Tampilkan postingan dengan label promise land. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label promise land. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Kesempatan Kedua


Hallo semua…
Nggak terasa sudah hari ke sepuluh di bulan Mei…waktu begitu  cepat berganti :P
Dan aku bersyukur karena aku masih ada sampai detik ini, disini-menikmati indahnya hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Bulan April adalah bulan yang amat sangat sibuk, ada dua hal lain yang harus dikerjakan sepulang dari kerja dan itu sempat membuatku kalang kabut karena susah ngatur waktunya. Sekarang sih udah jalan sebulan lebih mending, nggak seberat pas di awal. Bulan April kemaren aku sempat nulis di postingan yang  INI tentang mimpi lama yang sepertinya memang Tuhan mau agar aku mendoakannya lagi dari awal. Pas dapat penegasan seperti itu seneng banget sih, merasa seperti mendapat kesempatan yang kedua :p. Kala itu aku beneran dibuat Tuhan mengerti bahwa tidak ada satupun dari rencana Tuhan yang akan gagal, dan ketika sesuatu kita paksakan terjadi padahal bukan rencana Tuhan udah pasti Tuhan punya cara untuk menggagalkannya juga.
Lalu hari ini, sudah sebulan lebih beberapa hari…tetep nggak terjadi apapun walaupun udah didoakan. Heheee. Aku jadi merasa agak gimana gitu?semangatku mulai turun segaris demi segaris. Pengharapan dan iman juga mulai meredup, yang aku tahu dan aku rasain adalah perjalanan menuju mimpi itu masih sama gelapnya dengan sebelumnya. Dalam hati juga tergoda untuk melepaskannya (lagi), karena aku merasa nggak ada kemajuan sedikitpun. Nah, siang dua hari lalu iseng browsing ini itu dan buka situs INI dan baca artikel profetik yang  judulnya "A Season of Open Doors"
Sebagian aku copy paste,

And I just sense this morning the Lord was saying to us that this is not a time to try to close what I’m trying to open.  And God says this is a time you’re going to have to wait, because God said, I’m opening some doors for you and if you will be patient and if you will wait upon Me I’ll give you access through that door.  And God said this is not the time to try to close what I’m opening because you are in a new season and in the last season that that was closed and that was locked up to you God said you are not in that season be willing to let Me open those doors.  And no it won’t just be one door but this is a season of multiplication.  And I say I Am multiplying the doors that I’m going to open for you. 
God said do not get distracted and look in only one direction but I’m causing you to be so alert I’m causing those dreams and visions to arise within you.  And God said even those dreams and visions from the past where the doors were closed watch Me as I give you access and I give you multiple doors that you will walk through in this new season. 

pas dibagian yang aku garis bawahi merasa Tuhan lagi ngasih tahu sesuatu ke aku. Bahwa saat ini tuh bukan saatnya untuk berhenti dari mendoakan sesuatu, yang Tuhan mau adalah aku sabar dan mau menunggu Tuhan bekerja sampai selesai dalam perkara ini.
Keren kan Tuhan kita? Dia bisa memakai banyak cara untuk bicara sama anak-anakNya. Jadi, walaupun ini masa “kegelapan” aku harus tetap berjalan terus, maju sambil menelan segala bentuk keraguan yang muncul karena didepan sana hasil yang indah sudah Tuhan sediakan. Tidak mudah tetapi kasih karunia Tuhan yang akan memampukanku.

“Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.” 
(2 Samuel 22 :29)


Selasa, 20 November 2012

Sebuah Pilihan Untuk Taat


Sedikit membahas tentang ketaatan ...
Jadi selama setahun terakhir ada sesuatu yang sedang aku tunggu,, kalo di jaman Perjanjian Lama dikisahkan Tuhan berjanji kepada bangsa Israel akan membawa mereka ke sebuah tanah yang penuh susu dan madu (Keluaran 3: 17) maka sekarang dalam konteks yang serupa namun tak sama Tuhan menjanjikan sebuah tanah perjanjian / promise land kepadaku. Sesuatu yang sifatnya detail dan sangat personal dan yang pasti untuk saat ini belum saatnya untuk diceritakan ^ ^. Dari awalnya ketika semangat untuk menunggu ada di level tertinggi sampai semangatku sudah menurun drastis. Acap kali keragu menggelayuti, pertanyaan-pertanyaan yang sama terus membayang-bayangi, tidak jarang kemudian jadi meragukan kemampuan kuasa Tuhan untuk melakukan sesuatu bahkan yang paling mustahil sekalipun. Memang sejak awal ketika Tuhan mulai menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan "promise land" ini aku tahu jalannya tidak akan mudah untuk dilalui. Beberapa orang bahkan mempertanyakan mengapa aku memilih jalan ini? Padahal ada jalan lain yang lebih mudah dan gak perlu sesusah ini.
Iya .. ya,, kalau dipikir dengan logika aku sendiri juga merasa ini sesuatu yang aneh dan sepertinya memang gak masuk akal? Ada jalan yang mudah mengapa milih yang sulit?
Nah .... ini gimana to Tuhan?
Tuhan mengingatkan aku pada kisah Ishak di Kejadian 26.
Alkisah pada masa itu kelaparan hebat sedang melanda,
"Maka timbullah kelaparan di negeri itu,-ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin "(kejadian 26: 1)"
Apakah Ishak seketika pergi ke Gerar?
Tidak, di ayat berikutnya di tulis
"Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman:" Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan KU katakan kepadamu. "(Kejadian 26: 2)
Atau dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari dituliskan dengan jelas seperti ini,
"Hal itu dilakukannya (dilakukan Ishak) karena TUHAN telah menampakkan diri kepadanya dan berkata. "Jangan pergi ke Mesir tinggallah di negeri ini seperti yang Kuperintahkan kepadamu" (Kejadian 26: 2-BIS)
 Aku membayangkan gimana seandainya ada di posisi Ishak saat itu? Kalo aku .. mungkin bakal komplain ke Tuhan, "kok ke Gerar sieh Tuhan? Bukannya di Mesir itu bla .. bla .. blaa." Aku bakal mengutarakan argumentasi logis ke Tuhan. Belum lagi ketika menghadapi pertanyaan orang-orang di sekelilingnya, yang tentu saja ada yang gak setuju dengan keputusan Ishak pergi ke Gerar. Mungkin nieh (ini imajinasi pribadiku sendiri sih) orang-orang nanya "Ngapain sih kamu malah milih tinggal di Gerar? Rencana awalnya kan ke Mesir? Emangnya kamu nggak kuatir kalo tinggal di Gerar sini? Daaannn kalo aku yang jadi Ishak mungkin aku mulai meragukan Tuhan begitu mendengar banyak omongan dan pendapat orang lain. Aku bakal bertanya ke Tuhan "Beneran nieh Tuhan? Aku disuruh tinggal di Gerar?" Hehee ...
Tapi kita semua tahu, saat itu Ishak memilih untuk TAAT, di ayat 6 di sebutkan
"Jadi tinggallah Ishak di Gerar."
Setelah Ishak memutuskan tinggal di Gerar, Ishak mulai menabur dan apa hasilnya? Dia mendapatkan hasil seratus kali lipat pada tahun itu juga karena is diberkati Tuhan (Kejadian 26: 12)
Apa yang ku dapatkan dari ini?
Yup, Tuhan sedang meneguhkan kembali sesuatu yang berhubungan dengan promise land itu .. tentang bagaimana aku harus taat pada apa yang Tuhan minta untuk aku lakukan tanpa peduli apapun keadaannya sekarang, tanpa peduli apa kata orang. Aku tahu, banyak orang diluar sana yang bertanya-tanya "mengapa kamu memilih jalan ini?Bukannya ada jalan yang jauh lebih mudah dan itu nggak perlu membuat kamu mengalami perlambatan-perlambatan seperti ini?.
Nah, apalagi semakin kesini jalan menuju promise land itu kok sepertinya bertambah gelap?Ini gimana sih Tuhan? Selama beberapa bulan terakhir sampai beberapa hari lalu sama sekali gak ada tanda-tanda bakal ada pintu yang bakal terbuka, sedikiiiiit celahpun nggak ada. Situasi yang benar-benar membuatku sangat sangaaatttt tergoda untuk lari dari jalan TUHAN, keluar dari kehendakNya. Aku mulai mempertimbangkan omongan dan pendapat orang, mulai berpikir gimana seandainya selama ini aku salah jalan? Bukannya aku malah membuang waktu? Gimana kalo ternyata benar jalan yang mudah itu yang semestinya harus aku pilih? Parahnya ku berpikir gimana kalo Tuhan lupa terhadap janji-Nya kepadaku?
Dengan sabar Tuhan memberiku pengertian lewat kisah Ishak ini, posisiku sekarang ada di posisi yang sama ketika Ishak mengikuti perintah Tuhan; ia menjadi seorang pendatang / orang asing di Gerar. Aku emang nggak disuruh Tuhan untuk mutasi ke kota lain dan menjadi pendatang sih, cuman Tuhan mau menyatakan bahwa posisiku sekarang dengan segala keputusan yang aku buat untuk terus mengikuti jalan yang Tuhan tunjukkan ini telah membuat aku seperti seorang yang asing di antara orang-orang disekitarku. Aku memilih jalan yang gak lazim, sebuah pilihan yang secara logis akan direject seketika oleh kebanyakan orang. Aku rela beberapa hal mengalami perlambatan dan mimpi-mimpi pribadiku dihancurkan Tuhan hanya demi promise land., Orang "normal" pasti berpikir kok ya rela wong hasilnya aja belum tentu sama dengan yang kamu harapkan. Ketaatan Ishak secara positif bisa diartikan sebagai bentuk kepatuhannya pada Tuhan, sebagai bukti bahwa hidupnya melekat pada Tuhan .. walaupun secara logis ketaatan itu juga bisa diartikan sebagai sebuah keputusan terlalu beresiko.
apa yang dilakukan Ishak di Gerar selanjutnya adalah menabur. Ini adalah bukti bahwa ishak juga nggak main-main dengan ketaatannya sama Tuhan. Ishak nggak berpikir "ah udah nyampai di Gerar aku ongkang-ongkang aja. Kan Tuhan yang nyuruh aku tinggal di sini jadi ngapain susah-susah, ntar juga Tuhan yang bakal nyediain segala sesuatunya. "Wkwkw .. Ishak bekerja, ia menabur dan mendapatkan hasilnya begitupun yang Tuhan mau dari aku. Tuhan mau aku tidak hanya taat, ongkang-ongkang menunggu Tuhan membawaku begitu aja ke promise land. Tuhan mau aku menabur, menabur dalam hal ini aku harus berdoa dan berdoa tanpa menghiraukan kondisi yang semakin gak jelas, tanpa melihat pintu yang belum kunjung terbuka tapi melihat kepada Tuhan yang berkuasa untuk membuka pintu itu untukku.
Ahh Tuhan, makasih banyak karena sudah mengingatkan aku di saat yang tepat ketika niat dan godaan untuk melarikan diri dari kehendak Tuhan rasanya sudah nyaris aku lakukan. Makasih karena terus meyakinkan aku untuk terus berjalan dengan iman dan doa.Aku tahu aku akan sampai ke promise land, akan tiba saatnya apa yang Tuhan janjikan kepadaku digenapi. Seperti Ishak yang menuai hasil seratus kali lipat, maka Tuhan juga mampu melakukannya untukku. Aku akan menuai hasil dari doa yang ku tabur. 

Sabtu, 02 Juni 2012

Menanti...dan...terus menanti...


Saya sedang menunggu janji Tuhan dalam hidup saya tergenapi. Duluuuu sekali saya berpikir betapa menyenangkannya ketika kita berjalan dengan memegang janji Tuhan. Seperti misalnya Abraham yang telah mendapat janji Tuhan bahwa dia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa ( Kejadian 17: 4). Dalam pandangan saya betapa enaknya menjadi Abraham karena dia tahu apa yang akan Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Dia hanya harus menguatkan iman kepercayaannya kepada Tuhan, duduk bersantai sambil menunggu Tuhan menggenapi semua yang telah Ia janjikan. Sayangnya pandangan saya itu terbukti salah, dan saya baru menyadarinya belakangan ini ketika saya tahu Tuhan menjanjikan sesuatu kepada saya secara pribadi.  Ternyata menunggu itu tidak mudah, ada masa up and down, ada masanya saya secara pribadi mulai merasa janji itu sangat mustahil untuk digenapi.
Seperti sekarang ini, dalam ketiba-tibaan Tuhan membawa saya masuk ke dalam lorong gelap. Tanpa sepengetahuan dan seijin saya, karena tentu saja jika penawaran diajukan kepada saya apakah bersedia atau tidak melewati lorong gelap ini maka dengan pasti jawaban saya TIDAK MAU ^^. Pertanyaan pertama saya ketika mulai menapaki lorong gelap ini adalah, “mengapa saya harus berada disini?”. Janji Tuhan yang semula nampak begitu nyata perlahan-lahan berubah samar,semakin samar, kemudian makin tidak terlihat. Semangat saya untuk menunggu perlahan juga ikut menyusut drastis, dari yang menggebu-gebu sampai ke titik nol bahkan minus. Sudah tidak terhitung berapa kali saya berteriak-teriak kepada Tuhan berharap Tuhan turun untuk memeluk saya memberi kekuatan yang baru bahkan dengan memelas saya berharap dengan sangat agar Tuhan segera membawa saya keluar dari lorong ini segera. Pertanyaan-pertanyaan dalam hati sayapun jadi beranak pinak, tidak cukup mengapa tetapi juga kapan, apa, dimana, bagaimana.
Kapan lorong gelap ini akan berakhir? Kapan janji Tuhan akan tergenapi?
Apakah penantian ini akan sepadan hasilnya?
Dimana pertolongan Tuhan?
Bagaimana jika ternyata selama ini saya salah mengartikan janji Tuhan? bukankah saya hanya membuang-buang waktu untuk menanti?
Dan jawaban Tuhan terhadap saya adalah TIDAK ADA. Saya masih diharuskan untuk menunggu lagi dan lagi.
Jujur saya begitu ingin (tergoda) untuk menyerah sekarang, namun saya juga mengerti itu bukan pilihan bijaksana. Tuhan telah menciptakan saya sebagai pemenang, bukan pecundang yang kalah sebelum peperangan di mulai. Saya mencoba mengingat-ingat apa yang telah Tuhan lakukan sebelum  perjalanan dalam lorong gelap dimulai, bagaimana Tuhan terus meyakinkan saya tentang janjiNya bahkan dengan cara yang terlihat memaksa dan nyeleneh. Bagaimana Tuhan akhirnya membuat saya setuju mengorbankan mimpi-mimpi pribadi saya demi rencanaNya yang lebih besar dalam kehidupan saya di masa depan. Lalu apakah pantas jika detik ini saya menyerah hanya karena saat ini berhadapan dengan lorong gelap? 
Saya yakin pada masa itu Abraham juga mengalami masa up and down, dia tentunya bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana mungkin janji itu tergenapi namun Abraham tidak pernah kehilangan pengharapannya kepada Tuhan sampai akhirnya janji itu tergenapi.
“Abraham menanti dengan sabar dan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.” (Ibrani 6 : 15)
Memang, saya tidak pantas untuk menyerah sekarang dan saya tahu Tuhan tidak ingin melihat saya menyerah. Saya harus terus bertahan, karena pada akhirnya proses ini bukan sekedar bagaimana janji Tuhan tergenapi namun bagaimana saya dibentuk menjadi semakin serupa dalam pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus.
Nb : untuk siapapun di luar saya (terutama sahabat saya) yang saat ini juga sedang menunggu janji Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing tergenapi, apapun itu bentuknya...tetaplah menanti dengan sabar. Tuhan yang akan menguatkan kita dalam penantian.
“ Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya.....” ( Mazmur 12 : 7-8a)