Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Sisa Kenangan

Udah akhir Juli, yah…akhir-akhir ini ada cukup waktu luang buat duduk tenang menyalakan laptop namun justru mood buat menulis sama sekali nggak ada. Kali ini juga sekedar iseng nulis tentang memori indah masa remaja yang sudah nggak mungkin kembali lagi.
Kemaren sore pas cuaca sedang cerah dan gak sedang ngurus ini itu *soksibuk* aku pergi jalan-jalan bersama si adekku. Jalan-jalan yang beneran jalan alias gak bawa motor, udah niat banget berangkat jalan kaki dari rumah sampai ke Gramedia, muter-muter pusat perbelanjaan, sampai pulang lagi. Sewaktu berangkat kita ambil rute yang melewati sekolahan SD dan SMP kita dulu. Terakhir mengenyam pendidikan disana itu tahun 2001an jadi udah 12 tahun berlalu. Hmmm. Beberapa memori masa sekolah yang nancep di hati sampai sekarang,

Di sekolah waktu SD jajanannya kerupuk bulat warna putih, kadang tempe goreng yang dimakan pake sambal, bukan saos sambal botolan tapi sambal uleg yang sebenarnya dipake untuk nasi rawon :p dan kantin sekolahnya di deket kamar mandi. Kok doyan yah waktu itu?untung gak lama kemudian kantinnya dipindah ditempat yang lebih layak. *muka pucat*. Berhubung jaman itu uang saku terbatas, selain jajan kerupuk biasanya sengaja gak jajan apapun pas disekolah karena pengen beli jeli sachetan yang dibekukan di warung. Semacam jajanan elit pada masa sekolah. wkwkwk
Hal yang dilakukan waktu istirahat, jaman SD : main bentengan, bola bekel, petak umpet, kartu kuartet, dakonan pake biji ato kerikil ; jaman SMP : ngerumpi, ngegosipin cowok-cowok *halah*, nyari buku bacaan di perpustakaan.
Langganan disuruh nulis di papan, dampaknya justru sering ketinggalan catatan karena begitu dirumah males nyalin catatan dibuku.
Pernah ngikut lomba Cerdas Cermat Alkitab tingkat SMP se-Malang dan Puji Tuhan setelah belajar siang malam tanpa henti, dengan mencucurkan keringat akhirnya menang juara 3.
SMP, masa-masa paling aktif di komunitas rohani (sampai SMA). Rajin ikut persekutuan remaja di gereja sebelah sekolah, dan pernah suatu ketika persekutuan di rumah seorang teman ada kejadian unik kitanya lagi kebaktian didalam,sandal/sepatu sandal yang ditaruh luar raib begitu saja diambil pencuri alhasil sekitar tujuh orang pulang dengan nyeker. Rindu masa-masa punya komunitas seperti dulu. Rindu kalian semua, guys^^
HP masih jadi barang amat sangat mewah dan belum semua orang punya telepon rumah, jadilah lebih banyak curhat ke sahabat lewat surat. Bisa nulis sampai berlembar-lembar folio, entah apa aja yang diomongin. Sekarang nulis besok pagi ketemu disekolah diberikan, gantian besok nunggu balesannya. Gitu terus setiap hari, sempat dikumpulin sih surat aku dan nona F bisa sampai satu kresek agak besar, sekarang udah dibuangin semua, seingatku isinya kalo dibaca sekarang pasti GJ dan  bikin ngakak.
Masa-masa mulai merasakan cinta monyet, masih lugu tapi sok dewasa akhirnya justru di akali sahabat sendiri (dianya baru ngakuin kebohongan masa lalunya pas SMA).
Sering banget nangis, melankolis tingkat parah kadang tanpa alas an alias galau, hahaa.Puji Tuhan, sekarang udah banyak diproses Tuhan supaya gak seperti itu lagi.

Sebagian besar memori masa remaja udah hilang sih, tertumpuk oleh memori-memori baru akhirnya pudar gitu aja. Seenggaknya ini,.. secuil dokumentasi yang tersisa dari masa lalu itu.


Sabtu, 22 Juni 2013

Meaningful Life #1

Minggu ini aku sedang mengikuti pelatihan selama empat hari yang diadakan di sebuah Rumah Sakit.  Dari H-7 pelatihan udah merasa agak gimana gitu (baca : males) buat ikut pelatihan ini, dikarenakan tidak ada gambaran sedikitpun soal materi pelatihannya…tapi tetap akhirnya berangkat juga. Hehee. Pelatihan ini berhubungan dengan dunia kesehatan gitu, tapi buat aku pribadi pembelajaran yang aku dapat bukan hanya itu, pelatihan ini menyentuh hatiku yang terdalam *hiperbola* karena panjang, jadi aku tulis jadi beberapa postingan aja yach ^^
Sekarang  mau nulis tentang ini dulu deh,
Hari 1, sambil nunggu pematerinya datang diputarlah sebuah lagu oleh pihak panitia, daann yang diputer adalah lagu JanjiMu Seperti Fajar-Franky Sihombing. Surprise. Nggak nyangka akan diputarkan lagu-lagu rohani, karena emang Rumah Sakit ini notabene rumah sakit yang berlandaskan Kasih Kritus.
Di bagian lagu itu kan ada lirik yang seperti ini,
JanjiMu sperti fajar pagi hari, yang tiada pernah terlambat bersinar.
 Versi dalam hatiku Tuhan kayaknya ngomong begini,
“JanjiKu untukmu seperti sinar matahari, nggak akan terlambat bersinar. Lihatlah keluar sana, hari yang mendung bukan? tapi tak akan lama matahari pasti akan bersinar.”
Langsung dah mata berkaca-kaca, mendadak merasa betapa specialnya aku dihadapan Tuhan dan betapa mengherankan cara Tuhan untuk menyampaikan sesuatu ke anak-anakNya. Anehnya habis lagu ini, nggak ada lagu lain yang diputar hanya selingan instrumental aja. Haha.  Begitu momen takjub dan heranku berakhir, aku ngelihat ke luar jendela..mencoba menerka kapan matahari akan muncul? sepertinya ditengah mendung yang makin menghitam dan rinai hujan yang jatuh semakin deras tidak ada kesempatan untuk matahari muncul dan aku mengalihkan fokus pada materi yang disampaikan, bukan lagi pada hujan dan penantian matahari. Pelatihan selesai sekitar setengah empat sore dan surprise (lagi) diluar sana langit berubah warna jadi putih bersih, plus matahari bersinar hangat. Tepat seperti yang Tuhan katakan tadi.
Di perjalanan pulang aku merenung, masih dengan sisa keheranan. Bagiku yang sedang mengalami fase “gelap” dengan alasan satu dan lain hal *halah* ini semacam peneguhan yang berarti banget. Seperti mendapat pencerahan dan suplai iman yang baru untuk tetap bertahan dalam proses ini sampai garis akhir. Meskipun matahari tidak bersinar di pagi itu, dia datang dengan kehangatan yang berbeda di sore harinya..seperti itulah masa ini, meski jawaban dan pertolongan belum datang hari ini, besok, atau lusa bisa jadi jawaban yang aku nanti bisa tiba sewaktu-waktu dengan cara berbeda pula (diluar antisipasi pribadi) dengan keindahan yang tidak terduga, tentang kapan waktunya itu rahasia Tuhan. :D

Bersambung..

Jumat, 10 Mei 2013

Kesempatan Kedua


Hallo semua…
Nggak terasa sudah hari ke sepuluh di bulan Mei…waktu begitu  cepat berganti :P
Dan aku bersyukur karena aku masih ada sampai detik ini, disini-menikmati indahnya hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Bulan April adalah bulan yang amat sangat sibuk, ada dua hal lain yang harus dikerjakan sepulang dari kerja dan itu sempat membuatku kalang kabut karena susah ngatur waktunya. Sekarang sih udah jalan sebulan lebih mending, nggak seberat pas di awal. Bulan April kemaren aku sempat nulis di postingan yang  INI tentang mimpi lama yang sepertinya memang Tuhan mau agar aku mendoakannya lagi dari awal. Pas dapat penegasan seperti itu seneng banget sih, merasa seperti mendapat kesempatan yang kedua :p. Kala itu aku beneran dibuat Tuhan mengerti bahwa tidak ada satupun dari rencana Tuhan yang akan gagal, dan ketika sesuatu kita paksakan terjadi padahal bukan rencana Tuhan udah pasti Tuhan punya cara untuk menggagalkannya juga.
Lalu hari ini, sudah sebulan lebih beberapa hari…tetep nggak terjadi apapun walaupun udah didoakan. Heheee. Aku jadi merasa agak gimana gitu?semangatku mulai turun segaris demi segaris. Pengharapan dan iman juga mulai meredup, yang aku tahu dan aku rasain adalah perjalanan menuju mimpi itu masih sama gelapnya dengan sebelumnya. Dalam hati juga tergoda untuk melepaskannya (lagi), karena aku merasa nggak ada kemajuan sedikitpun. Nah, siang dua hari lalu iseng browsing ini itu dan buka situs INI dan baca artikel profetik yang  judulnya "A Season of Open Doors"
Sebagian aku copy paste,

And I just sense this morning the Lord was saying to us that this is not a time to try to close what I’m trying to open.  And God says this is a time you’re going to have to wait, because God said, I’m opening some doors for you and if you will be patient and if you will wait upon Me I’ll give you access through that door.  And God said this is not the time to try to close what I’m opening because you are in a new season and in the last season that that was closed and that was locked up to you God said you are not in that season be willing to let Me open those doors.  And no it won’t just be one door but this is a season of multiplication.  And I say I Am multiplying the doors that I’m going to open for you. 
God said do not get distracted and look in only one direction but I’m causing you to be so alert I’m causing those dreams and visions to arise within you.  And God said even those dreams and visions from the past where the doors were closed watch Me as I give you access and I give you multiple doors that you will walk through in this new season. 

pas dibagian yang aku garis bawahi merasa Tuhan lagi ngasih tahu sesuatu ke aku. Bahwa saat ini tuh bukan saatnya untuk berhenti dari mendoakan sesuatu, yang Tuhan mau adalah aku sabar dan mau menunggu Tuhan bekerja sampai selesai dalam perkara ini.
Keren kan Tuhan kita? Dia bisa memakai banyak cara untuk bicara sama anak-anakNya. Jadi, walaupun ini masa “kegelapan” aku harus tetap berjalan terus, maju sambil menelan segala bentuk keraguan yang muncul karena didepan sana hasil yang indah sudah Tuhan sediakan. Tidak mudah tetapi kasih karunia Tuhan yang akan memampukanku.

“Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.” 
(2 Samuel 22 :29)


Selasa, 02 April 2013

Kalo Pacaran Ngapain Sih?


Nampaknya musim penghujan belum berakhir, diluar hujan turun dengan intesitas lumayan deras…dan cara terbaik untuk menikmati hujan sore ini adalah dengan menghabiskan waktu untuk menulis (^.^)v
Sebagai seseorang yang tinggal dan besar di sebuah kampung, aku terbiasa mendengar berbagai macam kabar sedap dan tidak sedap tersebar cepat. Seperti hari minggu kemarin, kabar kalau seorang anak perempuan dari RT seberang akan menikah tersebar luas sementara tidak ada undangan yang tersebar. Niat pernikahan diam-diam tak urung hanyalah sebuah niat tak kesampaian, toh orang lebih cepat tahu hal yang demikian. Si perempuan belia yang belum genap 17 tahun itu terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya karena terlanjur hamil . Dan setelah diruntut, 1 atau 2 tahun lalu teman sepermainan atau mungkin sahabat si perempuan tadi juga mengalami hal yang sama. Fenomena seperti ini sudah bukan hal yang baru, namun tetap saja membuatku spontan berkomentar, “Kok bisa? emang dia ngapain aja?” (nanya’nya dengan ekspresi lugu,padahal jelas-jelas tahu jawabannya).
Ada juga cerita seorang perempuan yang lain, sebut aja X. X ini hamil beberapa bulan sementara pacarnya tidak bersedia bertanggung jawab, dan membuatku miris mendengar ceritanya.
Semua yang mendengar kejadian ini akan berkata, “Salah mereka sendiri..bla..bla..blaa…”
Memang si perempuan belia tadi, juga sahabatnya, dan si X telah melakukan kesalahan yang membuat mereka harus menanggung sebuah konsekuensi yang rumit atas perbuatannya tetapi pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa apa yang terjadi atas diri mereka adalah karena mereka tidak mengerti konsep sebuah hubungan yang benar?sedangkan ditengah ketidaktahuannya mereka tidak memiliki tempat untuk bertanya dan mendapat jawaban yang benar sehingga mereka cenderung mencari kebenaran itu dari lingkungan pertemanan mereka dan media-media lain.
Semasa pacaran, si X tadi banyak curhat dengan rekan kerjanya yang dianggap lebih berpengalaman makan asam garam kehidupan..sayangnya nasehat yang didapat si X berbunyi seperti ini, “jaman sekarang kalo pacaran itu nggak sama dengan jaman dulu, jamanku dulu gandengan tangan aja nggak boleh tapi sekarang  nggak masalah kalo kamu mau “ngapa-ngapain”  itu baru gaul.”
Aku pribadi pernah sharing dengan teman beberapa tahun lalu, lantas dia bilang seperti ini, “Prinsipnya selama pacaran kamu bolehlah memberikan lebih asal nggak semuanya ( artinya asal kamu tetap menjaga keperawanan).” dan waktu itu jujur aku percaya dan setuju-setuju aja, apalagi yang ngomong ini saudara seiman *garuk kepala*. Untung cuma sebatas setuju lewat omongan aja, nggak dalam sikap.
Kitapun nggak bisa menolak visualisasi yang ditawarkan media hiburan, setiap film yang diputar selalu membubuhkan adegan romantis mulai dari bergandengan tangan, meningkat ke pelukan, cium pipi, cium kening dan seterusnya.  Jalan cerita sinetron juga dibumbui dengan kisah jatuh cinta ala ABG, anak-anak berseragam putih biru yang lebih sibuk mengejar-ngejar lawan jenisnya menggunakan berbagai cara, malah nggak fokus dengan pendidikan.
Kesimpulan yang muncul di benak mereka jadinya :  pacaran itu hubungan  antara perempuan dan laki-laki, yang didalamnya termasuk melakukan hal-hal yang sifatnya mengandung sentuhan fisik asal nggak kebablasan. Fufufu…>.< 
Benarkah demikian?
Sewaktu aku belum mengerti kebenaran Firman Tuhan aku menerima kesimpulan itu sebagai hal yang paling benar, namun sekarang lain lagi ceritanya. Pas jaman pelajaran agama di sekolah sih udah diajarin bahwa pacaran itu adalah satu fase sebelum memasuki jenjang pernikahan. Teorinya gitu dan murid sekelas tahu cuman dalam prakteknya jauuh dari teori, mikirnya malah kalo nggak punya pacar berarti nggak laku, kesepian, nggak seruàujung-ujungnya berlomba mencari pacar hanya untuk memenuhi tuntutan bukan untuk tujuan yang benar di hadapan Tuhan. Lantas kebanyakan cewek, punya pemikiran jika dia memberikan apa yang diinginkan pria dalam hal kepuasan fisik,pasti dia akan mendapatkan kasihnya selamanya (ini ada dibuku Lady in Waiting). Nggak apa-apa berpelukan, nggak apa-apa berciuman daripada ntar nggak mau malah diputus dan ditinggalkan, padahal udah cinta banget. Setelah berkompromi dengan kata nggak apa-apa malah jadi penasaran, ingin tahu dan mencoba lebih dalam lagi, begitu sadar terlambat sudah.
Satu tindakan fisik berdasarkan rasa suka bukannya melekatkan kasih mereka, tetapi justru menghancurkannya (Lady in Waiting, hal 90). Tuhan mau anak-anakNya menjaga kekudusan dirinya karena tubuh kita adalah bait Allah, dan kekudusan itu lebih dari sekedar keperawanan/ keperjakaan loh. Kekudusan itu berbicara soal bagaimana hidup kita di mata Tuhan. Nah, seandainya kita berkompromi dengan hal  yang tidak kudus lantas menutupinya dengan dalih kan yang penting  nggak kebablasan?tetap aja itu tidak benar di mata Tuhan.
So, berhati-hatilah dalam memilih pergaulan karena dengan siapa kita bergaul itu menentukan perilaku kita. Bertanyalah pada orang-orang yang memiliki otoritas yang benar, bukan yang asal cukup usia untuk memberi nasehat, ibarat bertanya arah ke orang yang salah akhirnya malah kesasar :p. Setiap nasehat yang kita dapatkan juga harus diuji nggak asal diterima dan dilakukan, pertimbangkan dengan baik nilai kebenarannya.
Amsal 18 : 24
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”
1 Korintus 15 : 33
“ Janganlah kamu sesat; Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
Kedua, Sebagai seorang cewek (cowok juga) adalah penting buat kita menjaga diri kita dengan baik. Ada konsekuensi yang lebih rumit yang mesti dibayar dan itu nggak sebanding dengan kenikmatan sesaat yang didapatkan. Jika akhirnya seperti perempuan belia tadi, pikirkanlah betapa banyak yang harus dia tanggung?pernikahan mungkin menyelesaikan sedikit masalah, tetapi siapkah dia menanggung beban rumah tangga pada usia belia tanpa bekal ijasah yang memadai dan pekerjaan?Ada banyak masalah lain menanti didepan, sudah siapkah kamu?. Belum tentu pula seseorang yang menerima segala-galanya darimu akan menjadi suami/istri di masa depan, seperti yang dialami si X.
Perasaan kasih itu tidak hanya diungkapkan lewat kedekatan fisik yang sembrono sebelum dua orang menikah, perasaan itu bisa diungkapkan dalam pengendalian diri, kesabaran.

Lalu, pacaran itu ngapain sih?
Hubungan lawan jenis tidak lagi merupakan “menikmati saat-saat indah” atau mempelajari apa yang aku inginkan dalam sebuah hubungan. Hubungan itu bukan lagi tentang mendapatkan, tetapi memberi. Setiap hubungan (terutama untuk anak Tuhan) merupakan sebuah kesempatan untuk mengasihi orang lain seperti Allah mengasihi kita. Mengesampingkan keinginan-keinginan kita dan melakukan apa yang diinginkan oleh pasangan kita. Mengasihi dia bahkan walaupun tidak ada yang dia berikan untuk kita. Menginginkan kesucian dan kemurnian dari pasangan kita karena hal itu menyenangkan Allah dan melindungi pasangan kita. (kata Mr. Joshua Harris dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, hal. 9).

Yuk, kita sama-sama belajar menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita masing-masing dari sekarang, pas masih single ataupun sudah diijinkan Tuhan melangkah ke fase berikutnya. Hihiii.

GBU ^^




Senin, 01 April 2013

Hanya Kata-kata


Aku melihat “mimpi” yang berminggu-minggu lalu telah aku kuburkan hari ini kembali,
Dimana setiap serpihannya seakan bercerita, membangun perlahan semangat yang telah kupadamkan dengan rela.
Nyatakah ini semua, Tuhan?ataukah aku salah mengartikan sesuatu?
Pagi kemarin, tiba-tiba Tuhan mengingatkanku tentang kekuatan dari setiap kata yang terucap. Sepertinya Tuhan sedang berkata, “Jika dulu kamu memperkatakan sesuatu yang “negatif” tentang dirimu sendiri dan itu bisa terjadi, apalagi jika kamu memperkatakan sesuatu yang positif?
Apakah ini berarti Tuhan menghendaki aku untuk mulai memperkatakan sesuatu tentang “mimpi” itu lagi, untuk mulai mendoakan dan mengimaninya dengan benar sekali lagi agar itu terjadi dan tergenapi dalam hidupku?
Aku beranggapan bahwa 99% “mimpi” itu tidak akan terwujud, terlalu rumit dan mustahil namun demikian Tuhan mengingatkanku juga lewat kata-kataNya yang lembut, masih ada 1% untuk berkata TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN.
Cukuplah bagiku saat ini untuk percaya bahwa Tuhan bekerja dengan caraNya. Berikan aku hikmatMu, Tuhan..agar aku semakin mengerti jalan rencanaMu dihidupku.
“TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!Ya TUHAN, kasih setiaMu untuk selama-lamanya; jangan Kautinggalkan perbuatan tanganMu.” (Mazmur 138 :8)




Sabtu, 30 Maret 2013

Bahagia?


Teman : “ Enak ya teman kita si R, sudah menikah, sebentar lagi punya anak, sudah punya rumah sendiri pula. Pasti hidupnya bahagia.”
Aku : “Mungkin, kita hanya melihat kehidupannya dari sekelumit kisah yang muncul dihadapan kita tapi kita tidak pernah tahu benar isi hatinya.”
Teman : “Gitu ya?”
Aku : “He eh.”

Berapa banyak dari kita yang mengukur kebahagiaan dengan ukuran apa yang kita miliki dan tidak kita miliki?
Ketika kita melihat seseorang memiliki sesuatu yang tidak atau belum kita miliki dengan buru-buru kita memberikan label kasat mata bertuliskan BAHAGIA di diri mereka?dan secara tidak sadar kita menempelkan label “TIDAK BAHAGIA” ke diri kita sendiri.
Padahal apa yang kita lihat sebagai kebahagiaan milik orang lain belum tentu benar-benar kebahagiaan di mata mereka,
Keadaan tak jarang juga terbalik, diam-diam mereka bisa saja melabeli kita sebagai orang BAHAGIA atau yang LEBIH BAHAGIA
Bahagia itu soal keputusan hati…
Bahagia itu milik siapa saja, bukan hanya orang-orang berpakaian modis, bermobil mewah, gadget yang tidak pernah ketinggalan jaman, bahagia juga milik mereka yang hidup sederhana bahkan sepertinya kekurangan.
Bahagia itu bersyukur, karena bersyukur kita bahagia…

Kamis, 21 Maret 2013

Remember When : Lagu Raisa dan Kisah Masa Lalu


(alasanku ngasih judul remember when karena aku suka banget dengan novel Winna Efendi,yang judulnya itu. Udah baca sampai lima kali dan tetap masuk dalam daftar salah satu novel favoritku—hehee cuma itu sih alasannya)
Mau cerita tentang lagu Raisa-Melangkah
Pertama tahu lagunya dari adhekku yang hobi download memanfaatkan koneksi WIFI kampusnya yang super cepat koneksinya. Dia bilang kalo video klipnya simple tetapi unik, diantara suasana pantai yang sepi dan perpaduan warnanyayang eksotik, plus pernak-pernik yang sengaja dimunculkan disitu..otomatis karena mengamati video klipnya udah tentu mulai menyimak lirik lagunya juga. Makin didengerin makin membawaku terhanyut ke kisah cinta di masa lalu..Hahay..
Waktu masih menjalin hubungan dengan seseorang aku pernah berharap sekaligus mengira dia adalah orang terakhir yang akan menjadi bagian hidupku selamanya (namanya juga sedang jatuh cinta) tapi ternyata nggak kejadian. Pertemuan dengan seseorang (salah satu teman baikku semasa sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama) secara nggak sengaja di jejaring social facebook membuat aku dan dia kembali menjadi dekat sampai memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Kesalahan aku waktu itu adalah aku nggak konsul ke Tuhan, nggak nunggu konfirmasi Tuhan bilang iya atau nggak, pikirku asal bersama seorang yang seiman pasti Tuhan setuju *tepok jidat* . Terjadilah kemudian setelah berjalan setengah tahun lebih, hubungan yang mulanya baik-baik saja tiba-tiba bermasalah sampai  akhirnya aku dan dia mengambil keputusan untuk berpisah. Aku sempat agak ngeyel ke Tuhan (bukan agak sih malah ngeyel banget kayaknya..hahaa) pengen banget balik dengan dia. Pokoknya Tuhan harus membuat kita berdua balikan gitu karena aku cintanya Cuma sama dia, nggak mau orang lain dan nggak bisa kalo harus mencintai orang lain. Titik. Serius aku ngomong gitu ke Tuhan, dengan ekspresi orang depresi gak ketulungan. Wkwkwkw. Dampak dari perpisahan itu aku mulai merasakan kesepian, merasa diriku nggak berharga, nggak dicintai oleh siapapun dan untuk melarikan diri dari kesepian itu aku mulai mengejar-ngejar kesenangan (dalam arti yang masih positif sih). Tiap pulang kerja aku mampir ke rumah untuk makan, ganti baju lalu pergi lagi keluyuran ke mall, ke rumah teman. Nggak sampai pulang larut malam sih, paling jam 8 malam udah dirumah lagi trus langsung masuk kamar, tidur. Gitu trus sampai berapa minggu, puncaknya ada dua kejadian yang membuatku tersadar bahwa aku nggak semestinya bertingkah seperti itu.
Pertama, aku pergi ke mall dengan seorang teman. Aku inget banget sedang menelusuri rak-rak besar di pusat perbelanjaan, di situ rame banget. Temanku sibuk memilih barang belanjaan ini itu, aku terus mengekorinya ditengah keramaian tetapi aku merasa sepertinya tempat itu sepi banget. Semua orang dan barang di sekitarku seperti bergerak dengan cepat kayak di film-film sedangkan aku ada diantaranya tanpa dipedulikan keberadaanku, hatiku berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengarkan. Aku mengira pulang dari sana aku akan mendapati perasaanku lebih baik, namun aku salah. Sampai di kamar aku nangis karena nggak tahan menghadapi semua, aku masih kesepian.
Kedua, di mall yang sama beberapa minggu kemudian. Bersama seorang teman yang lain, sedang hunting buku dan perasaan yang sebelumnya terulang lagi.
Pulang dari sana ku mulai mikir, sepertinya ada yang salah. Aku tetap merasa kosong, nggak berharga, bahkan tempat paling aku sukai sekalipun (toko buku) nggak bisa mengisi kekosongan yang terjadi. Nggak bisa mengatasi kesepianku. Di saat seperti itulah aku mulai mencari Tuhan lagi, Tuhan yang selama beberapa waktu aku jauhin karena aku marah DIA membuatku berpisah dengan seseorang. Aku mulai datang kepadaNya, mulai menceritakan keadaanku sejujur-jujurnya. Emang bukan sekejap mata merasa tidak kesepian lagi, masih tetap ada bagian proses yang harus ku lewati bedanya setelah aku mulai cerita dengan jujur sama Tuhan hatiku mulai merasa lebih tenang. Kesepian itu lambat laun bisa diatasi, Thanks God. Aku mulai jarang keluyuran, blusukan ke mall sampai menurut teman-teman diriku berubah jadi aneh. Setiap kali aku mulai merasa dihantui perasaan kesepian itu, ku memilih untuk duduk diam sendirian di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu rohani, sambil curhat ke Tuhan, dan doa. Bukan sebuah cara yang bisa dipahami oleh kebanyakan orang kedengaran terlalu rohani mungkin :p,tapi yah lain orang lain pula caranya. Faktanya, aku justru mulai dipulihkan Tuhan lewat cara itu. Aku dibuat Tuhan menyadari satu hal penting bahwa tidak ada sesuatu apapun didunia ini yang bisa membuatmu menjadi utuh kecuali Tuhan sendiri.
Now, dua tahun berlalu sejak peristiwa perpisahan dengan seseorang yang tragis wkwkwkw. Aku mendapati diriku masih bisa berdiri tegak, tersenyum lebar menghadapi hari demi hari meskipun sejak saat itu sampai hari ini masih diijinkan Tuhan menjadi seorang perempuan single :p.-aku tetap bersyukur untuk masa ini. Tuhan Yesus yang begitu mencintaiku mengubah masa laluku untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan di masa depanku, dan aku mengecap itu sekarang. Seseorang yang dulunya ngeyel itu sekarang berbalik mensyukuri keputusan Tuhan yang telah membuatnya harus berpisah dengan seseorang. Proses pemulihan itu menyakitkan, merasa kesepian itu aku tahu sekali rasanya tidak mengenakkan namun aku bersyukur karena Tuhan mendampingiku melewati masa itu . Selalu ada yang bisa dipelajari dari kesalahan masa lalu. Sekarang sih Puji Tuhan udah melewati masa menyakitkan itu, sudah dipulihkan dari luka hati dan kepahitan terhadap seseorang yang terpenting tidak lagi merasakan kesepian dan kekosongan hidup seperti dulu karena Tuhan telah menjadi bagian hidupku ^^

Oh ku tak sendiri, pancaran sinar mentari menemani tiada henti.
Oh dan tak kusesali Tlah kulupakan dirimu. tak mengapa, aku melangkah sendiri dapat ku jalani
#(yang nggak mungkin sendiri tanpa Tuhan) Heheee…


“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Roma 8 :28)

Jumat, 08 Maret 2013

Percayalah!!


Percayalah segalanya akan tetap baik-baik saja…
Percayalah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaNya yang gagal (Ayub 42 : 2)
Meskipun lagi-lagi engkau mendapati sebuah hasil yang semu—fatamorgana—dan itu menyakitkan. Sekali lagi kau mengira jalan menuju penggenapan telah terbuka  namun ternyata engkau mendapati perkiraanmu salah kaprah percayalah ini adalah bagian dari sebuah proses dimana Tuhan mempersiapkanmu sebelum engkau menerima apa yang telah DIA janjikan sejak dua tahun lalu. Setiap kerikil, dan bebatuan yang menyakitkan…setiap lorong gelap nan panjang pasti akan ada ujungnya.
Ingatlah pada Abraham yang menantikan janji Tuhan dengan sabar , yang imannya tidak menjadi lemah meskipun dia tidak memiliki dasar apapun untuk berharap sehingga dia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.
Belajarlah pada Yusuf yang meskipun dia harus menjadi budak, difitnah sehingga dimasukkan ke penjara dia tetap setia pada Tuhan sampai mimpi yang pernah Tuhan berikan kepadanya terwujud.
Tuhan akan bertindak…Tuhan PASTI bertindak dengan caraNya, bukan caramu.
Mungkin semua ini membuatmu menangis,hampir menyerah dalam kekalahan..aku mohon tetaplah bertahan meski dengan sisa kekuatanmu. Nantikanlah Tuhan, tetap ikutilah segala jalanNya apapun yang terjadi. Terus perkatakan janjiNya dan biarkan janji itu dihidupi dalam kehidupanmu.
Saat kemenangan PASTI tiba….
Suatu hari engkau pasti bisa berkata seperti yang Rasul Paulus katakan:
“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15 : 57)

(Tidak, aku tidak sedang menasehati seseorang…aku sedang berkata-kata kepada diriku sendiri)

Kamis, 28 Februari 2013

28 Hari di Februari


Ternyata bulan Februari sudah akan berakhir dalam beberapa jam ke depan. Waktu terasa semakin cepat berlalu. Februari yang penuh dengan kejutan, kesibukan, perjuangan.
1.     Aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan mencicipi  hal baru. Yup, di postingan sebelumnya aku ada menyinggung soal kegiatan berjualan kecil-kecilan di area NBL. Disanalah Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang baru yang menurutku kreatif dan positif, dan setelah ketemu terus menerus selama sepuluh hari  akupun tertular sikap positif dan kreatif mereka. Buktinya setelah  bertemu dengan mereka jugalah akhirnya kepikiran untuk berani melakukan sesuatu yang lebih agar mampu mencapai titik pencapaian yang lebih lagi, sekarang sih masih dalam taraf perencanaan dan didoakan.
2.       Bulan ini aku sedang berjuang keras untuk tetap fokus pada Tuhan terutama setelah Tuhan memberikan jawaban TIDAK untuk sesuatu yang aku doakan. Ku akui waktu Teduh ku berantakan, baca Alkitab jadi banyak bolongnya, doa juga sekenanya. Jauh dalam hatiku lega namun sekaligus blank karena nggak mengerti sama sekali apa yang sebenarnya mau Tuhan lakukan dalam hidupku. Merasa nggak disayang Tuhan merasa nggak berarti sama sekali, merasa diperlakukan nggak adil sama Tuhan but thanks to God yang udah mengingatkanku lewat FirmanNya di Roma 8 : 38-39
“ Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas , maupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Dan ayat ini membuatku jauh lebih tenang.
3.        Kejutan bulan ini adalah bisa beli buku baru, ada 7 buku baru 5 diantaranya beli setelah ada diskon besar dari penerbit HEhehee dan 1 yang minjem.. tapi faktanya baru  1 yang selesai di baca yaitu Chosen (Terpilih) karangan Ginger Garrett. Ini novel yang menceritakan tentang isi buku harian Ratu Ester yang dikisahkan dalam Alkitab. Pasti udah pada tahu yah cerita Ester yang akhirnya menggantikan Wasti menjadi ratu, dan bagaimana dia menyelamatkan bangsanya. Novel ini setidaknya bisa menjadi gambaran yang mendekati sebenarnya tentang kehidupan Ester pada masa itu (harusnya bikin postingan sendiri tentang novel ini). ^^
4.       Salah seorang teman baikku akan menikah dalam beberapa bulan ke depan, yang seorang lagi akhirnya dekat (atau mungkin sudah berpacaran) dengan seseorang—nggak tahu pasti karena sebatas dengar dari saudaranya yang tinggal dekat kantorku, yang satu lagi akhrinya hamil. Banyak kabar bahagia datang dan aku berbahagia untuk mereka semua. Ahh bukankah ini semua masalah waktu?pasangan hidup yang terbaik dari Tuhan tetap layak untuk dinantikan, dan aku sangat mempercayai itu. So, aku ingin menikmati setiap detik yang berharga ini dengan bersungguh-sungguh sebelum datang fase yang selanjutnya. Hahay.

So, kesimpulannya Februari terlewati dengan baik bersama Tuhan Yesus tentunya…dan Selamat Datang Maret..aku menyambutmu ^^. Hari yang baru, bulan baru, semoga aku bisa memperbaiki waktu pribadiku dengan Tuhan dan lebih konsisten menjalaninya. Semoga bisnis hasil kerja bareng beberapa orang ini akan terealisasi pada waktuNya Tuhan.  Aku mau terus berjalan bersama Tuhan.
Terima kasih untuk hidup yang sudah Tuhan berikan kepadaku, its not about me but Jesus.
“Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Mazmur 16:2)

Jumat, 22 Februari 2013

Diingatkan Lewat Hal Kecil


Baru malam ini (tulisan ini dibuat kemaren malam tapi baru sempat diposting hari ini) bisa duduk tenang di dalam kamar dan menyalakan laptop. Ada beberapa hal yang pengen ditulis sejak berhari-hari lalu tapi terus menerus ditunda karena sibuk :p..sementara ini dulu deh yang ditulis, yang paling baru.  Jadi ceritanya, sejak hari Sabtu yang lalu tiap menjelang sore ikutan bantu-bantu saudara jualan di area NBL seri tiga yang kebetulan berlangsung di GOR BIMASAKTI Malang. Begitu pulang kerja langsung makan, mandi, nyiapain beberapa barang terus berangkat ke sana dan walaupun gak jaga full sampai malam karena gantian sama adhek tetep terasa juga capeknya :p. Yah selama aku masih single aku mau memanfaatkan setiap waktu yang aku  miliki semaksimal mungkin, karena ntar suatu waktu hal-hal seperti ini nggak bisa dilakukan lagi. Lumayan’lah ikutan kegiatan seperti ini bisa nambah pengalaman dan teman baru, bisa sharing-sharing juga, belajar mengerti kemauan konsumen itu seperti apa. Belajar menghargai pekerjaan pula, karena kegiatan seperti ini bertolak belakang dengan pekerjaan yang selama ini aku jalani. Kalau ditempat kerjaku yang resmi aku lebih berharap banyak orang itu sehat sehingga nggak perlu datang ke pusat pelayanan kesehatan, istilahnya memperingan pekerjaanku sehari-hari namun di kegiatan seperti ini justru sebaliknya, aku berharap banyak orang datang untuk membeli supaya daganganku laku :p :p. Nah, hari ini karena merasa ada tanda-tanda hujan akan turun aku memutuskan untuk bergegas pulang padahal jam enam sore belum genap. Aku agak-agak tidak berani membawa motor di malam hari, apalagi jika sampai hujan turun di malam hari T_T. Keluar dari area parkir hujan sudah turun, sampai di jalan raya intensitasnya bertambah. Aku berdoa, “Tuhan, tolong kalau bisa jangan hujan dulu ya paling nggak sampai aku dirumah.” . Butir-butir air tetap turun. Aku doa lagi, “Tuhan, kalo harus hujan ya udah nggak apa-apa aku percaya Tuhan pasti menjagaku sampai dirumah. Amin.” . Lirik kanan kiri beberapa orang sudah menepi dan menggunakan jas hujannya, tapi aku memutuskan jalan terus..baru nanti jika hujan benar-benar deras aku akan memakai  jas hujan. Eeehhh ternyata beberapa meter berikutnya butir-butir air tidak lagi berjatuhan. Yeay tidak jadi hujan. Thanks Lord.
Lantas aku teringat ke 5 hari sebelumnya,.
Hari pertama berangkat pas cuaca sedang panas-panasnya tapi hujan begitu nyampai tempat tujuan. Hujan yang cukup deras, namun pas jam tujuh malam pulang ternyata reda.
Hari kedua, pas waktunya berangkat pas waktunya hujan reda (lagi)
Hari ketiga, berangkat dibonceng dan pulang naek angkutan umum karena saudaraku ada kuliah sore.Tidak hujan.
Hari keempat, di kantor hujan tapi ajaibnya begitu nyampek Malang hanya ada sisa-sisa hujan, dan sukses pulang pergi ke stan tanpa kehujanan.
Hari kelima, berangkat dari rumah gerimis tapi lagi-lagi tidak berubah menjadi deras, malahan langit berubah cerah.
Sepertinya hujan atau tidak hujan adalah persoalan remeh temeh, bukankah hanya sebuah kebetulan belaka jika kemudian hujan tidak jadi turun? tapi apakah bisa disebut sebagai sebuah kebetulan jika itu terjadi sampai enam kali?. Aku rasa tidak. Aku tahu dan percaya hanya TUHAN yang mampu melakukan ini semua. WOW…aku sempat berkaca-kaca selama beberapa detik. Terharu karena beneran merasa diperlakukan spesial oleh Tuhan, lewat hal sesederhana ini Tuhan menunjukkan kasih setiaNya yang begitu besar. Tuhan tahu ketakutanku bawa motor di malam hari, Tuhan tahu hujan membuat jarak pandang berkurang apalagi di malam hari sementara aku berkacamata, jika hujan harus menutup kaca helm agar air tidak mengenai kacamataku. Tuhan tahu dan peduli akan itu semua sehingga DIA melakukan semua ini untukku. Tuhan begitu mengasihiku sehingga DIA  mengingatkanku lewat momen-momen berharga ini untuk tetap memandang padaNya dan bergantung sepenuh hati alias nggak setengah-setengah.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!" (Mazmur 34 : 9)


Jumat, 15 Februari 2013

Ini Ceritaku....


Happy Valentine Day.. (udah lewat sehari sih)
14 Februari….
Aku pulang dengan dua batang coklat di dalam tas, yang agak-agak melumer karena terkena terik matahari di sepanjang perjalanan pulang dari kantor. Dapat darimana?dari siapa?. Dapat dari seorang teman yang berjualan coklat dengan sejumlah uang alias beli dan bukan untuk acara tukar-tukaran coklat di hari valentine tapi untuk si adhek pemilik blog ini rosikangagelinaa yang baru saja merayakan ulang tahunnya.
Tahun kemaren di tanggal yang sama aku melihat banyak penjual bunga berjajar di sepanjang jalan terutama di dekat mall, tahun ini hanya melihat sekitar empat sampai lima penjual saja. Di salah satu penjual bunga itu ada yang membawa bunga mawar  orange dan membuatku agak-agak menginginkannya…tapi sudah pasti harganya meroket.
Malam sebelum 14 Februari ada sebuah sms yang masuk dan sekedar aku lihat lalu dibiarkan begitu saja tanpa niat membalasnya.
“Kenapa nggak dibalas?” tanya Tuhan
“ Males. Paling juga basa-basi supaya dia ada temen ngobrol dan nggak kesepian.”
“ Gimana kalau penting? ada yang harus diceritakan?”
“ Halah paling juga cerita itu-itu aja sama sekali nggak ada manfaatnya untuk aku. Yang kemaren dulu juga diheboh-hebohkan ujung-ujungnya sepele.”
Lalu aku pergi tidur dengan cueknya.
Pas bangun tadi pagi, Tuhan langsung nanya sekali lagi padaku…
“Jadi beneran nggak mau membalas smsnya?”
Aku menggeleng kepala dengan keyakinan teguh.
“Itukah caramu mengasihi, Nak?”
Aku terdiam. Seperti di”tampar” keras banget sama Tuhan di pagi buta.
Beberapa hal telah membuat kepekaanku terhadap seseorang berkurang sementara sikap acuh tak acuhku meningkat drastis..dan aku menjadikan faktor-faktor tersebut sebagai bentuk pembelaan diriku dihadapan Tuhan namun pertanyaan terakhir yang diajukan Tuhan benar-benar membuatku terdiam. Inikah caraku mengasihi sesamaku? sementara di atas sana Tuhan setiap hari rela mendengar setiap curahan hati anak-anakNya, menampung tangis, mendengar teriak kekecewaan, nada kemarahan tanpa memilih mana curhatan yang penting dan tidak bahkan sampai rela mati di atas kayu salib ganti dosa kita…aku-anakNya yang dipercayakan untuk mendengar satu atau dua orang bersikap seperti orang yang tidak mengenal kasih?. Sebuah tamparan keras di pagi buta, memberiku sebuah kesadaran yang seharusnya…bukankah aku ada untuk memancarkan kasihNya untuk sekitarku, untuk duniaku, untuk dunia mereka yang membutuhkan agar Kristus menjadi semakin nyata.

“ Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Korintus 13:2)
Selamat memberi,.selamat membagi sejuta kasih sayang yang ada.

Jumat, 08 Februari 2013

Maaf

Maaf untuk kata T.I.D.A.K yang harus kusampaikan,

maaf karena setelah sekian lama tidak membuatku berubah pikiran dan berubah keputusan. bukankah semua sudah jelas dari awal?aku tidak pernah menggantungkan apapun di antara jutaan waktu yang telah berlalu. Sama sekali tidak..meski demikian aku tetap meminta maaf atas semuanya itu.
Mungkin bagimu, bagi mereka, dan bagi orang lain ini adalah sebuah pernyataan sikap yang tidak wajar, tentang bagaimana seseorang mengambil resiko dari sebuah pilihan, mengapa menolak sebuah tawaran "terbaik" yang bisa dunia berikan demi sesuatu tidak  berwujud-tak kasat mata yang terus aku hidupi menggunakan IMAN.
Sekali lagi aku katakan Maaf..pasti mengecewakan namun inilah kenyataan.




Selasa, 08 Januari 2013

.........


Semua masih sama seperti ketika aku memulainya...masih berselimutkan tanda tanya.
Terkadang ingin berhenti disini, menyerah karena rasa lelah
Terkadang ingin membiarkan semua hilang begitu saja tanpa perlu dinantikan dan diperjuangkan dalam doa lagi.
 Terkadang berharap ada satu langkah yang membawa kemajuan, ada setitik cahaya terang yang memberi isyarat dan kepastian.
Entahlah...
Untuk saat ini Tuhan hanya diam..tidak memberi arahan...tidak memberi jawaban.
Hening.
Rupanya aku masih harus menunggu sekali lagi ^^


“ Tetapi hendaklah engkau berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Timotius 3 : 14)
“ Ia menentukan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Ia memberi kita keinginan untuk mengetahui hari depan, tetapi kita tak sanggup mengerti perbuatan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3 : 11—BIS)

Jumat, 04 Januari 2013

Mengantri = Menunggu


Bulan kemaren di suatu pagi menjelang siang, bersama seorang teman aku sedang menunggu giliran untuk mengambil berkas. Kalau tidak salah aku ada di urutan kedua atau ketiga sehingga kira-kira harus menunggu selama 30 menit untuk sampai ke giliran kami. Selang berapa lama, seorang bapak keluar dari ruangan kantor lalu menghampiri si mas yang sedang sama mengantrinya denganku. Nah ternyata si mas tadi meminta tolong kepada si bapak yang memang berkantor disitu untuk mendahulukan berkas miliknya, jadilah dalam waktu tak lebih dari 30 menit berkas sudah ada di tangan sementara aku yang mengantri lebih dulu harus lebih lama duduk di ruang tunggu.
Kejadian seperti itu sudah terlalu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, kadang aku berada dalam posisi menjadi orang yang merasa diperlakukan tidak adil karena orang-orang lain yang memanfaatkan koneksi atau pertemanan mereka untuk memuluskan kepentingan mereka sendiri dan mengabaikan orang lain yang memiliki kepentingan sama. Kadang juga berada di posisi menjadi orang yang “dimintai” tolong, ingin menolak namun tidak mampu.
Di sisa waktu menunggu mengambil berkas, meskipun kemudian menjadi agak dongkol karena kejadian si mas yang faktanya bisa mendapatkan berkasnya tanpa mengantri lama aku mulai memikirkan kegiatan antri mengantri itu. Seandainya saja orang pertama dalam antrian membutuhkan waktu 10 menit untuk mendapatkan berkasnya, maka aku sebagai orang kedua akan membutuhkan waktu lagi 10 menit lebih lama dari orang pertama atau kira-kira totalnya 20 menit. Nah berhubung si mas yang ada di antrian keempat atau kelima tadi memanfaatkan koneksinya maka dia sudah membuat orang pertama menunggu bukan hanya menunggu 10 menit saja, bisa jadi 10 menit + 10 menit lagi, demikian seterusnya.  Nah, pernahkan terpikirkan terkadang cara seperti itu merugikan orang lain? bagaimana seadainya karena seseorang yang memotong antrian seorang yang lain harus menunggu 10 menit lebih lama lalu orang tersebut terhambat perjalanannya dan ketinggalan kereta atau pesawat. Bukankah itu merugikan?
Kejadian antri mengantri itu hampir mirip dengan apa yang terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak Tuhan, termasuk aku ^^. Ada beberapa hal yang mengharuskan kita ada dalam status menunggu. Sepertinya Tuhan menjanjikan sesuatu dan kita begitu bersemangat di awal tetapi semakin ditunggu semakin tidak ada yang terjadi, semakin membosankan dan lama. Dalam hati kita mulai memikir-mikirkan cara bagaimana agar apa yang Tuhan janjikan segera terjadi (bukan terjadi pada waktunya Tuhan melainkan dalam waktu yang kita inginkan). Kita mulai mencoba melakukan A, melakukan B tanpa konsultasi ke Tuhan atau parahnya melakukan A, B dengan analisa-analisa pribadi. Jika aku melakukan A maka akan terbuka jalan yang seperti ini..ini..dan ini. Begitu kita sudah melakukan A, ehh ternyata hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka akan kecewalah kita dan menyalah-nyalahkan Tuhan, mempertanyakan mengapa DIA tidak mengarahkan kita (padahal  kita sendiri tidak berkonsultasi dengan Tuhan dari awal). Atau sesuatu kemudian terjadi tetapi tidak mendatangkan berkat pada kita karena kita mendahului waktu Tuhan. Sebagai contoh Kisah Raja Saul dalam 1 Samuel 13 : 1-14, Raja Saul tidak sabar menunggu kedatangan Samuel sehingga ia mempersembahkan korban bakaran sendiri. Akibat dari perbuatannya kerajaan yang semestinya akan dikokohkan Tuhan untuk selamanya tidak terjadi.
Jika dari hal  kecil seperti ketidaksabaran dalam mengantri saja bisa merugikan untuk orang lain, apalagi untuk ketidaksabaran kita akan hal-hal besar dalam kehidupan kita. So, apapun yang sedang kalian hadapi saat ini dan apa janji Tuhan yang sedang kita tunggu dalm kehidupan kita masing-masing, marilah kita terus menantikannya dengan kesabaran, dengan tidak berusaha membuka-buka jalan dengan cara kita sendiri seolah kita sedang mendikte Tuhan untuk membuat alur kehidpan kita berjalan seperti yang kita mau. Lewat kesabaran kita sebenarnya bukan hanya belajar untuk mempercayakan sepenuhnya kehidupan kita ke tangan Tuhan, namun juga belajar untuk setia kepada Tuhan lewat perkara-perkara kecil, belajar menikmati setiap proses. Jika untuk hal kecil saja kita tidak sabar, lalu membuat kita terbiasa mengambil jalan pintas bagaimana dengan generasi berikutnya yang Tuhan titipkan kepada kita (entah itu adik, anak, saudara dll) mereka melihat kita dan menjadikan kita panutan. Apakah kita mau generasi yang Tuhan titipkan menjadi generasi “serba instan”?


Sabtu, 29 Desember 2012

Bongkar-bongkar File Lama :1


Kemaren berhubung masih dalam rangka menghabiskan jatah cuti dan berhubung mulai bingung karena tidak ada kesibukan yang berarti akhirnya iseng membongkar kardus yang sebenarnya sudah di pak rapi. Dan ketemulah beberapa buku-buku lama semacam diary begitu ^^, ada juga notes hadiah dari produk obat-obatan yang hampir penuh dengan cerpen tanpa ujung cerita yang jelas (begitulah dulu sewaktu masih kerja di tempat lama, sebelum dipromosikan Tuhan untuk masuk ke pekerjaan yang sekarang aku punya banyak waktu luang untuk menulis di jam kerja. Bukan karena aku nggak serius kerja tapi karena nggak ada hal yang harus dilakukan selain menunggu pembeli datang :p).
Dan waktu membolak-balik salah satu notes, ketemulah dengan tulisan yang ini. Lupa kapan membuatnya karena nggak diberi tanggal tapi melihat dari tulisan sebelumnya sih sekitar akhir tahun 2007 atau awal 2008-an.

-----
Di Sebuah Persimpangan

Aku seperti berada pada satu persimpangan jalan, dan tidak tahu kemana harus menentukan langkah.

Aku ingin memutar balik waktu berharap tidak perlu memberi label “masa lalu” pada satu fase kehidupan yang baru saja aku tinggalkan. Aku ingin kembali ke sana namun terlambat, karena pintu menuju kesana telah tertutup dan memang tidak ada jalan masuk kembali ketika kita telah keluar melewatinya.

Dengan ragu aku mencoba menengok pada jalan yang mengarah ke kanan, sepertinya jalan yang nyaman untuk dilewati. Dari jauh sayup terdengar suara tawa yang tidak henti, namun lama kelamaan berubah seperti suara orang yang meracau tak jelas membuatku mengurungkan niat untuk memilih jalan ini.

Aku berpikir mungkin jalan yang mengarah kiri lebih baik, ada jalan setapak yang mudah dilalui untuk sampai kesana. Ah apa itu, rupanya banyak orang yang masuk kesana akan dibuat terbang dengan sayap warna-warni dan seolah tidak pernah ada yang terjatuh. Aku mulai tergiur, membayangkan bagaimana rasanya terbang dengan sayap berwarna-warni. Namun aku menyadari ada yang janggal disitu, jalan ini penuh kebisuan, semua asyik dengan sayap masing-masing tanpa peduli mengenai keberadaanmu.  Jadi akupun batal melewati setapak ini.

Satu-satunya yang tersisa adalah jalan yang membentang dihadapanku. Menatapnya saja aku enggan, tidak ada tawa disana, namun juga bukan jalan penuh kebisuan. Aku melihat setapak berbatu, melihat bukit terjal,memang ada taman indah di seberang sana jauh dan amat sulit dijangkau. Hatiku miris, bisakah aku melewatinya?”

“Jangan takut, aku akan menemani perjalananmu.”  ada suara hangat penuh wibawa menyambutku.

“ Mari!” ajakNya sambil mengulurkan tangan untuk menggandengku. Aku ragu, hatiku menimbang-nimbang keputusan apa yang hendak aku buat.

“Ku beritahu padamu, nak! Jalan ini memang tidak mudah, namun percayalah padaKu,AKU akan membimbing langkahmu.”

Tanpa pikir panjang aku menyambut uluran tanganNya. Aku tidak ingin membuang waktu untuk memulai perjalanan yang baru lagi, dan untuk kali ini aku yakin tidak salah menentukan arah. Aku bersama seorang yang TEPAT.

------

Tulisan di atas nggak 100% sama dengan yang ada di notesku, ada beberapa bagian yang kemudian aku edit karena kata-katanya kurang pas. Tulisan itu berhubungan dengan sebuah peristiwa tragis yang menimpa hidupku empat tahun lalu (hahaa terlalu dramatis), dan hampir pasti tidak jauh dari masalah hati juga namun berbeda kisah dengan pemulihan hati yang aku sebut di postingan sebelumnya. Sempat tawar menawar dengan Tuhan tentang keputusan yang harus dibuat, pengennya nggak ada kisah sedih, pengennya kisah itu aja, pengennya kisah seperti di kisah-kisah dogeng yang berakhir dengan kalimat akhirnya mereka hidup berbahagia selamanya. Jalan ke kanan atau ke kiri itu adalah ide-ide “setengah gila” yang menurut pikiran manusia adalah jalan keluar terbaik,untungnya tidak pernah aku laksanakan beneran karena aku akhirnya memutuskan untuk berjalan di jalan yang Tuhan pilihkan. Sekarang, empat tahun sudah berlalu..dan aku sama sekali tidak melihat ada kerugian apapun karena keputusanku untuk memilih jalan yang Tuhan tawarkan. Aku justru melihat kebaikan demi kebaikan, bahkan anugrah yang luar biasa.
Seandainya aku hari itu nggak menyambut uluran tangan Tuhan, apa jadinya ya?
Mungkin aku nggak akan pernah dipromosikan Tuhan untuk mendapatkan pekerjaan sebaik hari ini.
Mungkin aku nggak bisa melihat orang tuaku bahagia seperti sekarang karena aku aka nada nan jauh di luar pulau jawa sono.
Mungkin aku nggak akan berani naik sepeda motor hahaa..
1 Keputusan yang dibuat empat tahun lalu ternyata berdampak sampai hari ini...

“ Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 25:33)


2012


Tahun 2012 akan segera berakhir dalam hitungan hari. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu,.dan aku amat sangat bersyukur untuk satu tahun yang begitu luar biasa bersama Tuhan Yesus. Tema besar di tahun 2012 ini bagiku secara pribadi adalah pemulihan hati, dan karena itu sedikit surprise juga kalau ternyata di akhir tahun ini kehidupanku malah jauh lebih baik dari sebelumnya. Di awal tahun aku sempat kepikiran mungkin tahun 2012 ini akan menjadi tahun yang amat berat, akan banyak kegalauan dan ber-mellow mellow ria, namun ternyata kekuatiranku itu sama sekali tidak 100% benar. Memang di awal tahun keadaan masih kacau balau, sangat parah bahkan. Berjuang untuk pemulihan hati itu bukan hal yang mudah, ada banyak luka disana sini, kepahitan, kekecewaan karena melihat mimpi-mimpi yang sudah setengah jadi hancur berantakan itu menyakitkan. Namun perlahan tapi pasti Tuhan menyembuhkan hatiku, Tuhan memberi penghiburan dengan luar biasa, menemaniku di malam-malam penuh air mata.  Hari demi hari berlalu, berganti bulan sampai kemudian setengah tahun berlalu dan tiba-tiba saja aku menyadari bahwa hatiku tidak lagi sesakit dahulu, dan ketika aku tanpa sengaja menoleh ke belakang pada semua peristiwa menyakitkan yang ku alami aku tidak lagi memandang peristiwa itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. Aku justru amat sangat bersyukur sekarang karena Tuhan mengijinkan itu semua terjadi, dan aku tahu itu karena DIA begitu mengasihiku. Bisa tersenyum lebar ketika menoleh ke masa lalu itu merupakan hal terbaik yang sudah Tuhan berikan di tahun ini, hatiku juga sudah memberi pengampunan untuk orang-orang yang telah memberi banyak luka di masa lalu, sebab dengan bertemu mereka aku belajar bahwa  tidak ada apapun di dunia ini (teman, sahabat, pasangan hidup, atau hal lain) yang mampu mengisi kekosongan dalam hati kita terdalam, kekosongan itu hanya bisa di isi oleh Tuhan.
Tahun 2012 juga merupakan tahun aku menanti janji Tuhan atas hidupku digenapi, namun sekali lagi waktu Tuhan bukan waktuku, dan aku tidak bisa melangkahi itu. Sepertinya harus bersabar sedikit lebih lama sambil terus menguatkan kepercayaan kepada Tuhan. Nah masa menanti janji Tuhan ini juga gak mudah, prosesnya bercampur menjadi satu dengan proses pemulihan hati sehingga kadang perlu lebih dari sekedar mampu untuk bertahan dan berjuang. Sempat salah mengartikan janji Tuhan (yah aku masih manusia biasa nggak mungkin selalu benar juga), yang dimaksud Tuhan dalam keseluruhan janji itu adalah A sedangkan aku mengartikannya setengah A setengah B..untungnya pemikiranku sudah diluruskan dan dibenarkan oleh Tuhan. Thanks God ^^.
Satu lagi yang begitu aku syukuri tahun ini adalah kenyataan bahwa aku masih bisa merayakan  Natal bersama-sama dengan keluarga yang masih lengkap plus dengan “hati” yang diperbaharui. Bukankah ini juga membahagiakan?hehee…
And now, aku bersiap untuk level kehidupan berikutnya yang Tuhan sediakan. bersiap untuk menerima berkat dan menjadi saluran berkatNya. Bersiap untuk menerima penggenapan janji Tuhan (siapa yang tahu mungkin tahun depan waktuNya). Aku siap, Tuhan! ^^
Nb. Selamat Natal semuanyaa…
Kasih Setia Tuhan senantiasa melingkupi kehidupan kita (Amin)


Kamis, 13 Desember 2012

Desember oh Desember ^.^


Tidak terasa sudah di pertengahan bulan Desember, di penghujung tahun 2012. Waktu berjalan begitu cepat, sepertinya baru beberapa waktu lalu merayakan natal dan meniup terompet tahun baru  dan sekarang sudah penghujung tahun lagi.
Hujan sepertinya menjadi “teman akrab” sehari-harinya, tiada hari tanpa hujan. Tiada acara pulang kerja tanpa berbasah-basahan. Thanks God, karena penyertaanNya yang sempurna di sepanjang perjalanan setiap harinya.
Hari-hari di bulan Desember juga senantiasa menjadi hari penuh kesibukan kerja. Beberapa hal harus benar-benar selesai minggu ini, sisanya harus selesai di akhir minggu depan sebelum natal  dan sebelum cuti dimulai sehingga tidak ada pekerjaan kantor yang dijadikan PR selama cuti nanti.
Semakin mendekati pergantian tahun, ada kekuatiran muncul berhubungan dengan pekerjaan. Sebuah sistem yang baru sedang menjadi wacana, dan apabila sistem ini terlaksana maka jam kerjapun akan berubah dan itu yang menjadi kekuatiran tersendiri untukku. Bagaimana jika harus ada shift siang atau malam?bagaimana jika harus pulang paling cepat pukul delapan malam membawa  motor sendirian mengingat jarak antara kantor dan rumah cukup jauh,sekitar 24 km dengan kondisi jalanan yang tidak cukup ramai kecuali di akhir pekan? Bagaimana jika hujan? Bagaimana dengan keamanan di jalan? Sejujurnya itu membuatku cukup takut. Tuhan, bagaimana ini?. Memang, dalam hati sudah mulai memikirkan alternatif cara untuk mengatasi keadaan namun tetap kekuatiran tidak bisa seketika lenyap. Kekuatiran yang kecil itu kemudian berkembang menjadi semakin besar, dan membuatku justru semakin lemah. Merasa tidak akan sanggup, merasa tidak mampu, merasa tidak mempunyai kekuatan untuk mengatasi keadaan itu. Untuk sebagian besar orang mungkin bukan masalah besar harus pulang pergi di malam hari dengan naik motor, namun untukku yang tidak cukup berani membawa motor di malam hari itu masalah mengkhawatirkan. Meskipun tiga tahun lalu di awal bekerja pernah menjalani hari-hari pulang malam dengan mengendarai motor sendirian, akan tetapi entah karena tidak lagi terbiasa aku merasa tidak seberani dulu untuk mengambil resiko.  Lalu Tuhan mengingatkanku lewat sebuah ayat,
“ Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.” (2 Timotius 2 : 1).
Ayat ini seakan menyadarkanku dari ketakutan dan kekuatiran yang terlanjur menggunung. Jika dulu saja aku bisa mengapa nanti tidak bisa, jika dulu Tuhan menjagaiku dengan amat sangat baik, apakah sekarang tiba-tiba aku meragukan penyertaanNya?
Tuhan mau aku menjadi kuat bukan menjadi seorang yang lemah yang sedikit-sedikit mengeluh dan merasa tidak mampu,yang mandiri dan bisa melakukan banyak hal sekalipun seorang diri, karena kasih karuniaNya akan selalu cukup bagiku. Sekalipun belum ada jalan keluar yang pasti untuk hal ini, (toh keputusan akan perubahan sistem itu juga belum dibuat) aku harus tetap percaya pada Tuhan. Jika akhirnya sistem dijalankan lalu harus pulang malam seorang diri, aku percaya Tuhan akan menjaga setiap langkahku dengan cara yang sama seperti Dia menjagaku hari-hari ini, bahkan Tuhan akan menjagaku lebih lagi saat itu. Aku tahu dan tidak perlu kuatir karena penyertaanNya ada dan nyata. Aku harus kuat, aku bisa jika bersamaNya. Bersama Tuhan Yesus. 

...."Jangan takut, percaya saja." (Markus 5 : 36)

Selasa, 27 November 2012

Menanti Natal

Natal sudah di depan mata...
dan mulai merindukan beberapa rutinitas,
ingin segera menghias pohon natal dengan segala macam pernak-perniknya, memasang lampu-lampu mungil beraneka warna.
Menyiapkan kue, permen..memasak beberapa makanan..
Merangkai bunga mawar, krisan dan bunga balon lalu meletakkannya di atas meja.
Memutar lagu natal seharian penuh
Menyalakan lilin dalam gelap sambil menghayati lagu "Malam Kudus"
Dan satu hal lagi (khusus di tahun ini) menunggu surat cuti akan keluar atau tidak? ^^
Akan tetapi yang terpenting di atas semua rutinitas tadi,
Menyiapkan hati agar terus diperbaharui sehingga layak untuk sekali lagi menyambut kedatangan sang Juru Selamat-Tuhan Yesus Kristus.


Selamat mempersiapkan diri menyambut natal!^.^


" Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, bapa yang Kekal, raja Damai."