Tampilkan postingan dengan label corat coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat coret. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Sisa Kenangan

Udah akhir Juli, yah…akhir-akhir ini ada cukup waktu luang buat duduk tenang menyalakan laptop namun justru mood buat menulis sama sekali nggak ada. Kali ini juga sekedar iseng nulis tentang memori indah masa remaja yang sudah nggak mungkin kembali lagi.
Kemaren sore pas cuaca sedang cerah dan gak sedang ngurus ini itu *soksibuk* aku pergi jalan-jalan bersama si adekku. Jalan-jalan yang beneran jalan alias gak bawa motor, udah niat banget berangkat jalan kaki dari rumah sampai ke Gramedia, muter-muter pusat perbelanjaan, sampai pulang lagi. Sewaktu berangkat kita ambil rute yang melewati sekolahan SD dan SMP kita dulu. Terakhir mengenyam pendidikan disana itu tahun 2001an jadi udah 12 tahun berlalu. Hmmm. Beberapa memori masa sekolah yang nancep di hati sampai sekarang,

Di sekolah waktu SD jajanannya kerupuk bulat warna putih, kadang tempe goreng yang dimakan pake sambal, bukan saos sambal botolan tapi sambal uleg yang sebenarnya dipake untuk nasi rawon :p dan kantin sekolahnya di deket kamar mandi. Kok doyan yah waktu itu?untung gak lama kemudian kantinnya dipindah ditempat yang lebih layak. *muka pucat*. Berhubung jaman itu uang saku terbatas, selain jajan kerupuk biasanya sengaja gak jajan apapun pas disekolah karena pengen beli jeli sachetan yang dibekukan di warung. Semacam jajanan elit pada masa sekolah. wkwkwk
Hal yang dilakukan waktu istirahat, jaman SD : main bentengan, bola bekel, petak umpet, kartu kuartet, dakonan pake biji ato kerikil ; jaman SMP : ngerumpi, ngegosipin cowok-cowok *halah*, nyari buku bacaan di perpustakaan.
Langganan disuruh nulis di papan, dampaknya justru sering ketinggalan catatan karena begitu dirumah males nyalin catatan dibuku.
Pernah ngikut lomba Cerdas Cermat Alkitab tingkat SMP se-Malang dan Puji Tuhan setelah belajar siang malam tanpa henti, dengan mencucurkan keringat akhirnya menang juara 3.
SMP, masa-masa paling aktif di komunitas rohani (sampai SMA). Rajin ikut persekutuan remaja di gereja sebelah sekolah, dan pernah suatu ketika persekutuan di rumah seorang teman ada kejadian unik kitanya lagi kebaktian didalam,sandal/sepatu sandal yang ditaruh luar raib begitu saja diambil pencuri alhasil sekitar tujuh orang pulang dengan nyeker. Rindu masa-masa punya komunitas seperti dulu. Rindu kalian semua, guys^^
HP masih jadi barang amat sangat mewah dan belum semua orang punya telepon rumah, jadilah lebih banyak curhat ke sahabat lewat surat. Bisa nulis sampai berlembar-lembar folio, entah apa aja yang diomongin. Sekarang nulis besok pagi ketemu disekolah diberikan, gantian besok nunggu balesannya. Gitu terus setiap hari, sempat dikumpulin sih surat aku dan nona F bisa sampai satu kresek agak besar, sekarang udah dibuangin semua, seingatku isinya kalo dibaca sekarang pasti GJ dan  bikin ngakak.
Masa-masa mulai merasakan cinta monyet, masih lugu tapi sok dewasa akhirnya justru di akali sahabat sendiri (dianya baru ngakuin kebohongan masa lalunya pas SMA).
Sering banget nangis, melankolis tingkat parah kadang tanpa alas an alias galau, hahaa.Puji Tuhan, sekarang udah banyak diproses Tuhan supaya gak seperti itu lagi.

Sebagian besar memori masa remaja udah hilang sih, tertumpuk oleh memori-memori baru akhirnya pudar gitu aja. Seenggaknya ini,.. secuil dokumentasi yang tersisa dari masa lalu itu.


Senin, 03 Juni 2013

(Nge)-Mall

Satu keluarga  besar yang (mungkin) cukup berada dalam hal financial, keliling di foodcourt membeli beraneka jenis menu makanan sampai mejanya nggak cukup :p ujung-ujungnya nggak ada yang dihabisin. Semua hanya dicoba satu dua suapan lalu ditinggalkan sementara diluar sana banyak orang hidup dibawah garis kemiskinan,kekurangan, bahkan untuk membeli satu kilo beras saja harus membanting tulang. #gakhabispikir.
Seorang bapak menggandeng putri kecilnya melintasi escalator naik, tanpa sepengetahuan anaknya yang memang belum mengerti apa-apa si bapak memainkan mata dan menggoda genit perempuan-perempuan muda yang menggunakan escalator turun.
Perempuan berparas cantik sibuk menghabiskan sebungkus rokok bermerk di sudut keramaian sebagai obat pembunuh sepi, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Dua anak perempuan bermain masak-masakan di playland sampai melebihi batas waktu yang disepakati, dan ketika si mbak penjaga playland bertanya, “Mana mamanya?jamnya sudah habis?” si anak yang lebih besar menjawab, “Mama masih perawatan di salon, kami disuruh nunggu disini." *garuk kepala*
Seekor anjing entah dari ras apa, meringkuk tenang dalam gendongan sang majikan. Betapa beruntungnya si anjing kecil itu, lebih beruntung dari anak si majikan yang justru terlihat seperti anak kekurangan kasih sayang.
Adegan kekerasan rumah tangga terjadi nyata tanpa sensor di tengah hiruk pikuk, lengkap dengan properti benda tajam yang siap digunakan bila nyawa terancam.  
Dari lagu khas Indonesia yang sedang popular, lagu himne posyandu yang liriknya tentang imunisasi dan oralit :p, sampai lagu True Worshipper yang memanjakan telinga.
Anak muda kreatif yang sudah sanggup merintis usaha dengan modalnya sendiri. Dulu aku pas seusia mereka belum punya pikiran untuk itu ya?!?
Segelas milkshake, racikan kopi ala café, keripik hingga kentang goreng bisa dicicipi gratis dengan modal pertemanan


Satu tempat dengan beragam cerita, dan ini sebagian kecil diantaranya…

Senin, 27 Mei 2013

Cerita Kita Tak Pernah Sama

Kita duduk berdua di kedai ini, kedai yang sama dengan sebelumnya. Menikmati sepiring mie ekstra pedas dengan kuah hangat,-menu yang masih sama namun hati kita berdua telah berbeda.
Binar matamu menyorotkan kegembiraan lama yang memudar, seperti selaksa bintang benderang di antara langit malam yang gelap. Berulang kali engkau berucap, menanyakan ini itu namun entah mengapa aku sama sekali tak berniat memberi jawab.
Kamu memberitahuku jika kamu sangat merindukanku, sedangkan aku memasang muka datar.
Kamu berusaha mencairkan beku, dan mengorek kisah kehidupan pribadi yang lama tidak ku bagi denganmu,aku hanya berujar tidak perlu ada privasi yang ku bagi denganmu lagi.
Kamu terus mencecar tanya  tidak pantang menyerah, namun bagiku itu tidak lebih dari kesia-siaan belaka.  
Aku muak. Diamku ternyata tidak mampu menghentikan bicaramu. Aku membanting keras sendok dan garpu yang semula ku genggam lalu bangkit meninggalkanmu dalam kebingungan yang baru.
Ku tinggalkan dirimu sendiri disana, dengan air mata yang nyaris tertumpah.  Kamu bangkit mengejarku, menghadang langkahku yang nyaris sampai di trotoar jalan besar. Berteriak kencang dihadapan mukaku, satu kata saja..MENGAPA?
Aku berlalu begitu saja. Ku harap engkau paham maknanya. Perpisahan.
Sudahlah, cerita diantara kita memang tidak akan pernah sama lagi. Jadi jangan paksa aku untuk kembali.
Pilihan sudah ditentukan, jalan hidup kita telah sampai dipersimpangan yang mengharuskan kita berpisah arah. Jangan memaksakan diri untuk mengekor di belakangku, atau menggenggam erat tanganku agar aku mengikuti pilihanmu.
Aku telah memilih jalanku sendiri.
Usah peduli dengan apa kata mereka yang menaruh tanya dan curiga diantara ketidakmengertian yang sama.
Aku bukan pengisi kehampaanmu, mesin penjawab setiap sms dan telepon yang beroperasi 24 jam kapanpun kamu ingin menggunakannya. Aku bukan pembenaran atas hatimu yang kau duakan dengan yang lain, mengenai ini aku amat tak sepaham.
bertahun-tahun aku diam namun  akhirnya tak tahan
jangan paksakan aku untuk mengembalikan kisah ini agar seindah dulu, semua tak pernah sama lagi
Dua orang yang bersahabatpun akhirnya berpisah, disini di kedai ini…



Selasa, 23 April 2013

BelmiroFood

Kali ini mau numpang ngiklan...^.^


Akan ada di Foodcourt MOG lt.3 mulai 25 April 2013
Untuk yang ada di area Malang atau yang lagi berkunjung ke malang silakan berkunjung yach :p :p
Thanks.

GBU All ^^




Sabtu, 30 Maret 2013

Bahagia?


Teman : “ Enak ya teman kita si R, sudah menikah, sebentar lagi punya anak, sudah punya rumah sendiri pula. Pasti hidupnya bahagia.”
Aku : “Mungkin, kita hanya melihat kehidupannya dari sekelumit kisah yang muncul dihadapan kita tapi kita tidak pernah tahu benar isi hatinya.”
Teman : “Gitu ya?”
Aku : “He eh.”

Berapa banyak dari kita yang mengukur kebahagiaan dengan ukuran apa yang kita miliki dan tidak kita miliki?
Ketika kita melihat seseorang memiliki sesuatu yang tidak atau belum kita miliki dengan buru-buru kita memberikan label kasat mata bertuliskan BAHAGIA di diri mereka?dan secara tidak sadar kita menempelkan label “TIDAK BAHAGIA” ke diri kita sendiri.
Padahal apa yang kita lihat sebagai kebahagiaan milik orang lain belum tentu benar-benar kebahagiaan di mata mereka,
Keadaan tak jarang juga terbalik, diam-diam mereka bisa saja melabeli kita sebagai orang BAHAGIA atau yang LEBIH BAHAGIA
Bahagia itu soal keputusan hati…
Bahagia itu milik siapa saja, bukan hanya orang-orang berpakaian modis, bermobil mewah, gadget yang tidak pernah ketinggalan jaman, bahagia juga milik mereka yang hidup sederhana bahkan sepertinya kekurangan.
Bahagia itu bersyukur, karena bersyukur kita bahagia…

Jumat, 08 Februari 2013

Maaf

Maaf untuk kata T.I.D.A.K yang harus kusampaikan,

maaf karena setelah sekian lama tidak membuatku berubah pikiran dan berubah keputusan. bukankah semua sudah jelas dari awal?aku tidak pernah menggantungkan apapun di antara jutaan waktu yang telah berlalu. Sama sekali tidak..meski demikian aku tetap meminta maaf atas semuanya itu.
Mungkin bagimu, bagi mereka, dan bagi orang lain ini adalah sebuah pernyataan sikap yang tidak wajar, tentang bagaimana seseorang mengambil resiko dari sebuah pilihan, mengapa menolak sebuah tawaran "terbaik" yang bisa dunia berikan demi sesuatu tidak  berwujud-tak kasat mata yang terus aku hidupi menggunakan IMAN.
Sekali lagi aku katakan Maaf..pasti mengecewakan namun inilah kenyataan.




Minggu, 27 Januari 2013

Teman Kecil (3)

Hai teman kecilku…

Aku yakin kamu tidak mengenal siapa aku, sama seperti aku tidak mengetahui namamu.
Aneh bukan? padahal kita tinggal di daerah yang sama.
Dan aku lebih yakin lagi jika kamu sama sekali tidak menyadari bahwa selama beberapa menit perhatianku hanya tertuju kepadamu, seorang gadis dengan kaos dan celana berwarna pink, lengkap dengan sebuah bando yang juga berwarna pink (^.^)a.
Kamu tentunya masih bingung dimana tepatnya kita bertemu?
Baiklah..akan ku beritahu. Kemarin di tempat mangkal si mas penjual bakso—disitulah kita pertama bertemu.
Aku masih ingat benar, kamu datang dengan menggenggam beberapa lembar uang ribuan tanpa ba..bi..bu..tiba-tiba berdiri tepat di samping si mas penjual bakso melayani pembeli (padahal semua pembeli lainnya berdiri di depan gerobak bakso).
“ Awas ada rokok.” ingat si mas kepadamu karena badanmu yang menempel terlalu dekat ke gerobak dimana si mas meletakkan batang rokok yang dibiarkan menyala karena ditinggal melayani pembeli.
Dan aku terperangah dengan reaksimu,
Bukannya menjauh dan mengambil jarak aman kamu justru bertingkah agak kelewatan (setidaknya menurutku secara pribadi). Gerak tanganmu dengan manjanya memukul-mukul pelan si mas penjual bakso sambil sesekali menarik pakaiannya. Lalu berkomentarlah mas penjual bakso dengan bahasa jawa, “ Sek cilik ae tingkahmu koyok ngene, pinter ngerayu opo maneh gedene?!?!” (masih kecil saja kamu sudah berani bersikap seperti ini (notabene bukan kepada orang yang dia kenal dekat) apalagi ketika kamu besar?”)
Dan kamu yang mendengar komentar itu bukannya merasa malu, malahan menunjukkan ekspresi kegirangan. Sepertinya kamu merasa senang karena berhasil mendapatkan perhatian dari seseorang).
Hai teman kecilku...aku rasa  belum waktunya bagimu bersikap seperti itu?
Menjadi dewasa sebelum waktunya....
Nikmatilah waktumu sebagaimana adanya, menjadi anak-anak yang menikmati dunia masa kecilnya yang indah....tanpa sibuk melakoni peran menjadi seorang dewasa dengan cara yang salah kaprah.


Sabtu, 29 Desember 2012

Bongkar-bongkar File Lama : 2


Dedicated to: ..............

Dengan cinta kita akan senantiasa hidup,
sambil melagukan kisah romantis dari alam yang tersampaikan lewat irama seruling nan merdu
Senandung nyanyian hati di musim semi
Di sepanjang perjalanan kehidupan setiap orang pasti dipertemukan dengan seorang kekasih
Berikanlah untuknyamahkota yang tersemat dari untaian pucuk daun, yaitu sebuah harapan akan kehidupan yang baru
Dan sematkanlah kelopak bunga di jari manisnya, yang akan mengikatkan suka dan duka dalam kebersamaan.
Purnama muncul di atas cakrawala
Menerangi langit yang gelap saat ditinggal sang mentari
Meski semua orang terbungkam dalam sepi
Terlarut dalam kepiluan, biarlah tetap tegar hati ini
Sebab kau adalah diriku yang lain, belahan jiwaku
Yang tak ku miliki sejak lahir, namun dianugerahkan oleh rahasia Tuhan sebagai peneduh dan labuhan jiwa.

---Malang, April 2007----


(yang ini dibuat untuk pernikahan teman, heheee kata-katanya kalo dipikir-pikir agak lebay deh :P)

Bongkar-bongkar File Lama :1


Kemaren berhubung masih dalam rangka menghabiskan jatah cuti dan berhubung mulai bingung karena tidak ada kesibukan yang berarti akhirnya iseng membongkar kardus yang sebenarnya sudah di pak rapi. Dan ketemulah beberapa buku-buku lama semacam diary begitu ^^, ada juga notes hadiah dari produk obat-obatan yang hampir penuh dengan cerpen tanpa ujung cerita yang jelas (begitulah dulu sewaktu masih kerja di tempat lama, sebelum dipromosikan Tuhan untuk masuk ke pekerjaan yang sekarang aku punya banyak waktu luang untuk menulis di jam kerja. Bukan karena aku nggak serius kerja tapi karena nggak ada hal yang harus dilakukan selain menunggu pembeli datang :p).
Dan waktu membolak-balik salah satu notes, ketemulah dengan tulisan yang ini. Lupa kapan membuatnya karena nggak diberi tanggal tapi melihat dari tulisan sebelumnya sih sekitar akhir tahun 2007 atau awal 2008-an.

-----
Di Sebuah Persimpangan

Aku seperti berada pada satu persimpangan jalan, dan tidak tahu kemana harus menentukan langkah.

Aku ingin memutar balik waktu berharap tidak perlu memberi label “masa lalu” pada satu fase kehidupan yang baru saja aku tinggalkan. Aku ingin kembali ke sana namun terlambat, karena pintu menuju kesana telah tertutup dan memang tidak ada jalan masuk kembali ketika kita telah keluar melewatinya.

Dengan ragu aku mencoba menengok pada jalan yang mengarah ke kanan, sepertinya jalan yang nyaman untuk dilewati. Dari jauh sayup terdengar suara tawa yang tidak henti, namun lama kelamaan berubah seperti suara orang yang meracau tak jelas membuatku mengurungkan niat untuk memilih jalan ini.

Aku berpikir mungkin jalan yang mengarah kiri lebih baik, ada jalan setapak yang mudah dilalui untuk sampai kesana. Ah apa itu, rupanya banyak orang yang masuk kesana akan dibuat terbang dengan sayap warna-warni dan seolah tidak pernah ada yang terjatuh. Aku mulai tergiur, membayangkan bagaimana rasanya terbang dengan sayap berwarna-warni. Namun aku menyadari ada yang janggal disitu, jalan ini penuh kebisuan, semua asyik dengan sayap masing-masing tanpa peduli mengenai keberadaanmu.  Jadi akupun batal melewati setapak ini.

Satu-satunya yang tersisa adalah jalan yang membentang dihadapanku. Menatapnya saja aku enggan, tidak ada tawa disana, namun juga bukan jalan penuh kebisuan. Aku melihat setapak berbatu, melihat bukit terjal,memang ada taman indah di seberang sana jauh dan amat sulit dijangkau. Hatiku miris, bisakah aku melewatinya?”

“Jangan takut, aku akan menemani perjalananmu.”  ada suara hangat penuh wibawa menyambutku.

“ Mari!” ajakNya sambil mengulurkan tangan untuk menggandengku. Aku ragu, hatiku menimbang-nimbang keputusan apa yang hendak aku buat.

“Ku beritahu padamu, nak! Jalan ini memang tidak mudah, namun percayalah padaKu,AKU akan membimbing langkahmu.”

Tanpa pikir panjang aku menyambut uluran tanganNya. Aku tidak ingin membuang waktu untuk memulai perjalanan yang baru lagi, dan untuk kali ini aku yakin tidak salah menentukan arah. Aku bersama seorang yang TEPAT.

------

Tulisan di atas nggak 100% sama dengan yang ada di notesku, ada beberapa bagian yang kemudian aku edit karena kata-katanya kurang pas. Tulisan itu berhubungan dengan sebuah peristiwa tragis yang menimpa hidupku empat tahun lalu (hahaa terlalu dramatis), dan hampir pasti tidak jauh dari masalah hati juga namun berbeda kisah dengan pemulihan hati yang aku sebut di postingan sebelumnya. Sempat tawar menawar dengan Tuhan tentang keputusan yang harus dibuat, pengennya nggak ada kisah sedih, pengennya kisah itu aja, pengennya kisah seperti di kisah-kisah dogeng yang berakhir dengan kalimat akhirnya mereka hidup berbahagia selamanya. Jalan ke kanan atau ke kiri itu adalah ide-ide “setengah gila” yang menurut pikiran manusia adalah jalan keluar terbaik,untungnya tidak pernah aku laksanakan beneran karena aku akhirnya memutuskan untuk berjalan di jalan yang Tuhan pilihkan. Sekarang, empat tahun sudah berlalu..dan aku sama sekali tidak melihat ada kerugian apapun karena keputusanku untuk memilih jalan yang Tuhan tawarkan. Aku justru melihat kebaikan demi kebaikan, bahkan anugrah yang luar biasa.
Seandainya aku hari itu nggak menyambut uluran tangan Tuhan, apa jadinya ya?
Mungkin aku nggak akan pernah dipromosikan Tuhan untuk mendapatkan pekerjaan sebaik hari ini.
Mungkin aku nggak bisa melihat orang tuaku bahagia seperti sekarang karena aku aka nada nan jauh di luar pulau jawa sono.
Mungkin aku nggak akan berani naik sepeda motor hahaa..
1 Keputusan yang dibuat empat tahun lalu ternyata berdampak sampai hari ini...

“ Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 25:33)


Rabu, 21 November 2012

Kisah Gang Sempit.

Aku hanya sebuah gang biasa, lorong panjang yang menjadi jalan penghubung.

Lambat laun terabaikan karena jarang digunakan,tersisih oleh pamor kendaraan beroda dua dan bermesin. 
Aku tidak lebih dari lorong gelap di waktu malam yang tidak berpenerangan, 
aku jalan gersang dengan pot-pot bunga yang mengering karena tidak terawat,
dan aku kini menjadi saksi bisu untuk kisah mereka yang disimpan rapat sebagai rahasia diantara mereka.

Suatu ketika, seorang gadis ABG dan pacarnya berbincang berdua di sini..di gang sempit. Mungkin bagi mereka ini adalah tempat yang aman untuk berduaan. Mulanya semua berjalan biasa saja, tidak ada yang salah dengan mereka berdua hingga sebuah tangan melayang dan mendarat dengan keras di pipi si gadis--tentu saja itu adalah tangan pacar si gadis tadi. suasana berubah hening. Akupun terperangah melihatnya, namun apa daya tidak bisa melakukan apapun. Si gadis menangis dengan keras, tersedu-sedu sambil memegangi pipinya yang perih terkena tamparan orang yang dia cintai, namun bukannya pergi si gadis hanya terdiam. Si gadis hanya terdiam, menerima begitu saja perlakuan pacarnya. Menerima ketika kata-kata kasar, kotor, berbagai makian yang diarahkan kepadanya. 
"Apakah ini yang disebut cinta yang membuatmu rela diperlakukan tidak sepantasnya?"
"Apakah kamu bertahan dan rela menikah dengan seorang yang kemungkinan besar akan memperlakukan dirimu dengan cara seperti itu?"
"Apakah kamu terlalu takut untuk pergi, melepaskan seseorang yang kau cintai namun membuatmu menderita?"
Ah entahlah, hanya gadis itu sendiri yang bisa menjawabnya.

Waktu berganti lagi, 
Si gadis dan pacarnya tidak pernah lagi muncul. Berganti dengan segerombolan anak laki-laki yang masih berseragam merah putih. Mereka duduk-duduk, nongkrong, mengobrol kesana kemari. mereka yang bermimpi membeli diriku (membeli gang ini) untuk dijadikan markas mereka sepulang sekolah. Ah, aku ingin tertawa mendengarnya..namun tidak apa daripada mereka tidak punya mimpi di masa mudanya. Rasa senangku terhadap mereka nyatanya tidak bertahan lama, ketika mereka mulai mengeluarkan diam-diam dari dalam tas sekolah mereka sebatang rokok.
"Ayo aku ajari." begitu kata si anak yang berbadan kurus tinggi kepada temannya yang berparas lugu.
"Nggak ah. Aku nggak mau merokok." tolak si anak berparas lugu.
"Ah gak gaul kamu." sahut teman yang satu lagi.
Dan si anak berparas lugu itupun meragu dengan kekukuhan hatinya tadi.
Si tinggi kurus menyodorkan sebatang rokok dengan setengah memaksa, dan di paras lugu akhirnya menerima meski agak ragu.
"Kamu menghisapnya pelan-pelan. Rasanya pertama pasti aneh, nggak enak ya nyedot asapnya?" teman yang lain mulai mengajari.
Dengan terbatuk-batuk si paras lugu mulai membiasakan diri dengan rokok..satu lagi generasi bangsa ini yang memilih hal yang salah.
"Apakah ini yang disebut persahabatan sejati?yang membuat kamu mengikuti apa saja yang dilakukan oleh sahabatmu meskipun kamu tahu itu salah?"
"Apakah karena kamu tidak menjadi sama dengan mereka membuat kamu ketinggalan jaman dan tidak gaul?"
"Apakah sebegitu nikmatnya rasa sebatang rokok yang dibakar dan dihisap,sementara di sisi lain kamu tahu itu merusak tubuhmu?"

(bersambung)

Teman Kecil

 Pagi itu, Dhek!
Berulang kali kau bertanya padaku apa aku bersedia menemanimu ke sekolah? dan dengan rasa takjub karena memandangi wajah lucumu berubah menjadi semakin lucu karena pulasan make up aku mengangguk tanda setuju.
Pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya ketika kau selalu mengeluhkan seragam sekolahmu yang kesempitan.
Di sekolah, kau tertawa lepas seakan lupa bahwa beberapa menit sebelumnya kau spontan mengerucutkan bibir hanya gara-gara terlalu banyak orang yang berlagak sok mengatur pose fotomu. Ya,.kau juga terbahak-bahak menyaksikan teman-temanmu menjelma bak sosok pangeran dan putri raja yang cantik dengan kostum yang mereka kenakan.
Binar matamu tidak mengisyaratkan sedikitpun kedengkian terhadap mereka yang berdandan jauh lebih baik darimu.
Dhek, tahukah kamu...seketika memori lama menggelayut dalam otakku. Betapa sederhananya kehidupan yang kau miliki--sederhana namun sempurna. Kau belum cukup mengerti apa arti cinta sebab bagimu semua yang kau dapati hingga hari ini adalah kasih sayang tulus. Kau menikmati apa yang ada dihadapanmu, dan semua waktu adalah kebahagiaan terindah. Tak pernah dan memang tak perlu berpura-pura dalam segala hal hanya demi menyenangkan orang disekitarmu.
Masa-masa yang kau miliki hari ini telah berlalu dariku sejak lama, dan kini aku mendambanya sekali lagi (andai saja bisa)
karena mengenalmu adalah kesempatan
Menyentuhmu adalah anugrah
Hidup bersamamu adalah pengalaman
Teman kecilku,senang bertamasya mengarungi jejak masa lalu bersamamu








Sabtu, 02 Juni 2012

Percakapan dengan DIA


Tengah malam,
Ketika semua orang terlelap dalam buai mimpi
Hanya ada aku dan engkau disini...dalam keheningan..dalam dimensi tak bernama
Saling menyelidik dan menjelajah hati.
Saling menunggu waktu yang tepat untuk berucap tentang segala resah yang tak menentu..
Detik demi detik berlalu
Aku tak tahan saling diam denganmu, tapi aku juga seolah menjadi kelu. Bagaimana mungkin mengucapkan ini semua kepadamu?
Bulir air mata tak lagi mengkristal, benteng pertahanan terakhirku akhirnya runtuh juga membasahi pipi.
“ Ada apa denganmu?aku ingin tahu.” Tanyamu dengan suara lembutmu yang selama ini tidak pernah gagal membuaiku.
Air mataku semakin menderas.
“ Aku membenci kesendirian.” Jawabku
“ Aku membenci saat-saat aku menjadi rapuh dan tak menemukan dirimu untuk menguatkan aku. Aku membenci jarak yang seakan tega memisahkan kita.” Nada suaraku timbul tenggelam diantara tangisan namun setiap kata itu masih mampu kuucapkan tanpa terbata.
“ Aku membenci malam-malam hampa untuk menunggumu tapi kau tak kunjung ada meski untuk sekedar menanyakan kabarku hari itu.”
Lama hening...
“ Bukankah aku selalu ada setiap detik, setiap menit, setiap waktu di sampingmu?” kau balik bertanya. Nada suaramu tetap tenang, tak ingin terseret dalam pusaran emosianalku.
“ Kau hanya membela diri.” Sahutku ketus sambil memalingkan muka lalu menarik selimut sampai sebatas muka. Mengacuhkanmu. 

Hening lagi.
Aku tahu kau belum beranjak pergi, masih menungguiku dengan sabar. Seperti malam-malam yang lalu ketika aku mulai merajuk dan melancarkan aksi mogok bicara, kau setia menemaniku sehingga seringkali aku sendiri yang kalah dan menyerah kemudian menyudahi aksi mogok bicaraku. Kau tahu apa, kapan, dan berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk meredakan emosi, untuk mulai melunak dan mau berbicara kembali. Kau satu-satunya yang tahu semua tentang diriku.
Namun kali ini aku tidak mau mengalah padamu, tidak akan semudah malam-malam lalu untuk mengangkat bendera putih dan mengakui segala kebodohan.
Aku berusaha bertahan dalam diam selama yang aku bisa, hingga kelopak mataku semakin mengganjal berat tak bisa lagi terbuka. Aku tertidur, meninggalkanmu sendiri dalam diam.
Ah seharusnya aku memang tak melakukan ini,.