Tampilkan postingan dengan label dunia anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia anak-anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Teman Kecil (3)

Hai teman kecilku…

Aku yakin kamu tidak mengenal siapa aku, sama seperti aku tidak mengetahui namamu.
Aneh bukan? padahal kita tinggal di daerah yang sama.
Dan aku lebih yakin lagi jika kamu sama sekali tidak menyadari bahwa selama beberapa menit perhatianku hanya tertuju kepadamu, seorang gadis dengan kaos dan celana berwarna pink, lengkap dengan sebuah bando yang juga berwarna pink (^.^)a.
Kamu tentunya masih bingung dimana tepatnya kita bertemu?
Baiklah..akan ku beritahu. Kemarin di tempat mangkal si mas penjual bakso—disitulah kita pertama bertemu.
Aku masih ingat benar, kamu datang dengan menggenggam beberapa lembar uang ribuan tanpa ba..bi..bu..tiba-tiba berdiri tepat di samping si mas penjual bakso melayani pembeli (padahal semua pembeli lainnya berdiri di depan gerobak bakso).
“ Awas ada rokok.” ingat si mas kepadamu karena badanmu yang menempel terlalu dekat ke gerobak dimana si mas meletakkan batang rokok yang dibiarkan menyala karena ditinggal melayani pembeli.
Dan aku terperangah dengan reaksimu,
Bukannya menjauh dan mengambil jarak aman kamu justru bertingkah agak kelewatan (setidaknya menurutku secara pribadi). Gerak tanganmu dengan manjanya memukul-mukul pelan si mas penjual bakso sambil sesekali menarik pakaiannya. Lalu berkomentarlah mas penjual bakso dengan bahasa jawa, “ Sek cilik ae tingkahmu koyok ngene, pinter ngerayu opo maneh gedene?!?!” (masih kecil saja kamu sudah berani bersikap seperti ini (notabene bukan kepada orang yang dia kenal dekat) apalagi ketika kamu besar?”)
Dan kamu yang mendengar komentar itu bukannya merasa malu, malahan menunjukkan ekspresi kegirangan. Sepertinya kamu merasa senang karena berhasil mendapatkan perhatian dari seseorang).
Hai teman kecilku...aku rasa  belum waktunya bagimu bersikap seperti itu?
Menjadi dewasa sebelum waktunya....
Nikmatilah waktumu sebagaimana adanya, menjadi anak-anak yang menikmati dunia masa kecilnya yang indah....tanpa sibuk melakoni peran menjadi seorang dewasa dengan cara yang salah kaprah.


Jumat, 23 November 2012

Teman Kecil (2)

Hai, teman kecilku...
Apa kabarmu hari ini?
Masih sakit-kah engkau?
Tidak apa-apa. Tak lama lagi kau akan segera sembuh dan bisa kembali bermain dengan teman-temanmu,.tenggelam dalam duniamu yang penuh tawa.
Bagaimana  rasanya?tentu tidak menyenangkan terlalu sering terbatuk-batuk seperti itu?
Apa kau merasakan bahwa terasa berat bagimu untuk menghirup molekul-molekul udara disekitarmu?
Sepertinya iya,.hanya saja kau tidak bisa menggambarkannya karena bukan rasa sakit yang teramat sangat yang sedang kau rasakan melainkan sinyal tanda bahaya yang dikirimkan oleh indramu.
Ah teman kecilku, aku tak tega melihatmu seperti ini..
Mengapa kamu harus menjadi korban dari kesenangan orang-orang disekitarmu yang membakar sebatang rokok untuk kenikmatan pribadinya namun membagi asapnya kepadamu?membagi deritanya untukmu?
Mengapa kamu yang masih sekecil ini "dipaksakan" menghirup lebih banyak nikotin, karbonmonoksida, ammonia,metanol dan lain-lainnya dibandingkan oksigen?
Apakah mereka benar-benar tidak mengerti seberapa berharganya masa depanmu sehingga dengan mudah menyia-nyiakanmu dengan cara seperti ini?
Teman kecilku,..
Aku harap engkau akan baik-baik saja agar engkau bisa terbang setinggi-tingginya..agar engkau bisa kembali ceria dan tertawa.
Agar kelak engkau bisa mengatakan kepada mereka yang telah melakukan kesalahan ini terhadapmu untuk tidak mengulanginya sehingga di masa depan tidak perlu ada yang mengalami seperti yang kau alami saat ini.


Rabu, 21 November 2012

Teman Kecil

 Pagi itu, Dhek!
Berulang kali kau bertanya padaku apa aku bersedia menemanimu ke sekolah? dan dengan rasa takjub karena memandangi wajah lucumu berubah menjadi semakin lucu karena pulasan make up aku mengangguk tanda setuju.
Pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya ketika kau selalu mengeluhkan seragam sekolahmu yang kesempitan.
Di sekolah, kau tertawa lepas seakan lupa bahwa beberapa menit sebelumnya kau spontan mengerucutkan bibir hanya gara-gara terlalu banyak orang yang berlagak sok mengatur pose fotomu. Ya,.kau juga terbahak-bahak menyaksikan teman-temanmu menjelma bak sosok pangeran dan putri raja yang cantik dengan kostum yang mereka kenakan.
Binar matamu tidak mengisyaratkan sedikitpun kedengkian terhadap mereka yang berdandan jauh lebih baik darimu.
Dhek, tahukah kamu...seketika memori lama menggelayut dalam otakku. Betapa sederhananya kehidupan yang kau miliki--sederhana namun sempurna. Kau belum cukup mengerti apa arti cinta sebab bagimu semua yang kau dapati hingga hari ini adalah kasih sayang tulus. Kau menikmati apa yang ada dihadapanmu, dan semua waktu adalah kebahagiaan terindah. Tak pernah dan memang tak perlu berpura-pura dalam segala hal hanya demi menyenangkan orang disekitarmu.
Masa-masa yang kau miliki hari ini telah berlalu dariku sejak lama, dan kini aku mendambanya sekali lagi (andai saja bisa)
karena mengenalmu adalah kesempatan
Menyentuhmu adalah anugrah
Hidup bersamamu adalah pengalaman
Teman kecilku,senang bertamasya mengarungi jejak masa lalu bersamamu