan B tanpa konsultasi ke Tuhan atau parahnya melakukan A, B dengan analisa-analisa pribadi. Jika aku melakukan A maka akan terbuka jalan yang seperti ini..ini..dan ini. Begitu kita sudah melakukan A, ehh ternyata hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka akan kecewalah kita dan menyalah-nyalahkan Tuhan, mempertanyakan mengapa DIA tidak mengarahkan kita (padahal  kita sendiri tidak berkonsultasi dengan Tuhan dari awal). Atau sesuatu kemudian terjadi tetapi tidak mendatangkan berkat pada kita karena kita mendahului waktu Tuhan. Sebagai contoh Kisah Raja Saul dalam 1 Samuel 13 : 1-14, Raja Saul tidak sabar menunggu kedatangan Samuel sehingga ia mempersembahkan korban bakaran sendiri. Akibat dari perbuatannya kerajaan yang semestinya akan dikokohkan Tuhan untuk selamanya tidak terjadi.
Jika dari hal  kecil seperti ketidaksabaran dalam mengantri saja bisa merugikan untuk orang lain, apalagi untuk ketidaksabaran kita akan hal-hal besar dalam kehidupan kita. So, apapun yang sedang kalian hadapi saat ini dan apa janji Tuhan yang sedang kita tunggu dalm kehidupan kita masing-masing, marilah kita terus menantikannya dengan kesabaran, dengan tidak berusaha membuka-buka jalan dengan cara kita sendiri seolah kita sedang mendikte Tuhan untuk membuat alur kehidpan kita berjalan seperti yang kita mau. Lewat kesabaran kita sebenarnya bukan hanya belajar untuk mempercayakan sepenuhnya kehidupan kita ke tangan Tuhan, namun juga belajar untuk setia kepada Tuhan lewat perkara-perkara kecil, belajar menikmati setiap proses. Jika untuk hal kecil saja kita tidak sabar, lalu membuat kita terbiasa mengambil jalan pintas bagaimana dengan generasi berikutnya yang Tuhan titipkan kepada kita (entah itu adik, anak, saudara dll) mereka melihat kita dan menjadikan kita panutan. Apakah kita mau generasi yang Tuhan titipkan menjadi generasi “serba instan”?


Selasa, 20 November 2012

Sebuah Pilihan Untuk Taat


Sedikit membahas tentang ketaatan ...
Jadi selama setahun terakhir ada sesuatu yang sedang aku tunggu,, kalo di jaman Perjanjian Lama dikisahkan Tuhan berjanji kepada bangsa Israel akan membawa mereka ke sebuah tanah yang penuh susu dan madu (Keluaran 3: 17) maka sekarang dalam konteks yang serupa namun tak sama Tuhan menjanjikan sebuah tanah perjanjian / promise land kepadaku. Sesuatu yang sifatnya detail dan sangat personal dan yang pasti untuk saat ini belum saatnya untuk diceritakan ^ ^. Dari awalnya ketika semangat untuk menunggu ada di level tertinggi sampai semangatku sudah menurun drastis. Acap kali keragu menggelayuti, pertanyaan-pertanyaan yang sama terus membayang-bayangi, tidak jarang kemudian jadi meragukan kemampuan kuasa Tuhan untuk melakukan sesuatu bahkan yang paling mustahil sekalipun. Memang sejak awal ketika Tuhan mulai menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan "promise land" ini aku tahu jalannya tidak akan mudah untuk dilalui. Beberapa orang bahkan mempertanyakan mengapa aku memilih jalan ini? Padahal ada jalan lain yang lebih mudah dan gak perlu sesusah ini.
Iya .. ya,, kalau dipikir dengan logika aku sendiri juga merasa ini sesuatu yang aneh dan sepertinya memang gak masuk akal? Ada jalan yang mudah mengapa milih yang sulit?
Nah .... ini gimana to Tuhan?
Tuhan mengingatkan aku pada kisah Ishak di Kejadian 26.
Alkisah pada masa itu kelaparan hebat sedang melanda,
"Maka timbullah kelaparan di negeri itu,-ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin "(kejadian 26: 1)"
Apakah Ishak seketika pergi ke Gerar?
Tidak, di ayat berikutnya di tulis
"Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman:" Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan KU katakan kepadamu. "(Kejadian 26: 2)
Atau dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari dituliskan dengan jelas seperti ini,
"Hal itu dilakukannya (dilakukan Ishak) karena TUHAN telah menampakkan diri kepadanya dan berkata. "Jangan pergi ke Mesir tinggallah di negeri ini seperti yang Kuperintahkan kepadamu" (Kejadian 26: 2-BIS)
 Aku membayangkan gimana seandainya ada di posisi Ishak saat itu? Kalo aku .. mungkin bakal komplain ke Tuhan, "kok ke Gerar sieh Tuhan? Bukannya di Mesir itu bla .. bla .. blaa." Aku bakal mengutarakan argumentasi logis ke Tuhan. Belum lagi ketika menghadapi pertanyaan orang-orang di sekelilingnya, yang tentu saja ada yang gak setuju dengan keputusan Ishak pergi ke Gerar. Mungkin nieh (ini imajinasi pribadiku sendiri sih) orang-orang nanya "Ngapain sih kamu malah milih tinggal di Gerar? Rencana awalnya kan ke Mesir? Emangnya kamu nggak kuatir kalo tinggal di Gerar sini? Daaannn kalo aku yang jadi Ishak mungkin aku mulai meragukan Tuhan begitu mendengar banyak omongan dan pendapat orang lain. Aku bakal bertanya ke Tuhan "Beneran nieh Tuhan? Aku disuruh tinggal di Gerar?" Hehee ...
Tapi kita semua tahu, saat itu Ishak memilih untuk TAAT, di ayat 6 di sebutkan
"Jadi tinggallah Ishak di Gerar."
Setelah Ishak memutuskan tinggal di Gerar, Ishak mulai menabur dan apa hasilnya? Dia mendapatkan hasil seratus kali lipat pada tahun itu juga karena is diberkati Tuhan (Kejadian 26: 12)
Apa yang ku dapatkan dari ini?
Yup, Tuhan sedang meneguhkan kembali sesuatu yang berhubungan dengan promise land itu .. tentang bagaimana aku harus taat pada apa yang Tuhan minta untuk aku lakukan tanpa peduli apapun keadaannya sekarang, tanpa peduli apa kata orang. Aku tahu, banyak orang diluar sana yang bertanya-tanya "mengapa kamu memilih jalan ini?Bukannya ada jalan yang jauh lebih mudah dan itu nggak perlu membuat kamu mengalami perlambatan-perlambatan seperti ini?.
Nah, apalagi semakin kesini jalan menuju promise land itu kok sepertinya bertambah gelap?Ini gimana sih Tuhan? Selama beberapa bulan terakhir sampai beberapa hari lalu sama sekali gak ada tanda-tanda bakal ada pintu yang bakal terbuka, sedikiiiiit celahpun nggak ada. Situasi yang benar-benar membuatku sangat sangaaatttt tergoda untuk lari dari jalan TUHAN, keluar dari kehendakNya. Aku mulai mempertimbangkan omongan dan pendapat orang, mulai berpikir gimana seandainya selama ini aku salah jalan? Bukannya aku malah membuang waktu? Gimana kalo ternyata benar jalan yang mudah itu yang semestinya harus aku pilih? Parahnya ku berpikir gimana kalo Tuhan lupa terhadap janji-Nya kepadaku?
Dengan sabar Tuhan memberiku pengertian lewat kisah Ishak ini, posisiku sekarang ada di posisi yang sama ketika Ishak mengikuti perintah Tuhan; ia menjadi seorang pendatang / orang asing di Gerar. Aku emang nggak disuruh Tuhan untuk mutasi ke kota lain dan menjadi pendatang sih, cuman Tuhan mau menyatakan bahwa posisiku sekarang dengan segala keputusan yang aku buat untuk terus mengikuti jalan yang Tuhan tunjukkan ini telah membuat aku seperti seorang yang asing di antara orang-orang disekitarku. Aku memilih jalan yang gak lazim, sebuah pilihan yang secara logis akan direject seketika oleh kebanyakan orang. Aku rela beberapa hal mengalami perlambatan dan mimpi-mimpi pribadiku dihancurkan Tuhan hanya demi promise land., Orang "normal" pasti berpikir kok ya rela wong hasilnya aja belum tentu sama dengan yang kamu harapkan. Ketaatan Ishak secara positif bisa diartikan sebagai bentuk kepatuhannya pada Tuhan, sebagai bukti bahwa hidupnya melekat pada Tuhan .. walaupun secara logis ketaatan itu juga bisa diartikan sebagai sebuah keputusan terlalu beresiko.
apa yang dilakukan Ishak di Gerar selanjutnya adalah menabur. Ini adalah bukti bahwa ishak juga nggak main-main dengan ketaatannya sama Tuhan. Ishak nggak berpikir "ah udah nyampai di Gerar aku ongkang-ongkang aja. Kan Tuhan yang nyuruh aku tinggal di sini jadi ngapain susah-susah, ntar juga Tuhan yang bakal nyediain segala sesuatunya. "Wkwkw .. Ishak bekerja, ia menabur dan mendapatkan hasilnya begitupun yang Tuhan mau dari aku. Tuhan mau aku tidak hanya taat, ongkang-ongkang menunggu Tuhan membawaku begitu aja ke promise land. Tuhan mau aku menabur, menabur dalam hal ini aku harus berdoa dan berdoa tanpa menghiraukan kondisi yang semakin gak jelas, tanpa melihat pintu yang belum kunjung terbuka tapi melihat kepada Tuhan yang berkuasa untuk membuka pintu itu untukku.
Ahh Tuhan, makasih banyak karena sudah mengingatkan aku di saat yang tepat ketika niat dan godaan untuk melarikan diri dari kehendak Tuhan rasanya sudah nyaris aku lakukan. Makasih karena terus meyakinkan aku untuk terus berjalan dengan iman dan doa.Aku tahu aku akan sampai ke promise land, akan tiba saatnya apa yang Tuhan janjikan kepadaku digenapi. Seperti Ishak yang menuai hasil seratus kali lipat, maka Tuhan juga mampu melakukannya untukku. Aku akan menuai hasil dari doa yang ku tabur. 

Sabtu, 02 Juni 2012

Menanti...dan...terus menanti...


Saya sedang menunggu janji Tuhan dalam hidup saya tergenapi. Duluuuu sekali saya berpikir betapa menyenangkannya ketika kita berjalan dengan memegang janji Tuhan. Seperti misalnya Abraham yang telah mendapat janji Tuhan bahwa dia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa ( Kejadian 17: 4). Dalam pandangan saya betapa enaknya menjadi Abraham karena dia tahu apa yang akan Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Dia hanya harus menguatkan iman kepercayaannya kepada Tuhan, duduk bersantai sambil menunggu Tuhan menggenapi semua yang telah Ia janjikan. Sayangnya pandangan saya itu terbukti salah, dan saya baru menyadarinya belakangan ini ketika saya tahu Tuhan menjanjikan sesuatu kepada saya secara pribadi.  Ternyata menunggu itu tidak mudah, ada masa up and down, ada masanya saya secara pribadi mulai merasa janji itu sangat mustahil untuk digenapi.
Seperti sekarang ini, dalam ketiba-tibaan Tuhan membawa saya masuk ke dalam lorong gelap. Tanpa sepengetahuan dan seijin saya, karena tentu saja jika penawaran diajukan kepada saya apakah bersedia atau tidak melewati lorong gelap ini maka dengan pasti jawaban saya TIDAK MAU ^^. Pertanyaan pertama saya ketika mulai menapaki lorong gelap ini adalah, “mengapa saya harus berada disini?”. Janji Tuhan yang semula nampak begitu nyata perlahan-lahan berubah samar,semakin samar, kemudian makin tidak terlihat. Semangat saya untuk menunggu perlahan juga ikut menyusut drastis, dari yang menggebu-gebu sampai ke titik nol bahkan minus. Sudah tidak terhitung berapa kali saya berteriak-teriak kepada Tuhan berharap Tuhan turun untuk memeluk saya memberi kekuatan yang baru bahkan dengan memelas saya berharap dengan sangat agar Tuhan segera membawa saya keluar dari lorong ini segera. Pertanyaan-pertanyaan dalam hati sayapun jadi beranak pinak, tidak cukup mengapa tetapi juga kapan, apa, dimana, bagaimana.
Kapan lorong gelap ini akan berakhir? Kapan janji Tuhan akan tergenapi?
Apakah penantian ini akan sepadan hasilnya?
Dimana pertolongan Tuhan?
Bagaimana jika ternyata selama ini saya salah mengartikan janji Tuhan? bukankah saya hanya membuang-buang waktu untuk menanti?
Dan jawaban Tuhan terhadap saya adalah TIDAK ADA. Saya masih diharuskan untuk menunggu lagi dan lagi.
Jujur saya begitu ingin (tergoda) untuk menyerah sekarang, namun saya juga mengerti itu bukan pilihan bijaksana. Tuhan telah menciptakan saya sebagai pemenang, bukan pecundang yang kalah sebelum peperangan di mulai. Saya mencoba mengingat-ingat apa yang telah Tuhan lakukan sebelum  perjalanan dalam lorong gelap dimulai, bagaimana Tuhan terus meyakinkan saya tentang janjiNya bahkan dengan cara yang terlihat memaksa dan nyeleneh. Bagaimana Tuhan akhirnya membuat saya setuju mengorbankan mimpi-mimpi pribadi saya demi rencanaNya yang lebih besar dalam kehidupan saya di masa depan. Lalu apakah pantas jika detik ini saya menyerah hanya karena saat ini berhadapan dengan lorong gelap? 
Saya yakin pada masa itu Abraham juga mengalami masa up and down, dia tentunya bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana mungkin janji itu tergenapi namun Abraham tidak pernah kehilangan pengharapannya kepada Tuhan sampai akhirnya janji itu tergenapi.
“Abraham menanti dengan sabar dan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.” (Ibrani 6 : 15)
Memang, saya tidak pantas untuk menyerah sekarang dan saya tahu Tuhan tidak ingin melihat saya menyerah. Saya harus terus bertahan, karena pada akhirnya proses ini bukan sekedar bagaimana janji Tuhan tergenapi namun bagaimana saya dibentuk menjadi semakin serupa dalam pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus.
Nb : untuk siapapun di luar saya (terutama sahabat saya) yang saat ini juga sedang menunggu janji Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing tergenapi, apapun itu bentuknya...tetaplah menanti dengan sabar. Tuhan yang akan menguatkan kita dalam penantian.
“ Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya.....” ( Mazmur 12 : 7-8a)